Prinsip Pemungutan, Jenis dan Tarif Pajak

Prinsip Pemungutan, Jenis dan Tarif Pajak – Setelah memahami tentang pungutan pajak, kita akan belajar mengenai prinsip pemungutan, jenis dan tarif pajak.

Hal ini dikarenakan pajak adalah pungutan yang mempunyai dasar hukum. Mari kita simak materi ini lebih mendalam.

Pajak adalah iuran wajib yang dibayarkan oleh wajib pajak berdasarkan norma-norma hukum untuk membiayai kolektif guna meningkatkan kesejahteraan umum yang balas jasanya tidak diterima secara langsung.

  • Ciri-ciri pajak:
    a. Iuran yang wajib untuk negara.
    b. Imbalan balas jasa secara langsung dari negara kepada rakyat tidak ada.
    c. Digunakan mensejahterakan rakyat
  • Unsur-unsur Pajak adalah :
    a. Subjek Pajak, (orang pribadi / badan hukum) yaitu yang ditetapkan untuk melakukan kewajiban membayar pajak.
    b. Objek Pajak, yaitu sesuatu yang kena pajak. misalnya penghasilan,bumi dan bangunan.
    c. Tarif Pajak , yaitu pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak, berdasarkan objek pajak.

A. Prinsip pemungutan pajak

Menurut Adam Smith, pemungutan pajak harus mengikuti prinsip:

1. Prinsip Keadilan
Pemungutan pajak harus adil sesuai dengan kemampuan si wajib pajak. Apabila si wajib pajak itu dalam membayar kewajibannya menunda atau bahkan tidak mampu membayar, si wajib pajak berhak mengajukan ketidaksanggupannya kepada Majelis Pertimbangan Pajak.

2. Prinsip Yuridis
Pemungutan pajak tidak mengganggu kelancaran kegiatan produksi dan perdagangan, agar tidak ada kelesuan dalam ekonomi

3. Prinsip Finansial
Biaya pemungutan pajak harus lebih rendah dari hasil pemungutannya.

4. Sistem pemungutan yang sederhana.
Rakyat akan lebih mudah membayar pajak apabila sistem yang ada ϑȋ̝̊ dalam pajak adalah sistem yang sederhana, dan akan lebih mendorong masyarakat untuk mau membayar kewajibannya membayar pajak

B. Jenis-jenis pajak

1. Berdasarkan cara pemungutannya yaitu :
• Pajak langsung: pajak yang dibebankan kepada wajib pajak dan tidak boleh dialihkan kepada orang lain. Misalnya: Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan Pajak bunga deposito.
• Pajak Tidak Langsung
Pajak tidak langsung adalah pajak yang pemungutannya bisa dialihkan orang lain. Misalnya: Pajak Pertambahan Nilai (PPN),Pita Rokok,Pajak Tontonan

  1. Berdasarkan dari obyek yang kena pajak yaitu:
    • Pajak subyektif adalah pajak yang berdasar atas subyeknya. Dalam hal ini, keadaan diri pajak dapat mempengaruhi jumlah yang harus dibayar. Contoh pajak Penghasilan (PPh) yang dibayar sesuai dengan besaran penghasilan wajib pajak.
    • Pajak Obyektif adalah pajak yang berdasar atas obyeknya. Misalnya Bea Masuk, Bea Meterai, Pajak Impor
  2. Berdasarkan dari siapa yang memungut pajak yaitu :
    • Pajak Negara, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat melalui Dirjen Pajak, Kantor Inspeksi Pajak yang tersebar di seluruh Indonesia, Dirjen Bea dan Cukai.
    • Pajak Daerah (Lokal), yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan terbatas pada rakyat daerah itu sendiri, termasuk diantaranya pajak yang dipungut oleh Pemda Tingkat I maupun Pemda Tingkat II.
  3. Berdasarkan penghasilan :
    a. Pajak Penghasilan (PPh), adalah pajak yang dibebankan pada penghasilan perorangan.

