Close Klik 2x

Teori Pembentukan Kelompok Sosial

Advertisement

Teori Pembentukan Kelompok Sosial – Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami beberapa teori pembentukan kelompok sosial.

TEORI PEMBENTUKAN KELOMPOK SOSIAL

Para sosiolog dan psikolog sosial mengembangkan beragam teori untuk menjelaskan berbagai aspek dari kelompok sosial, terutama proses terbentuknya. Bagaimanakah terbentuknya kelompok sosial menurut teori-teori tersebut ? Mari simak bahasan berikut.

TEORI PEMBENTUKAN KELOMPOK SOSIAL

Secara teoretis, untuk membahas lebih mendalam mengenai proses pembentukan kelompok sosial, dapat dikemukakan beberapa teori penting :

1) Teori Aktivitas-Interaksi-Sentimen
Teori yang dikemukakan oleh George C. Homans (1910-1989) ini mengemukakan bahwa kelompok terbentuk karena individu-individu melakukan aktivitas bersama secara intensif sehingga memperluas wujud dan cakupan interaksi di antara mereka. Pada akhirnya, akan muncul sentimen (emosi atau perasaan) keterikatan satu sama lain sebagai faktor pembentuk kelompok sosial.

2) Teori Alasan Praktis
Teori alasan praktis (practicalities of group formation) dari H. Joseph Reitz (1985- ) berasumsi bahwa individu bergabung dalam suatu kelompok untuk memenuhi beragam kebutuhan praktis.
Abraham H. Maslow (1908-1970) mengidentifikasi beberapa kebutuhan praktis tersebut, yaitu :
• Kebutuhan-kebutuhan fisik (udara, air, makanan, pakaian).
• Kebutuhan rasa aman.
• Kebutuhan untuk menyayangi dan disayangi.
• Kebutuhan terhadap penghargaan (dari dirinya sendiri dan orang lain).
• Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri (menggali segenap potensi) dan bertumbuh.

3) Teori Hubungan Pribadi
Teori ini disebut juga sebagai teori FIRO-B (Fundamental Interpersonal Relation Orientation Behavior) dan dikemukakan oleh W.C. Schutz (1925-2002). Inti teori FIRO-B ialah bahwa manusia berkelompok untuk memenuhi kebutuhan dasar dalam hubungan antar pribadi, yakni :
• Kebutuhan inklusi, yakni kebutuhan untuk terlibat dan tergabung dalam suatu kelompok.
• Kebutuhan kontrol, yaitu kebutuhan akan arahan, petunjuk, serta pedoman berperilaku dalam kelompok.
• Kebutuhan afeksi, yakni kebutuhan akan kasih sayang dan perhatian dalam kelompok.
Sejalan dengan itu, W.C. Schutz membagi anggota kelompok atas dua tipe, yaitu :
• Tipe yang membutuhkan (wanted), yaitu membutuhkan inklusi (ingin diajak, ingin dilibatkan), membutuhkan kontrol (ingin mendapat arahan, ingin dibimbing), dan membutuhkan afeksi (ingin diperhatikan, ingin disayangi).
• Tipe yang memberi (expressed), yakni memberi inklusi (mengajak, melibatkan orang lain), memberi kontrol (mengarahkan, memimpin, membimbing), dan memberi afeksi (memperhatikan, menyayangi).

4) Teori Identitas Sosial
Teori ini menegaskan bahwa kelompok terbentuk karena adanya sekumpulan orang-orang yang menyadari atau mengetahui adanya satu identitas sosial bersama. Adapun identitas sosial dapat dimaknai sebagai proses yang mengikatkan individu pada kelompoknya dan menyebabkan individu menyadari diri sosial (social self) atau status yang melekat padanya. Kesamaan identitas lantas menjadi faktor pemersatu individu hingga membentuk suatu kelompok sosial.

5) Teori Identitas Kelompok
Teori yang dikembangkan oleh D.L. Horowitz (1939- ) ini mengemukakan bahwa individu-individu dapat mengelompok karena memiliki kesamaan identitas etnis atau suku bangsa. Identitas etnis tersebut, misalnya, mewujud pada ciri fisik (baik bawaan lahir maupun akibat perlakuan tertentu seperti dikhitan), kebiasaan hidup, bahasa, atau ekspresi budaya.

6) Teori Kedekatan (Propinquity)
Teori ini dikemukakan oleh Fred Luthans (1939- ). Asumsi teori propinquity ialah bahwa seseorang berkelompok dengan orang lain disebabkan adanya kedekatan ruang dan daerah (spatial and geographical proximity). Sebagai contoh, seorang pelajar yang duduk berdekatan dengan seorang pelajar lain di kelas akan lebih mudah membentuk kelompok, dibanding dengan pelajar yang berbeda kelas. Dalam suatu kantor, pegawai-pegawai yang bekerja seruangan juga akan mudah mengelompok, dibandingkan pegawai-pegawai yang secara fisik terpisahkan satu sama lain.

7) Teori Keseimbangan
Teori keseimbangan (a balance theory of group formation) dari Theodore M. Newcomb (1903-1984) berasumsi bahwa seseorang tertarik untuk berkelompok dengan orang lain atas dasar adanya kesamaan-kesamaan tertentu, misalnya kesamaan sikap dalam menanggapi suatu obyek (tujuan) maupun kesamaan agama, ideologi, gaya hidup, pekerjaan, status sosial, dan sebagainya.

8) Teori Pembentukan Beralasan
Teori ini dikembangkan oleh Alvin Zander (1917-1981). Intinya ialah bahwa terdapat sejumlah alasan pembentukan kelompok :
Deliberate formation
Kelompok dibentuk berdasarkan pertimbangan tertentu, seperti mendukung pencapaian tujuan. Sebagai contoh, untuk meningkatkan kesejahteraan para petani di suatu desa, dibentuklah kelompok tani yang bercirikan tolong-menolong dan gotong royong.
Spontaneous formation
Kelompok dibentuk secara spontan, tanpa adanya perencanaan terlebih dahulu. Misalnya, siswa-siswi yang mengelompok secara sukarela untuk mengerjakan penugasan dari guru.
External designation
Pembentukan kelompok didasarkan atas hal-hal tertentu yang dapat digunakan sebagai patokan. Contohnya, orang-orang dikelompokkan berdasarkan warna kulit, jenis kelamin, usia, pekerjaan/jabatan, pendidikan, agama, minat, dan sebagainya.

RANGKUMAN

1) Ada beberapa teori yang menjelaskan mengenai pembentukan kelompok, antara lain, teori aktivitas-interaksi-sentimen, teori alasan praktis, teori hubungan pribadi, teori identitas sosial, teori identitas kelompok, teori kedekatan (propinquity), teori keseimbangan, dan teori pembentukan beralasan.

 

Teori Pembentukan Kelompok Sosial | lookadmin | 4.5