Tema dan Ciri-Ciri Puisi Kontemporer

Tema dan Ciri-Ciri Puisi Kontemporer – Siswa mampu mengidentifikasi tema dan ciri-ciri puisi kontemporer.

Saat sedih, kita menangis sambil membuat puisi.
Saat senang, kita membuat kata-kata berbunga-bunga melalui puisi.
Saat marah, kita melampiaskan emosi pakai puisi.
Apalagi ketika mengagumi seseorang, dia menjelma menjadi tema puisi yang menyenangkan.
Namun, kalian tahu tidak? Puisi banyak sekali bentuknya. Khusus topik ini, kita akan membahas puisi kontemporer. Pastinya, jenis puisi ini bisa mewakili perasaan dan emosi kalian. Yuk, kita cermati!

Sekilas Mengenai Definisi Puisi

Puisi adalah salah satu jenis/bentuk karya sastra selain prosa dan drama. Puisi memiliki berbagai macam pengertian. Setiap ahli menyajikan pengertian yang berbeda-beda. Beberapa ahli sastra seperti Panuti Sudjiman dan Abdul Rozak Zaidah mengatakan bahwa puisi adalah ragam bahasa yang terikat rima dengan sistem penyusunan baris dan bait. Akan tetapi, pengertian tersebut hanya berlaku untuk puisi lama/tradisional semacam pantun dan karmina. Shakespeare mengatakan bahwa puisi adalah aktivitas mencurahkan emosi. Beberapa sastrawan seperti Djoko Pradopo dan Waluyo mengatakan bahwa puisi adalah suatu ekspresi yang dipadatkan.

Begitu luasnya pengertian puisi, tetapi setidaknya kita dapat memahami benang merah pernyataan para ahli bahwa puisi pasti berisi ekspresi, emosi, dan imaji pengarang dengan menggunakan kata-kata yang dipadatkan. Setidaknya, pengertian ini akan mampu membedakan puisi dengan prosa.
Puisi terbagi ke dalam tiga pembabakan, yaitu puisi lama, puisi baru, dan puisi modern/kontemporer. Dalam kesusasteraan Indonesia kita dapat membagi pembabakan ini berdasarkan tahun, disebut juga periodisasi sastra.
a. Kesusasteraan lama ( sebelum tahun 1920’an)
b. Kesusasteraan baru (1920 – 1970; ditandai dengan munculnya Angkatan Balai Pustaka)
c. Kesusasteraan modern (setelah tahun 1970)

Lahirnya Puisi Kontemporer

Puisi kontemporer/mutakhir sering dianggap sebagai puisi yang muncul pada masa kekinian. Akan tetapi, puisi kontemporer sebenarnya tidak terikat dengan waktu. Hal yang membedakan puisi kontemporer dengan puisi lainnya adalah bentuknya yang berbeda, baik dari gaya maupun kaidah. Puisi ini tidak lagi mau terikat dengan aturan-aturan pada puisi lama dan baru terkait baris, bait, dan rima. Ia lebih bebas seakan lebih liar sehingga puisi kontemporer disebut juga puisi inkonvensional. Contoh puisi semacam ini dapat kita lihat pada karya-karya Sutardji Calzoum Bachri yang dikenal sebagai pelopor puisi kontemporer. Berkat pernyataannya (Kredo Puisi, 30 Maret 1973), puisi kontemporer mulai bergeliat pada tahun ’70-an dalam khazanah kesusasteraan Indonesia. Penyair yang termasuk ke dalam sastrawan kontemporer adalah Putu Wijaya, Iwan Simatupang, Korrie Layun Rampan, Remi Silado, Kuntowijoyo, Arifin C. Noer, Sapardi Djoko Damono, Umar Kayam, Afrizal Malna, Y.B. Mangunwijaya, N.H. Dini, dan Danarto.

