Sejarah Binomial Nomenclature

Sejarah Binomial Nomenclature – Pada topik sebelumnya, kita telah belajar tentang dunia hewan dan tumbuhan. Sekarang, coba kamu sebutkan nama daerah dari beberapa jenis hewan dan tumbuhan di sekitarmu. Apakah di setiap daerah, suatu jenis tumbuhan atau hewan memiliki nama yang sama? Pastinya akan berbeda-beda sesuai daerahnya masing-masing.

Seperti kita ketahui, buah pisang oleh masyarakat di daerah Jawa Tengah disebutgedhang, sedangkan oleh masyarakat di daerah Jawa Barat (bahasa Sunda), disebut cau, dan dalam bahasa inggris disebut banana. Contoh lainnya, buah mangga ada yang menyebut poah, ada yang menyebut pauh, dan ada pula yang menyebut pelem. Adanya perbedaan penyebutan inilah yang dapat mengakibatkan salah pengertian, sehingga informasi tidak tersampaikan dengan tepat ataupun informasi tidak dapat tersebar luas ke daerah-daerah lain ataupun negara lain.

Setiap makhluk hidup di dunia diberikan nama ilmiah atau sering disebut dengan nama Latin. Penyebutan nama Latin sebenarnya kurang tepat karena sebagian besar nama yang diberikan bukan istilah asli dalam bahasa Latin, melainkan nama yang diberikan oleh orang yang memberikan deskripsi, lalu dilatinkan. Nah pada topik ini, kamu akan belajar tentang tata nama makhluk hidup yang berlaku secara universal, yaitu sistem tata nama ganda. Menarik bukan?

A. Sejarah Binomial Nomenclature

Tata nama ganda pertama kali diperkenalkan oleh Gaspar Bauhin dalam bukunya yang berjudul “Pinax Theatri Botanical” yang diterbitkan pada tahun 1623. Akan tetapi yang dinyatakan sebagai pencetus Sistem Nama Ganda (Binomial Nomenclature) adalah Carolus Linnaeus (Carl Von Linne), karena Linnaeus yang menerapkan secara konsisten sistem tersebut, yaitu dalam bukunya yang berjudul “Species Plantarum” tahun 1753 dan “Systema Nature” pada tahun 1758. Pemberian nama oleh Linnaeus ini baru berlaku tahun 1867 untuk tata nama tumbuhan dan tahun 1898 untuk tata nama hewan. Carolus Linnaeus adalah seorang sarjana kedokteran dan ahli botani dari Swedia.
Bahasa yang digunakan oleh Linnaeus dalam sistem tata nama adalah bahasa Latin. Bahasa Latin dipilih karena pada masa Linnaeus, bahasa tersebut adalah teks ilmiah yang universal.
Setiap nama tumbuhan maupun hewan yang baru, sebelum dipakai harus disahkan terlebih dahulu oleh para ahli botani maupun zoologi dalam pertemuan tingkat internasional di Genewa, Swiss. Nama itu diatur dalam kode internasional tata nama tumbuhan (International Code of Botanical Nomenclature) untuk tumbuhan dan untuk hewan dalam kode internasional tata nama hewan (International Code of Zoological Nomenclature).

B. Kaidah Sistem Tata Nama Ganda (Binomial Nomenclature)

Sistem tata nama ganda mengikuti beberapa kaidah berikut ini.
1. Spesies
a) Nama spesies terdiri dari dua kata dalam bahasa Latin yang ditulis terpisah.
Contoh:

b) Nama 1 menunjukkan nama genus. Huruf pertama ditulis dengan huruf kapital
Contoh: Oryza, Cocos
c) Nama 2 merupakan nama spesifik atau penunjuk jenis. Huruf awal ditulis dengan huruf kecil
Contoh: sativa, nucifera
d) Nama spesies dicetak miring tanpa garis bawah atau dicetak tegak dan digarisbawahi terpisah
Contoh: Oryza sativa (padi), Carica papaya (pepaya), dan Solanum tuberosum (kentang)
e). Jika nama tumbuhan terdiri lebih dari dua kata maka kata kedua dan seterusnya harus disatukan atau ditulis dengan tanda penghubung.
Contoh: Hibiscus rosa sinensis ditulis Hibiscus rosa-sinensis
f). Nama hewan yang terdiri atas tiga suku kata tidak dirangkai dengan tanda penghubung
Contoh: Felis manuculata domestica (kucing jinak)
g).Nama varietas ditulis dengan menambahkan kata var. di belakang nama spesies
Contoh: Hibiscus sabdarifa var.alba (bunga rosella varietas putih)
h).Nama atau singkatan nama deskriptor/ penulis dapat dituliskan di belakang nama spesies dengan menggunakan huruf tegak dan tanpa garis bawah.
Contoh: Musa paradisiaca. L, L merupakan singkatan dari Carolus Linnaeus.
2. Genus (Marga)
Nama genus tumbuhan maupun hewan terdiri atas satu kata tunggal yang dapat diambil dari kata apa saja, dapat dari nama hewan, tumbuhan, zat kandungan, dan sebagainya yang merupakan karakteristik makhluk hidup tersebut.
Contoh: Tumbuhan: Solanum (terung-terungan), Rosa (mawar)
Hewan : Canis (anjing), Felis (kucing)
3. Famili (Suku)
Nama familia diambil dari nama genus makhluk hidup bersangkutan ditambah akhiran -aceae untuk tumbuhan, sedangkan untuk hewan diberi akhiran -idae.
Contoh: Solanum + – aceae = Solanaceae
Canis + – idae = Canidae
4. Ordo (Bangsa)
Tumbuhan: nama ordo diambil dari nama genus ditambah akhiran –ales
Contoh : Zingiber + -ales = Zingiberales (suku jahe – jahean)
Hewan : nama ordo berbeda-beda
Contoh : Carnivora (pemakan daging), Primata (bangsa kera)
5. Classis (Kelas)
Nama kelas diambil dari nama genus ditambah dengan akhiran -nae
Contoh : Equisetum + -nae = Equisetinae (tumbuhan paku ekor kuda).
Dapat juga diambil dari ciri khas organisme tersebut,
Contoh : Chlorophyta (ganggang hijau) = chlorofil = memiliki zat hijau daun
Mamalia (hewan menyusui) = mammae = memiliki kelenjar susu
6. Phylum (Filum) atau Divisio (Divisi)
Tumbuhan: akhiran – phyta
Contoh: Bryophyta (tumbuhan lumut), Pterydophyta (tumbuhan paku)
Hewan: berbeda-beda
Contoh: Porifera (hewan berpori), Arthropoda (hewan kakinya beruas-ruas)
7. Kingdom (Kerajaan)
Hewan : Kingdom Animalia
Tumbuhan : Kingdom Plantae

C. Penerapan Tata Nama Binomial Nomenclature

Penerapan tata nama Binomial Nomenclature dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Sejarah Binomial Nomenclature | lookadmin | 4.5