Close Klik 2x

Sifat-Sifat Koloid

Advertisement

Sifat-Sifat Koloid – Pada topik sebelumnya, kita telah belajar mengenal sistem dispersi koloid dan jenis-jenisnya. Pada topik kali ini, kita akan membahas tentang sifat khas koloid yang membedakannya dengan sistem dispersi yang lain. 

SIFAT-SIFAT KOLOID

1. Efek Tyndall

Efek Tyndall adalah penghamburan cahaya oleh partikel koloid. Kita dapat membedakan koloid dan larutan dengan cara melewatkan seberkas cahaya pada sistem dispersi tersebut. Pada larutan, cahaya hanya akan diteruskan dan tidak tampak berkasnya. Hal ini disebabkan karena ukuran partikel larutan yang terlalu kecil sehingga tidak mampu menghamburkan cahaya. Sementara pada sistem koloid, akan tampak berkas cahaya yang melewatinya. Berkas cahaya tampak karena cahaya dihamburkan oleh partikel dalam koloid yang memiliki partikel berukuran sedang. Fenomena ini pertama kali diselidiki oleh John Tyndall.


Efek Tyndall dapat menjelaskan mengapa langit pada siang hari berwarna biru, sedangkan pada saat matahari terbenam, langit di ufuk barat berwarna jingga atau merah. Hal itu disebabkan oleh penghamburan cahaya matahari oleh partikel koloid di angkasa dan tidak semua frekuensi dari sinar matahari dihamburkan dengan intensitas yang sama. Pada waktu siang hari ketika matahari melintas di atas kita, frekuensi paling tinggi (warna biru) yang banyak dihamburkan sehingga kita melihat langit berwarna biru. Ketika matahari terbenam, hamburan frekuensi rendah (warna merah) lebih banyak dihamburkan, sehingga kita melihat langit berwarna jingga atau merah.

2. Gerak Brown

Gerak Brown adalah gerak acak partikel koloid akibat tabrakan antarpartikel. Jika kita melakukan pengamatan dengan mikroskop ultra, kita akan dapat melihat partikel terdispersi koloid terus menerus bergerak dan saling bertabrakan secara tidak seimbang, baik dengan sesama partikel terdispersi maupun dengan partikel pendispersinya. Akibatnya gerakannya tampak acak ke segala arah. Oleh karena partikelnya terus menerus bergerak, pengaruh gaya gravitasi berkurang sehingga koloid tidak mudah mengendap dan bersifat stabil.


Gerak Brown tidak terjadi dalam suspensi karena ukuran partikelnya cukup besar sehingga tabrakan yang dialaminya seimbang. Pada larutan, partikel zat terlarut mengalami gerak Brown, tetapi tidak dapat diamati karena ukurannya yang terlalu kecil. Gerak Brown pada partikel koloid dipengaruhi oleh suhunya. Semakin tinggi suhu, molekul medium juga meningkat sehingga gerak Brown yang terjadi semakin cepat dan menghasilkan tumbukan yang lebih kuat.

3. Elektroforesis

Elektroforesis adalah pergerakan partikel koloid dalam medan listrik. Partikel dalam sistem koloid merupakan partikel yang memiliki muatan listrik. Jika dua elektroda dimasukkan ke dalam sistem koloid dan dihubungkan dengan sumber arus searah, maka partikel koloid akan bergerak ke salah satu elektroda yang muatannya tidak sejenis dengan muatan partikel koloid tersebut. Oleh karena itu, elektroforesis dapat digunakan untuk mendeteksi muatan partikel koloid. Partikel koloid bermuatan negatif akan berkumpul di elektroda positif, sedangkan partikel koloid bermuatan positif akan tertarik ke elektroda negatif.

4. Koagulasi

Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid yang dapat terjadi jika koloid distabilkan muatannya. Penstabilan muatan koloid dapat dilakukan dengan pemanasan maupun penambahan elektrolit ke dalam sistem koloid. Hal ini karena pada penambahan elektrolit, koloid bermuatan positif akan menarik ion negatif dan koloid bermuatan negatif akan menarik ion positif. 

Ion-ion tersebut akan membentuk selubung lapisan kedua yang jika terlalu dekat justru akan menetralkan koloid sehingga terjadi koagulasi. Selain itu, koloid yang dilewatkan dalam sel elektroforesis untuk waktu yang cukup lama juga akan mengalami penstabilan muatan dan akhirnya terjadi koagulasi di elektroda. Contoh koagulasi yang dapat kita amati adalah terbentuknya delta atau muara sungai akibat koloid air sungai bercampur dengan larutan elektrolit air laut.

5. Adsorpsi

Adsorpsi adalah peristiwa penempelan suatu partikel pada permukaan pertikel koloid. Partikel koloid dapat menarik dan menempelkan partikel berupa ion hingga mikroorganisme. Apabila terjadi penyerapan ion pada permukaan partikel koloid maka partikel koloid jadi bermuatan listrik. Sifat adsorbsi ini salah satunya terjadi pada norit yang bekerja mengadsorbsi bakteri penyebab sakit perut.

6. Dialisis

Di atas telah kita bahas bahwa partikel koloid dapat mengalami koagulasi. Ada kalanya peristiwa penggumpalan ini mengakibatkan dampak negatif sehingga harus dicegah. Dialisis merupakan cara pemurnian medium pendispersi dari ion-ion yang dapat menggumpalkan partikel koloid. Dialisis dilakukan dengan memasukkan sistem koloid ke dalam kantong semipermeabel, kemudian dimasukkan ke dalam air. 

Perbedaan tekanan dan konsentrasi antara sistem koloid dan air menyebabkan terjadinya osmosis. Oleh karena ukurannya yang lebih besar, maka partikel koloid tidak dapat keluar dari selaput semipermeabel. Hanya ion-ion yang dapat keluar melalui selaput semipermeabel ini yang kemudian larut dalam air dan menyisakan koloid yang bersih dari ion pengganggu.

Itulah artikel Sifat-Sifat Koloid. Semoga bisa bermanfaat bagi Anda, baca juga artikel terkait lainnya

Sifat-Sifat Koloid | lookadmin | 4.5