Jenis-jenis pajak penghasilan:

– Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh pasal 21)
PPh pasal 21 adalah pajak atas penghasilan berupa, gaji, upah, honorarium, dan lain-lain yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan

– Pajak Penghasilan Pasal 22 (PPh pasal 22)
PPh pasal 22 adalah pajak penghasilan yang dipungut oleh :
• Pemerintah atau lembaga pemerintah atau lembaga-lembaga negara lainnya
• Badan-badan tertentu, baik badan pemerintah maupun swasta

– Pajak Penghasilan Pasal 23 (PPh pasal 23)
PPh pasal 23 adalah pajak penghasilan yang dipotong atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak

– Pajak Penghasilan Pasal 24 (PPh pasal 24)
PPh pasal 24 adalah pajak yang dibayarkan di luar negeri atas penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar negeri yang dapat dikreditkan pada pajak penghasilan yang terutang atas seluruh penghasilan Wajib Pajak dalam Negeri.

– Pajak Penghasilan Pasal 25 (PPh pasal 25)
PPh pasal 25 adalah pajak penghasilan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap bulan.

– Pajak Penghasilan Pasal 26 (PPh pasal 26)
PPh pasal 26 adalah pajak penghasilan yang dikenakan atas penghasilan yang bersumber dari Indonesia yang diterima atau diperoleh Wajib pajak

b. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Pajak Pertambahan Nilai adalah pajak yang dikenakan atas setiap pertambahan nilai dari barang atau jasa. Indonesia menganut sistem tarif untuk PPN, yaitu 10 persen.

c. Bea Materai
Bea Materai adalah pajak yang dikenakan atas dokumen

d. Cukai
Cukai adalah pajak yang dipungut oleh negara secara tidak langsung kepada konsumen yang menggunakan objek cukai. Objek cukai misalnya tembakau, dan minuman keras.

C. Tarif pajak
Tarif pajak adalah dasar pembebanan besarnya pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak dan dinyatakan dalam bentuk persentase (%).

Jenis-jenis tarif pajak:
1. Tarif Pajak Regresif/Degresif
Tarif pajak regresif atau degresif merupakan tarif pajak yang persentase makin menurun apabila jumlah objek pajak semakin bertambah. Misalnya:
a) Jumlah objek pajak diantara 0 hingga Rp25.000.000 tarif pajaknya sebesar 15%.
b) Jumlah objek pajak di atas Rp 25.000.000 hingga Rp 50.000.000 tarif pajaknya sebesar 12,5%.
c) Jumlah objek pajak di atas Rp 50.000.000 hingga Rp 100.000.000 tarif pajaknya sebesar 10%.

  1. Tarif Pajak Tetap
    Tarif pajak tetap merupakan tarif pajak yang ditetapkan dalam nilai rupiah tertentu yang jumlahnya tetap. Misalnya: bea meterai senilai 3.000 rupiah ataupun senilai 6.000 rupiah.
  2. Tarif Pajak Progresif
    Tarif pajak progresif merupakan tarif pajak yang persentasenya meningkat apabila jumlah objek pajak bertambah.

Tarif pajak penghasilan (Pph) yang ditentukan sebagai berikut:
a. Penghasilan wajib pajak sebesar 0 hingga Rp25.000.000,- tarif pajak yang dikenakan 5%.
b. Penghasilan wajib pajak di atas Rp25.000.000 hingga Rp50.000.000 tarif pajak yang dikenakan 10%.
c. Penghasilan wajib pajak di atas Rp 50.000.000 hingga Rp 100.000.000 tarif pajak 15%

  1. Tarif Pajak Proporsional Tarif pajak proposional merupakan tarif pajak yang menggunakan persentase tetap. Misalnya : tarif PBB adalah sebesar 0,5%.
Prinsip Pemungutan, Jenis dan Tarif Pajak | lookadmin | 4.5