Sistem Penyerapan Sari Makanan

Sistem Penyerapan Sari Makanan – Pada topik sebelumnya, kalian telah belajar tentang sistem pencernaan makanan. Tentu kalian telah mengerti bagaimana makanan dicerna di dalam tubuh. Pada topik kali ini, kalian akan mempelajari Sistem Penyerapan Sari Makanan. Bagaimanakah sari-sari makanan itu diserap akan dijelaskan di sini.

Jika sebuah mobil memerlukan bahan bakar untuk dapat beroperasi, tentu bahan bakar tersebut akan diolah oleh mesin dan menjadikannya energi untuk mobil. Sama halnya dengan manusia, makanan yang dimakan oleh manusia tentunya melalui proses penyerapan yang baik agar dapat menjadi energi bagi tubuh. Lalu bagaimanakah sistem penyerapan sari makanan tersebut? Berikut ulasannya.

Sistem pencernaan pada manusia melibatkan beberapa organ penting seperti mulut, esofagus, lambung, hati, pankreas, kandung empedu, usus halus, dan usus besar. Organ-organ tersebut memiliki peranan penting untuk mencerna berbagai zat dalam makanan menjadi bentuk yang lebih sederhana sehingga dapat diabsorpsi oleh tubuh. Bagian terbesar dari pencernaan dan penyerapan terjadi di saluran panjang, yaitu usus halus.

Usus halus memiliki fungsi utama, yaitu mencerna makanan hingga tuntas lalu mengabsorpsinya. Usus halus dalam tubuh manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu duodenum, jejunum, dan ileum. Zat-zat makanan yang telah dicerna sebelumnya dalam mulut oleh enzim amilase masuk ke esofagus dan didorong ke dalam lambung dengan gerakan peristaltik. Di dalam lambung, makanan dicerna kembali hingga terbentuk chyme. Kemudian chyme tersebut masuk ke dalam usus halus untuk dicerna lebih lanjut dan diserap oleh tubuh.
Struktur dari usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu duodenum, jejunum, dan ileum. Dinding usus halus mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar brunner yang berfungsi memproduksi getah intestinum. Lapisan usus halus terdiri atas empat lapisan yang sama dengan lambung, yaitu lapisan luar (membran serosa), lapisan muskularis, submukosa, dan mukosa.

Absorpsi zat gizi (nutrient) terjadi terutama di usus halus (90%) dan sisanya (10%) di dalam lambung dan usus besar.

Terdapat dua jenis gerakan yang terjadi di dalam usus halus, yaitu sebagai berikut.
1. Gerakan segmental adalah gerakan yang memisahkan segmen usus yang satu dengan yang lain. Hal ini memungkinkan chyme dari lambung bergerak maju mundur dengan tendensi yang menyebabkan chyme tercampur dengan enzim-enzim pencernaan dan berkontak dengan mukosa usus untuk diabsorpsi. Setelah makanan diabsorpsi, segmentasi berkurang dan diganti dengan gerakan peristaltik yang akan mendorong makanan menuju distal.
2. Gerakan pendulum atau ayunan menyebabkan isi usus bercampur.

Pencernaan karbohidrat dalam usus halus dilakukan dengan memecah pati yang belum dicerna oleh amilase menjadi maltosa dan isomaltosa. Di dalam usus halus juga terjadi hidrolisis disakarida menjadi monosakarida yang dilakukan oleh enzim-enzim epitel usus halus, seperti enzim laktase, enzim sukrase, enzim maltase, dan enzim isomaltase. Dengan demikian, hasil akhir pencernaan karbohidrat yang diabsorsi ke dalam darah semuanya berupa monosakarida.

Tahap pertama proses pencernaan lemak dalam usus halus, yaitu emulsifikasi lemak oleh asam-asam empedu yang merupakan sekret hati yang tidak mengandung enzim pencernaan. Caranya dengan memecah butir-butir lemak menjadi ukuran yang lebih kecil. Tahap selanjutnya, yaitu hidrolisis lemak oleh lipase pankreas dan lipase usus sehingga dihasilkan monogliserida, asam lemak, dan gliserol yang selanjutnya akan diabsorpsi oleh mukosa usus.

Protein dalam usus halus dalam bentuk dipeptida dihidrolisis oleh enzim peptidase dari sel-sel epitel usus halus menjadi berbagai dipeptida dan polipeptida kecil. Selanjutnya akan dihidrolisis kembali oleh enzim aminopolipeptidse dan dipeptidase menjadi asam amino. Proses selanjutnya terjadi dalam usus halus, yaitu penyerapan zat-zat dalam usus halus yang secara spesifik terjadi dalam vili dan tergantung pada difusi, difusi fasilitatif, osmosis, dan transpor aktif. Sebagian besar zat-zat tersebut diserap dalam bentuk yang lebih sederhana.

Semua nutrien yang diabsorpsi terjadi melalui membran plasma sel. Villi-villi usus halus merupakan tempat terjadinya absorpsi karena pada bagian ini terdapat pembuluh darah kapiler dan pembuluh limfe yang akan mengirim zat-zat makanan ke seluruh tubuh. Mekanisme penyerapan yang terjadi di usus halus, yaitu pasif-difusi dan aktif-difusi. Penyerapan secara pasif-difusi, yaitu penyerapan yang berlangsung menurut hukum keseimbangan osmosis dan difusi dimana diketahui zat-zat makanan akan mengalir dari yang berkonsentrasi tinggi ke tempat yang berkonsentrasi rendah. Sementara penyerapan aktif-difusi, yaitu proses penyerapan yang membutuhkan energi.

Faktor-faktor yang menyebabkan gangguan penyerapan zat gizi di usus halus, yaitu sebagai berikut.
1. Adanya gangguan pada usus halus seperti adanya ektoparasit—misalnya cacing—yang menyerap sari-sari makanan sebelum diserap oleh usus halus.
2. Adanya mukosa usus yang terluka (infeksi).
3. Adanya makanan yang tidak dapat dicerna seperti makanan instan yang tidak mengandung zat gizi.
4. Terjadi peradangan di usus, misalnya terjadi merah-merah dan pembengkakan pada usus sehingga usus tersebut tidak dapat melakukan fungsinya secara optimal.
5. Di lambung, makanan belum tercerna dengan baik karena ada masalah sehingga makanan masuk ke usus. Kemudian, usus tidak mampu melakukan pencernaan secara kimiawi dengan baik.

Contoh Soal

Apa yang akan terjadi bila penyerapan di usus halus terganggu?
Jawab:
Usus halus merupakan saluran panjang yang berfungsi sebagai tempat pencernaan dan penyerapan zat gizi makro. Bila terjadi gangguan di usus halus dapat menyebabkan malnutrition (kekurangan zat gizi).

Sistem Penyerapan Sari Makanan | lookadmin | 4.5