Titrasi Asam Basa

Advertisement

Titrasi Asam Basa – Dalam ilmu kimia, ada banyak sekali cara menentukan konsentrasi suatu zat. Akan tetapi, khusus untuk zat dalam bentuk larutan, umumnya digunakan metode titrasi. Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan konsentrasi suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Bagaimana caranya? Yuk temukan jawabannya pada topik ini.

        Reaksi penetralan asam basa dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi berbagai jenis larutan. Konsentrasi larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa yang telah diketahui konsentrasinya atau sebaliknya. Proses penetapan konsentrasi larutan dengan cara ini disebut titrasi asam basa.

        Selain titrasi asam basa, ada juga jenis titrasi lainnya. Jenis titrasi ditentukan dari reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi. Titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi disebut titrasi redoks, titrasi yang melibatkan pembentukan reaksi kompleks disebut titrasi kompleksometri, dan lain sebagainya. Dalam titrasi, zat yang akan ditentukan konsentrasinya disebut sebagai “titran”, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai “titer”. “Titran” biasanya diletakkan di dalam erlenmeyer, sedangkan titer biasanya diletakkan di dalam buret. Baik titer maupun titran berupa suatu larutan.

        Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam titrasi, yaitu:

a. Titik ekuivalen

Titik ekuivalen adalah suatu titik saat jumlah mol [H⁺] sama dengan jumlah mol [OH⁻]. Dengan kata lain, jumlah asam atau basa yang ditambahkan sama dengan jumlah asam atau basa yang dinetalkan. Titik ekuivalen suatu larutan dapat ditentukan dengan cara berikut.

  1. Memakai pHmeter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan. Kemudian, membuat plot antara pH dengan volume titran untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalen”.
  2. Memakai indikator. Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indikator yang perubahan warnanya dipengaruhi oleh pH, yaitu indikator asam basa. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen telah terjadi. Dengan cara ini, kita tidak bisa menentukan titik ekuivalen secara tepat, karena saat pH indikator menunjukkan perubahan warna, saat itulah titik akhir titrasi terjadi. Oleh karena itu, kita hanya bisa mengetahui titik ekuivalen telah terjadi setelah titik akhir titrasi terjadi.

b. Titik akhir titrasi

Titrasi dilakukan dengan mereaksikan sedikit demi sedikit/tetes demi tetes larutan basa melalui buret ke dalam larutan asam yang terletak dalam labu erlenmeyer atau sebaliknya. Titrasi dihentikan ketika adanya perubahan warna indikator atau yang disebut dengan titik akhir titrasi. Beberapa indikator yang sering digunakan dalam titrasi dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel beberapa jenis indikator yang dapat digunakan pada titrasi asam basa.

        Pemilihan indikator pada proses titrasi bergantung pada jenis titrasi yang akan dilakukan. Indikator yang tepat akan memberikan perubahan warna yang jelas dan mudah di amati, baik dalam suasana asam atau basa. Misalkan titrasi antara asam lemah dan basa kuat. Indikator yang paling tepat adalah indikator pp karena titik ekuivalennya berada di rentang awal pH fenolftalien yaitu 8,3.

        Sebelum melakukan titrasi, kita perlu menyiapkan larutan titrasi asam-basa dengan konsentrasi yang tepat (dalam molaritas). Oleh karena itu, kita perlu memahami perhitungan dan pembuatan larutannya terlebih dahulu.

✩ Contoh

Contoh 1:

Berapa banyak NaOH (Mr = 40) padat yang harus ditimbang untuk membuat larutan NaOH 0,2 M sebanyak 250 ml?

Penyelesaian:

Dari soal, diketahui molaritas (M) 0,2 M dan volume 250 ml atau 0,25 L. Oleh karena yang ditanyakan adalah massa, maka kita perlu menentukan jumlah mol terlebih dahulu yang dapat dihitung dengan rumusan:

M=molVmol=M×V

Mol NaOH = V x M = 0,25L x 0,2 M = 0,05 mol

Setelah mol diketahui, maka massanya adalah:

mol=massaMrmassa=mol×Mr

massa NaOH = n x Mr = 0,05 x 40 = 2 gram

Jadi, banyak NaOH padat yang harus ditimbang untuk membuat larutan NaOH 0,2 M sebanyak 250 ml adalah 2 gram.

Contoh 2:

Tentukan volume H₂SO₄ dengan kadar 95% (massa jenis 1,82 g/ml) yang harus ditambahkan ke dalam air hingga volumenya 400 ml dan konsentrasinya 0,025 M.

Penyelesaian:

Dari soal, diketahui persentase H₂SO₄ 95% dan massa jenis 1,82 g/ml. Volume dan molaritas H₂SO₄ setelah diencerkan (V₂ dan M₂) adalah 400 ml dan 0,025 M.

Ditanya volume awal sebelum diencerkan (V₁).

Mula-mula, kita harus menghitung molaritas awal sebelum H₂SO₄ diencerkan (M₁) dengan cara berikut:

Konsentrasi H₂SO₄ pekat adalah:

M1=10×% massa×ρMr

M1=10×95×1,8298

M1=17,6

Dengan demikian, volume asam sulfat yang dilarutkan adalah:

VM₁ = VM

V1=V2M2M1=400×0,02517,6=0,56 ml.

Jadi, banyaknya H₂SO₄ yang harus ditambahkan adalah 0,56 ml.

Apakah kalian sudah paham dengan topik ini? Agar pemahaman kalian bertambah, yuk kerjakan latihan soal-soal yang ada.

Advertisement
Titrasi Asam Basa | lookadmin | 4.5