Rasialisme di Afrika Selatan

Rasialisme di Afrika Selatan – Setelah mempelajari bahasan berikut, kalian diharapkan dapat memahami mengenai rasialisme di Afrika Selatan.

RASIALISME DI AFRIKA SELATAN

Rasialisme adalah praktik diskriminasi atas dasar ras. Praktik dimaksud menyebabkan keterpisahan dalam masyarakat, bahkan potensi konflik. Bagaimanakah berlangsungnya rasialisme di Afrika Selatan? Mari simak bahasan berikut.

Rasialisme adalah kebijakan pemisahan dengan tolak ukur ras seseorang. Rasialisme di Afrika Selatan berwujud Politik Apartheid, yang memisahkan orang orang berkulit putih dengan yang berkulit hitam. ‘Apartheid’ sendiri berasal dari bahasa Afrikaans, yakni apart yang berarti memisah dan heid yang artinya sistem atau hukum. Rezim Apartheid mulai dilaksanakan tahun 1948 dan secara terang-terangan memberlakukan hukum rasialis terhadap hak asasi warga kulit hitam. Rezim ini juga memberlakukan pembunuhan, penyiksaan, dan penahanan terhadap lawan-lawan politiknya. Di dunia internasional, praktik apartheid digolongkan sebagai kejahatan perang yang diatur berdasarkan Konvensi Jenewa.

LATAR BELAKANG

Rasialisme di Afrika Selatan dilatarbelakangi adanya imperialisme. Bangsa Eropa yang datang ke Afrika Selatan merasa derajatnya lebih tinggi dari rakyat asli Afrika Selatan. Belanda, misalnya, menjadikan Afrika Selatan sebagai sasaran penjajahan karena kekayaan alamnya yang melimpah berupa intan dan emas. Imperialisme Belanda ke Afrika Selatan disusul oleh Inggris sehingga kemudian menimbulkan perang. Pada akhirnya, Afrika Selatan direbut oleh Inggris melalui Perang Boer, yang berlangsung antara bangsa Inggris dan keturunan Belanda.
Pada tahun 1910, Inggris membentuk parlemen yang dibatasi hanya untuk orang kulit putih saja, termasuk mengangkat Perdana Menteri pertama Afrika Selatan, Daniel Francois Malan, yang kemudian memperkenalkan Politik Apartheid di hingga ke sepenjuru negeri.

KEBIJAKAN POLITIK APARTHEID

Politik Apartheid menurut bahasa resmi Afrika Selatan adalah Aparte Ontwikkeling artinya perkembangan yang terpisah. Tiap golongan masyarakat, baik golongan kulit putih maupun golongan kulit hitam harus sama-sama berkembang. Namun, perkembangan didasarkan pada tingkatan sosial dalam masyarakat, dan akhirnya menjurus pada pemisahan rasial.
Hukum apartheid memisahkan penduduk Afrika Selatan menjadi tiga golongan, yaitu kulit putih, kulit hitam, dan kulit berwarna. Berdasarkan pemisahan itu, hukum apartheid melarang kontak langsung antar golongan ras, termasuk tidak ada bagi hasil yang merata antara orang kulit putih dengan kulit hitam, serta larangan menggunakan fasilitas umum milik orang kulit putih. Bahkan, di pantai-pantai Afrika Selatan dipasangi tulisan White Person Only.
Di bawah kebijakan politik apartheid, pemerintah Afrika Selatan menciptakan sepuluhhomeland (kampung halaman) yang terpisah bagi orang kulit hitam, yaitu Bophuthatswna,Transkei, Venda, Ciskei, Gazankulu, Kwazulu, Lebowa, Qwaqwa, Ndebele, dan Nangwane yang dikenal dengan sebutan “negara kulit hitam”. Di tiap homeland disediakan sistem pendidikan yang terpisah bagi masing-masing kelompok rasial. Pendidikan bagi anak kulit putih dan berwarna tidak dipungut biaya sampai sekolah menengah tingkat atas. Program wajib belajar diberlakukan terhadap anak kulit putih usia 7-16 tahun dan kulit berwarna usia 7-14 tahun.
Semua penduduk kulit hitam dianggap sebagai warga negara homeland yang ditetapkan berdasarkan kelompok keturunan mereka masing-masing dan harus kembali setahun sekali untuk memperbaharui izin kerja di bagian kulit putih. Penduduk kulit hitam tidak boleh diikutsertakan dalam setiap kegiatan orang kulit putih, termasuk Olimpiade Internasional dan kegiatan lainnya. Penduduk kulit hitam juga tidak dapat memberikan suara untuk memilih anggota parlemen Afrika Selatan.

AKHIR POLITIK APARTHEID

Pemberontakan demi pemberontakan gencar dilakukan oleh rakyat Afrika Selatan yang merasa tidak diperlakukan secara adil. Ribuan pelajar mengadakan demonstrasi keliling kota menuntut penghapusan apartheid akibat diskriminasi sistem pendidikan antara orang kulit hitam dengan orang kulit putih yang lebih maju. Polisi menembaki ratusan pelajar yang berdemonstrasi, namun tidak menyurutkan semangat orang kulit hitam untuk menuntut keadilan.
Gerakan penolakan oleh kalangan kulit hitam di Afrika selatan dipelopori oleh African National Congress (ANC) di bawah pimpinan Nelson Mandela, yang dikenal sebagai tokoh penentang apartheid. ANC memprotes undang-undang segresi yang dibuat oleh pemerintah.
Pada tahun 1962, pemerintah memenjarakan Mandela selama 27 tahun akibat aksinya. Namun, tanggal 2 Mei 1990, pemerintah Afrika Selatan tergerak mengadakan perundingan dengan ANC untuk membuat undang-undang non rasial. Pada 7 Juni 1990, Presiden Afrika Selatan, Frederik Willem de Klerk, menghapuskan UU Darurat Negara di seluruh Afrika Selatan.

Pada akhirnya, Presiden de Klerk pun mengumumkan penghapusan sistem politik apartheid di parlemen Afrika Selatan pada 21 Februari 1991, diikuti penghapusan tiga undang-undang yang memperkuat kekuasaan apartheid, yaitu Land Act, Group Areas Act, dan Population Registration Act.
Rezim Apartheid dibubarkan secara resmi pada tanggal 30 Juni 1991 akibat perlawanan perlawanan di dalam negeri dan tekanan dunia internasional. Presiden de Klerk kemudian menyelenggarakan pemilu tanpa batasan rasial tahun 1994 dan dimenangkan oleh partai ANC yang dipimpin Nelson Mandela. Ia lantas dilantik sebagai presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan pada 10 Mei 1994.

RANGKUMAN

1) Rasialisme di Afrika Selatan berwujud Politik apartheid, yaitu politik yang memisahkan orang orang berkulit putih dengan yang berkulit hitam. Beberapa kebijakan yang dilaksanakan dalam politik apartheid, yaitu:
• Pemisahan tempat tinggal antara orang kulit hitam dengan kulit putih.
• Orang kulit hitam tidak memiliki hak suara dalam parlemen.
• Perbedaan pendidikan antar ras.
• Orang kulit hitam dilarang menggunakan fasilitas umum.
• Orang kulit hitam dan kulit putih tidak boleh kontak langsung.
2) Politik apartheid dibubarkan secara resmi pada tanggal 30 Juni 1991, dengan penyelenggaraan pemilu yang dimenangkan oleh Nelson Mandela sebagai presiden baru Afrika Selatan.

 

Rasialisme di Afrika Selatan | lookadmin | 4.5