Unsur Ekstrinsik Karya Sastra dalam Cerita

Unsur Ekstrinsik Karya Sastra dalam Cerita – Siswa mampu mengidentifikasi unsur ekstrinsik karya sastra

Pernahkah kamu tertarik pada kebudayaan suatu masyarakat saat membaca sebuah novel? Atau pernahkah kamu mendapat pengetahuan baru tentang alam semesta saat membaca novel sains fiction? Tanpa harus khusus membaca buku teks, tetapi sudah kita ketahui saat kita membaca sastra?

Pengetahuan-pengetahuan itu disebut sebagai unsur ekstrinsik dalam karya sastra. Apakah perbedaannya dengan unsur intrinsik yang juga kita pelajari dalam sastra? Unsur ekstrinsik merupakan unsur-unsur yang memengaruhi pengarang dalam proses menulis novel, cerpen, drama, bahkan puisi. Dengan kata lain, unsur ekstrinsik bisa diibaratkan dengan pembangunan sebuah rumah. Unsur ekstrinsik lebih berupa kondisi sosial budaya pembangun rumah sehingga memengaruhi model rumah yang dibangunnya.

Unsur-unsur kehidupan pengarang yang termasuk unsur ekstrinsik dipengaruhi oleh hal berikut.
a. Latar belakang penciptaan, berkaitan dengan waktu karya sastra tersebut diciptakan.
Perhatikan kutipan cerita berikut ini.

“Wartawan-wartawan yang baru datang dari segenap penjuru dunia, New York, San Fransisco, dari Abilene kota kecil entah di negara bagian mana di Amerika Serikat, dari London, Inggris, atau dari kota kecil di Abilene akan membelikan minuman untuk wartawan-wartawan yang baru pulang dari medan perang, Mudah saja melihat wartawan mana yang baru pulang dari medan perang, mana yang akan pergi ke medan perang, atau yang tidak ada keinginan sama sekali untuk mengunjungi medan perang, tetapi hanya mengirimkan berita-berita peperangan Korea dari Tokyo saja. Yang baru datang biasanya janggut dan kumis dibiarkan tumbuh, pakaiannya uniform perang, ada yang masih membawa topi besi, tergantung-gantung di bahu.” (Mochtar Lubis, Kumpulan Cerita Pendek Perempuan: 1956)

Mochtar Lubis menulis cerita itu di masa revolusi. Sebagai wartawan, ia menceritakan pengalaman pribadinya bergaul dengan sesama wartawan yang meliput di medan perang. Ceritanya itu menjadi penanda unsur ekstrinsik yang dilatarbelakangi Perang Korea dan tentu saja termasuk kekalahan Jepang dari tentara Sekutu di Indonesia pada masa itu.

b. Kondisi masyarakat pada saat karya sastra diciptakan.
Kondisi masyarakat pada saat karya sastra diciptakan, berkaitan dengan keadaan masyarakat, unsur ekonomi, sosial, budaya, dan politik pada saat karya sastra itu diciptakan. Contohnya kutipan novel Dimsum Terakhir karya Clara Ng di bawah ini menggambarkan nilai budaya sekaligus religi keluarga Tiongkok.

“Meja sembahyang terlihat jelas di ruang keluarga. Abu jatuh dari hio yang sedikit lagi habis terbakar, membuat sebagian meja tampak kotor. Patung Dewi Kwan Im berdiri anggun di sana, diapit dua api yang menyala oleh minyak. Seikat bunga krisan berwarna kuning yang diletakkan di dalam vas tampak sedikit mengering. Di sampingnya, di sanalah abuku berada. Sejuta kenangan berhamburan turun. Tubuhku perlahan memudar. Dan setitik air mata meluncur turun di pipi.” (Clara Ng, Dimsum Terakhir: 2012)

c. Pandangan hidup pengarang atau latar belakang pengarang.
Contohnya pandangan hidup Pramoedya Ananta Toer tersampaikan dengan jelas dalamPerawan Remaja dan Cengkeraman Militer. Perhatikan cuplikannya berikut ini.

“Tentu, bagaimana pun baik yang telah kalian peroleh dari kehidupan ini, masih ada saja yang kalian rasa kurang. Yang berada dalam kekurangan ingin terbebas dari kekurangan itu, ingin mendapatkan kemakmuran yang melimpah. Yang telah berada dalam kecukupan, ingin lebih cukup lagi. Dari perasaan yang kurang itu, dari keinginan mendapatkan yang lebih baik itu, timbullah impian. Dan impian itu bisa menjadi padat, menjadi cita-cita. Dan cita-cita itu menjadi pola yang menjadi dasar dan petunjuk dari perbuatan.” (Pramoedya Ananta Toer, Perawan Remaja dan Cengkeraman Militer: 2011)

Latar belakang pengarang berbeda satu sama lain. Pengarang yang berasal dari tanah Jawa tentu gaya bertutur atau pilihan tema ceritanya akan berbeda dengan tema atau gaya bertutur pengarang yang berasal dari tanah Melayu.

Ketiga unsur itu kemudian diuraikan lagi menjadi nilai-nilai ekstrinsik yang terkandung dalam cerita. Nilai-nilai itu berupa nilai sosial, nilai budaya, nilai politik, nilai agama, nilai ekonomi, nilai pendidikan, nilai sejarah, dan sebagainya.

Poin Penting

Unsur ekstrinsik karya sastra terbagi dalam nilai-nilai berikut ini.
1. Nilai sosial berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat.
2. Nilai budaya berhubungan dengan adat istiadat atau kebiasaan suatu kelompok masyarakat.
3. Nilai agama berhubungan dengan ketuhanan.
4. Nilai moral berhubungan dengan perilaku baik atau buruk.
5. Nilai politik berhubungan dengan nafsu menguasai orang lain.
6. Nilai ekonomi berhubungan dengan cara manusia memenuhi kebutuhan hidupnya.

Unsur Ekstrinsik Karya Sastra dalam Cerita | lookadmin | 4.5