Proses Terjadinya Bentuk Muka Bumi Secara Endogen

Advertisement

Proses Terjadinya Bentuk Muka Bumi Secara Endogen – Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai proses terjadinya bentuk muka bumi secara endogen.

PROSES TERJADINYA BENTUK MUKA BUMI SECARA ENDOGEN

Bumi selalu mengalami perubahan meskipun perlahan dan dalam jangka waktu yang lama. Perubahan tersebut disebabkan oleh adanya proses endogen dan eksogen. Bagaimanakah proses terjadinya bentuk muka bumi secara endogen? Mari simak bahasan berikut.

Proses endogen meliputi vulkanisme dan tektonisme. Berikut akan dijelaskan lebih lanjut.

A. VULKANISME

Di dalam kerak bumi, terdapat kantong-kantong tertentu yang berisi magma, yakni lelehan batuan pijar dalam wujud cair yang mengandung gas dan terdapat secara alamiah di dalam bumi. Akibat berlangsungnya proses alamiah (proses fisika dan kimia), magma mempunyai kecenderungan keluar ke permukaan bumi. Sebagian ada yang menyusup di antara lapisan batuan di dalam kerak bumi (disebut ‘intrusi magma’), dan sebagian lagi dapat menerobos ke permukaan bumi melalui rekahan atau sesar lapisan batuan (disebut ‘ekstrusi magma’).

Terobosan magma yang muncul ke permukaan bumi menghasil¬kan gunung api (volcano) atau bentuk timbulan di muka bumi yang umumnya berupa kerucut atau kubah. Proses ini disebut ‘vulkanisme’. Adapun intrusi atau penyusupan magma di antara perlapisan batuan di dalam kerak bumi disebut ‘plutonisme’ atau ‘kriptovulkanisme’.

Intrusi magma merupakan aktivitas penyusupan magma pada celah batuan di dalam kerak bumi. Tubuh batuan beku dalam yang terbentuk di bawah permukaan bumi disebut ‘pluton’. Pluton yang berada jauh di bawah permukaan bumi disebut ‘batolit’ (berukuran 50-100 mil dengan luas dapat mencapai 100.000 mil persegi). Penyebaran batolit selalu memotong (diskordan) lapisan batuan di atasnya. Sedangkan penyusupan magma ada yang memotong lapisan batuan di atasnya, tapi ada juga yang sejajar (konkordam) dengan lapisan batuan tetangga.

Intrusi magma yang sejajar lapisan batuan menghasilkan bentuk, antara lain:
• Sill (pluton yang sejajar dengan perlapisan batuan),
• Lakolit (pluton yang melengkung bagian atasnya),
• Lopolit (pluton yang melengkung bagian bawahnya), dan
• Pakolit (pluton yang mengikuti bentuk antiklinal atau sinklinal).

Ekstrusi magma adalah suatu kegiatan penerobosan magma ke permukaan bumi. Salah satu contohnya adalah letusan gunung berapi (erupsi). Berdasarkan kekuatan tekanan gas magma di dalam bumi, erupsi gunung api dapat dibedakan menjadi:

a. Erupsi eksplosif, bila disertai tekanan gas yang kuat hingga menimbulkan suatu letusan atau ledakan.

b. Erupsi efusif, bila tekanan gas berkurang (kecil), sehingga tidak menghasilkan letusan, melainkan mengeluarkan suatu lelehan atau aliran lava.

c. Erupsi campuran, menghasilkan erupsi eksplosif dan efusif secara bergantian.
Erupsi eksplosif, efusif, dan campuran dapat saja terjadi pada suatu gunung api dalam kurun waktu kegiatan gunung api tersebut (suatu sejarah kegiatan gunung api).

Bila didasarkan pada tipe letusan dan bahan hasil letusan, erupsi gunung api dapat dibedakan atas:

1. Erupsi magmatik, terjadi oleh kegiatan magma yang menerobos ke permukaan bumi. Dalam hal ini bahan utama yang dikeluarkan berasal langsung dari magma, baik dalam bentuk bahan-bahan lepas (piroklastis) maupun aliran lava.

2. Erupsi freatik, terjadi oleh peranan uap yang terjadi karena sentuhan air, baik langsung atau tidak langsung dengan magma. Dalam hal ini, air tanah, air danau kawah, atau air laut yang menyusup menyentuh magma pada posisi yang sangat dalam, lalu menjadi uap. Tekanan uap menimbulkan suatu letusan yang di-sebut ‘letusan freatik’. Letusan ini tidak mengeluarkan magma, melainkan hanya melemparkan bahan-bahan pada dinding tutup gunung api yang dilalui oleh tekanan gas tersebut.

3. Erupsi freatomagmatik, terjadi apabila magma yang naik ke permukaan bersentuhan dengan air sehingga menimbulkan ledakan kuat. Letusan ini mengeluarkan semburan magma dalam bentuk bahan-bahan yang lepas.

Menurut tempat terjadinya, erupsi gunung api dapat dibedakan menjadi:
• Erupsi sentral, yaitu erupsi gunung api yang terpusat di suatu tempat di muka bumi.
• Erupsi linier, yaitu erupsi gunung api yang terjadi melalui suatu rekahan memanjang.

B. TEKTONISME

Adakalanya terjadi gerakan-gerakan kerak bumi dalam skala besar (tektonik), sebagai bukti bahwa kerak bumi tidaklah statis. Selain itu, juga terdapat gerakan-gerakan yang skalanya relatif lebih kecil (meliputi daerah lebih sempit), seperti pelengkungan, pengangkatan, penurunan, pelipatan, patahan/sesar, dan retakan. Kesemuanya itu disebut ‘tektonisme’, yang menyebabkan terjadinya deformasi batuan. Gerakan-gerakan tersebut dapat terjadi secara vertikal, miring, atau mendatar, serta dapat terjadi sangat lambat (sehingga sulit diamati) atau sangat cepat (dapat diamati).

Secara garis besar, gerakan tektonisme dapat dibedakan atas:
1) Epirogenesis
Merupakan suatu gerakan vertikal yang lambat dan meliputi daerah yang luas (benua).
2) Orogenesis
Orogenesis (gerak pembentukan pegunungan) merupakan gerakan tektonik yang meliputi daerah yang relatif sempit (regional). Orogenesis banyak dijumpai di dunia, sebagaimana terlihat dari penyebaran pegunungan. Gerakan ini meliputi pelengkungan (warping), pelipatan (folding), patahan (faulting), sembul dan terban (horst dan graben), serta retakan/diaklas (jointing).

RANGKUMAN

1) Proses endogen meliputi vulkanisme dan tektonisme.

2) Terobosan magma yang muncul ke permukaan bumi menghasilkan gunung api (volcano) atau bentuk timbulan di muka bumi yang umumnya berupa kerucut atau kubah. Proses ini disebut vulkanisme. Adapun intrusi atau penyusupan magma di antara perlapisan batuan di dalam kerak bumi disebut ‘plutonisme’ atau ‘kriptovulkanisme’.

3) Adakalanya terjadi gerakan-gerakan kerak bumi dalam skala besar (tektonik), sebagai bukti bahwa kerak bumi tidaklah statis. Selain itu, juga terdapat gerakan-gerakan yang skalanya relatif lebih kecil (meliputi daerah lebih sempit), seperti pelengkungan, pengangkatan, penurunan, pelipatan, patahan/sesar, dan retakan. Semuanya itu disebut ‘tektonisme’, yang menyebabkan terjadinya deformasi batuan.

Advertisement
Proses Terjadinya Bentuk Muka Bumi Secara Endogen | lookadmin | 4.5