Close Klik 2x

Reaksi Eksoterm dan Endoterm

Advertisement

Reaksi Eksoterm dan Endoterm – Tempe merupakan makanan khas Indonesia yang dibuat dari bahan dasar kedelai yang difermentasikan menggunakan ragi. Biasanya tempe yang baru dibuka bungkusnya terasa hangat. Pernahkah kalian berpikir reaksi apakah yang terjadi sehingga membuat tempe tersebut terasa hangat? Reaksi itulah yang kita kenal sebagai reaksi eksoterm. Dalam topik ini, kita akan membahas reaksi eksoterm tersebut. Selain itu, kita juga akan membahas reaksi endoterm dan perubahan entalpi.

A. Sistem dan Lingkungan
Reaksi kimia ketika terjadi dalam suatu wadah yang terbuka, pada umumnya akan mengalami pertambahan energi atau kehilangan energi dalam bentuk panas. Pada proses ini, energi panas berpindah dari sistem ke lingkungan atau sebaliknya. Sistem adalah segala sesuatu yang dipelajari perubahan energinya, sedangkan lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di sekeliling sistem.
Dalam ilmu kimia, sistem adalah sejumlah zat yang bereaksi, sedangkan lingkungan adalah segala sesuatu di luar zat-zat tersebut. Misalnya dalam tabung reaksi yang berisi air dilarutkan urea padat, ternyata pada tabung reaksi terasa dingin. Sistem pada reaksi ini adalah air dan urea, sedangkan yang termasuk lingkungan adalah tabung reaksi.

B. Perubahan Entalpi
Energi yang terkandung di dalam suatu sistem atau zat disebut entalpi (H). Entalpi suatu sistem tidak dapat diukur, yang dapat diukur adalah perubahan entalpi yang menyertai perubahan zat. Oleh karena itu, kita dapat menentukan entalpi yang dilepaskan atau diserap pada saat terjadi reaksi.
Perubahan energi pada suatu reaksi yang berlangsung pada tekanan tetap disebut perubahan entalpi. Perubahan entalpi dinyatakan dengan lambang ∆H, dengan satuan Joule dan kilo Joule.

Contoh:
Entalpi air ditulis HH2O. Air dapat berwujud cair dan padat. Entalpi yang dimilikinya berbeda, HH2O(l) lebih besar daripada HH2O(s). Oleh karena itu, untuk mengubah es menjadi air diperlukan energi dari lingkungan. Harga ∆H pada peristiwa perubahan es menjadi air adalah ∆H = HH2O(l) – HH2O(s).
Perubahan ini dapat ditulis dalam suatu persamaan reaksi yang disebut persamaan termokimia sebagai berikut.
H2O(s) → H2O(l) ∆H = +6,02 kJ
Berdasarkan perubahan entalpi, dikenal dua macam reaksi yaitu reaksi eksoterm dan reaksi endoterm.

C. Reaksi Eksoterm dan Endoterm

Jika suatu reaksi yang terjadi dalam sistem menghasilkan panas, maka terasa panas bila sistem disentuh. Panas dihasilkan dari zat-zat bereaksi yang merupakan sistem, kemudian dilepaskan ke lingkungan. Reaksi ini termasuk reaksi eksoterm.
Pada reaksi eksoterm, energi panas atau kalor berpindah dari sistem ke lingkungan. Entalpi sistem sebelum reaksi lebih besar daripada sesudah reaksi atau Hpereaksi > Hhasil reaksi, sehingga perubahan entalpi sistem bernilai negatif (∆H = – ).
Contohnya, jika kamu memasukkan bongkahan batu kapur ke dalam air, maka dalam air akan terjadi gelembung-gelembung gas. Kalau kita pegang, wadah reaksinya akan terasa panas.

Reaksi endoterm merupakan kebalikan dari reaksi eksoterm. Reaksi endoterm merupakan reaksi yang membutuhkan atau menyerap energi panas dari lingkungannya. Dengan menyerap kalor dari lingkungan, energi sistem bertambah. Akibatnya, entalpi sistem sesudah reaksi lebih besar daripada sebelum reaksi atau Hpereaksi < Hhasil reaksi, sehingga perubahan entalpi sistem bernilai positif (∆H = +).
Contohnya pada reaksi antara barium hidroksida dan ammonium klorida. Kalau kita pegang wadah akan terasa dingin karena adanya aliran kalor dari lingkungan ke sistem.

Kesimpulan

  1. Pada reaksi eksoterm, sistem memiliki entalpi yang lebih rendah pada akhir reaksi. Ditulis Hhasil reaksi < Hpereaksi sehingga ∆H bernilai negatif (∆H = -).
  2. Pada reaksi endoterm, sistem memiliki entalpi yang lebih besar pada akhir reaksi. Ditulis Hhasil reaksi > Hpereaksi sehingga ∆H bernilai positif (∆H = +).

Itulah artikel Reaksi Eksoterm dan Endoterm. Semoga bisa bermanfaat bagi Anda, baca juga artikel terkait lainnya.

Advertisement
Reaksi Eksoterm dan Endoterm | lookadmin | 4.5