Karakteristik Puisi Kontemporer

Puisi kontemporer memiliki karakteristik yang bebas dari segala aturan. Puisi jenis ini terbiasa melakukan permainan bunyi, permainan kata yang diulang-ulang (repetisi) layaknya mantra atau penjungkirbalikan struktur kata menjadi bentuk baru, permainan makna, dan bahkan permainan bentuk/tipografi. Berikut adalah penjabaran karakteristik puisi kontemporer beserta contohnya.
A. Bergaya mantra (bermain kata dan bunyi)
Berikut adalah contoh salah satu puisi Sutardji berjudul “O”.

O
dukaku dukakau dukarisau dukakalian dukangiau
resahku resahkau resahrisau resahbalau resahkalian
raguku ragukau raguguru ragutahu ragukalian
mauku maukau mautahu mausampai maukalian maukenal maugapai

siasiaku siasiakau siasia siabalau siarisau siakalian siasia
waswasku waswaskau waswaskalian waswaswaswaswaswaswaswaswaswas
duhaiku duhaikau duhairindu duhaingilu duhaikalian duhaisangsai
oku okau okosong orindu okalian obolong o risau o Kau O…

Dengan melihat contoh di atas, kita akan memahami bahwa karakteristik puisi kontemporer adalah bermain-main dengan pengulangan kata, frasa, atau klausa, dan juga melakukan permainan bunyi layaknya mengucapkan mantra.

B. Permainan makna dan asosiasi bunyi
Dalam puisi kontemporer, tidak hanya kata yang ingin dibebaskan, tetapi juga makna. Puisi konvensional, baik lama maupun baru, terpaku pada makna-makna leksikal/kamus dan dapat mudah dipahami. Puisi jenis ini disebut juga dengan puisi diafan, sedangkan dalam puisi kontemporer, pilihan kata (diksi) terlepas dari makna leksikal dan dapat membentuk makna baru. Perhatikanlah diksi pada baris ke- 4 bait ke-2 pada contoh di atas. Dalam puisinya yang lain, Sutardji juga menciptakan kata sepisaupi yang tidak akan kita temukan dalam kamus. Dalam “Kredo Puisi”-nya, Sutardji memang hendak mencoba membebaskan kata-kata sekreatif mungkin. Perhatikanlah asosiasi bunyi yang terjadi pada puisinya di bawah ini yang terkesan ada kata dan makna-makna yang baru.

sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi

sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul diri keranjang duri

C. Permainan Tipografi
Tipografi adalah bentuk dan tata letak puisi. Selain bermain dengan makna, puisi kontemporer dapat dilihat dengan ciri khas dalam permainan tipografi yang berbeda dengan tipografi pada puisi konvensional. Perhatikanlah penggalan puisi “Air Mata Bola Basket dalam Kaset” berikut

D. Permainan kalimat dan enjambemen
Tidak hanya kata dan makna, kalimat pun tidak terlepas dari keliaran puisi kontemporer. Dalam puisi kontemporer, struktur kalimat dapat saja dipotong pada akhir suatu baris lalu dimasukkan ke awal baris berikutnya sehingga seakan terjadi lompatan peristiwa. Gaya seperti ini disebut dengan enjambemen. Puisi Rendra yang berjudul “Moranbong Ptongyang” adalah contoh puisi yang menggunakan enjambemen.

Aku akan tidur
Di rumputan
Di tepi kolam
Sementara undan
Dan belibis
Berenangan.
Lihatlah, aku berdosa.

Poin Penting

Puisi kontemporer memiliki bentuk yang bebas dan tidak terikat aturan puisi konvensional.
Ciri lainnya adalah
1. melakukan permainan kata layaknya mantra,
2. penjungkirbalikan struktur kata hingga membentuk kata barau,
3. menggunakan asosiasi bunyi dalam menimbulkan makna baru,

4. tipologi yang jauh berbeda dari puisi pada umumnya, dan
5. berkreasi dalam pemotongan kalimat (enjambemen).

Tema dan Ciri-Ciri Puisi Kontemporer | lookadmin | 4.5