Pola Hubungan Antar Kelompok Sosial Dalam Masyarakat Multikultural

Pola Hubungan Antar Kelompok Sosial Dalam Masyarakat Multikultural – Dalam masyarakat yang multikultural, kelompok-kelompok sosial melakukan kontak dengan berbagai pola berbeda. Ada yang menghasilkan kerja sama, namun tak sedikit berujung konflik sosial. Bagaimanakah pola hubungan antar kelompok sosial dalam masyarakat multikultural? Mari simak bahasan berikut.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai pola hubungan antar kelompok sosial dalam masyarakat multikultural.

Kontak antara kelompok-kelompok yang berbeda dalam suatu tatanan masyarakat multikultural akan menghasilkan sejumlah pola berikut:

1) Akulturasi
Akulturasi terjadi manakala kebudayaan dua kelompok yang bertemu mulai membaur dan berpadu. Walau akulturasi lebih sering terjadi antara kebudayaan dua masyarakat yang posisinya relatif sama, namun tak tertutup kemungkinan dapat berlangsung antara dua kelompok yang posisinya tak sama.

2) Dominasi
Dominasi terjadi manakala suatu kelompok menguasai kelompok lain. Menurut William Kornblum (1988) ada beberapa kemungkinan yang mengikuti berlangsungnya dominasi, yakni:
Genocide
Genocide ialah pembunuhan secara sengaja dan sistematis terhadap anggota suatu kelompok tertentu.
• Pengusiran
Pengusiran terhadap warga atau anggota suatu kelompok juga merupakan pola yang sering terjadi dalam sejarah.
• Paternalisme
Paternalisme adalah suatu bentuk dominasi kelompok ras pendatang atas kelompok ras pribumi. Pola ini muncul manakala kelompok pendatang, yang secara politik lebih kuat, mendirikan koloni di daerah jajahan. Dalam pola hubungan paternalisme ini, penduduk pribumi tetap berada di bawah kekuasaan penguasa pribumi, namun penguasa pribumi diwajibkan mengakui kedaulatan penguasa asing atas wilayah mereka.
3) Eksploitasi
Eksploitasi dapat dimaknai sebagai tindakan memanfaatkan kelompok lain secara tidak wajar, seringkali dengan mengabaikan kepentingan anggota kelompok tersebut, demi memperoleh keuntungan. Eksploitasi ini bila disadari oleh anggota kelompok, dapat memicu resistensi (perlawanan) yang sangat mungkin mengarah pada pecahnya konflik sosial.

4) Segregasi
Segregasi merupakan tindakan suatu kelompok yang memisahkan diri dari pergaulan dengan kelompok sosial lainnya. Segregasi biasanya terjadi karena kelompok tersebut merasa dirinya lebih unggul. Tapi sebaliknya, dapat pula dilakukan karena kelompok tadi merasa rendah diri dan tak mampu menyesuaikan dengan kelompok lainnya.

5) Masyarakat Majemuk
Menurut J.S. Furnivall (1967), masyarakat majemuk merupakan masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih komunitas maupun kelompok-kelompok yang secara budaya dan ekonomi terpisah serta memiliki struktur kelembagaan yang berbeda satu dengan lainnya.
Dalam buku berjudul Netherlands India : A Study of Plural Economy (1967), mengungkapkan bahwa kemajemukan masyarakat Indonesia pada masa Hindia-Belanda paling tidak terdiri atas tiga golongan, yaitu:
1) Orang-orang Belanda/Eropa sebagai golongan pertama.
2) Orang-orang Tionghoa sebagai golongan menengah.
3) Orang-orang pribumi sebagai golongan ketiga.
Sedangkan Nasikun (1990) menyatakan bahwa masyarakat majemuk merupakan suatu masyarakat yang menganut sistem nilai yang berbeda di antara berbagai kesatuan sosial yang menjadi anggotanya sehingga para anggota masyarakat tersebut kurang memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai suatu keseluruhan, kurang memiliki homogenitas kebudayaan, atau bahkan kurang memiliki dasar untuk mengembangkan sikap saling memahami.
Pierre van de Berghe (1967) mengemukakan beberapa karakteristik masyarakat majemuk, sebagai berikut:
• Terjadinya segmentasi ke dalam kelompok-kelompok yang mempunyai kebudayaan, tepatnya subkebudayaan yang berbeda satu dengan lainnya.
• Memiliki struktur sosial yang terbagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat non-komplementer.
• Kurang mengembangkan konsensus di antara para anggota masyarakat mengenai nilai-nilai sosial yang bersifat dasar.
• Secara relatif, sering terjadi konflik antar kelompok.
• Secara relatif, integrasi sosial tumbuh di atas paksaan (coercion) dan ketergantungan ekonomi.
• Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok terhadap kelompok-kelompok lain.

6) Pluralisme
Subkhan (2007) menyatakan pluralisme tidak semata menunjuk pada kenyataan tentang adanya kemajemukan. Namun, yang dimaksud adalah keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan tersebut.

RANGKUMAN

1) Kontak antara kelompok-kelompok yang berbeda dalam suatu tatanan masyarakat multikultural akan menghasilkan sejumlah pola.
2) Pola-pola tersebut, antara lain, akulturasi, dominasi, eksploitasi, segregasi, masyarakat majemuk, dan pluralisme

Pola Hubungan Antar Kelompok Sosial Dalam Masyarakat Multikultural | lookadmin | 4.5