Perwilayahan Berdasarkan Fenomena Geografis

Perwilayahan Berdasarkan Fenomena Geografis – Wilayah adalah suatu kesatuan yang kompleks dari tanah, air, udara, tumbuhan, hewan, dan manusia yang dipandang dari hubungan mereka yang khusus yang secara bersama-sama membentuk suatu ciri tertentu di atas permukaan bumi. Bagaimanakah pewilayahan berdasarkan fenomena geografis ? Mari cermati materi pelajaran kali ini.

      Istilah lain dari wilayah yang umum digunakan adalah ‘region’. Wilayah merupakan bagian dari permukaan bumi yang memiliki karakteristik tertentu dan berbeda dengan wilayah lainnya. Misalnya, wilayah pedesaan memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan wilayah perkotaan dengan melihat beberapa aspek baik fisik maupun sosial.

Wilayah terbentuk dari beberapa komponen, baik komponen biotik maupun abiotik. Komponen biotik, antara lain, hewan, tumbuhan, dan manusia. Adapun yang termasuk komponen abiotik, diantaranya, air, tanah, udara, serta keadaan iklim. Komponen-komponen tersebut akan langsung berinteraksi dan mempengaruhi satu dengan yang lain, sehingga akan membentuk suatu wilayah yang mempunyai karakteristik tertentu sekaligus dapat dibedakan dengan wilayah lainnya.

Karakteristik wilayah dapat dikaji dari beberapa aspek. Contohnya, aspek fisik dan nonfisik atau sosial budaya yang menjadikan wilayah tersebut mempunyai keseragaman (homogenitas). Dalam kehidupan sehari-hari, sering dijumpai beberapa istilah, seperti wilayah permukiman, wilayah perkebunan, dan wilayah pertambangan.

Secara umum, pembagian wilayah atau disebut pewilayahan di permukaan bumi dapat didasarkan pada beberapa aspek, seperti aspek alamiah (natural region) dan aspek kebudayaan (cultural region). Ada beberapa contoh pewilayahan berdasarkan aspek alamiah, yaitu :
a) Berdasarkan ketinggian dan relief di permukaan bumi ialah wilayah pantai, wilayah dataran rendah, wilayah dataran tinggi, dan wilayah pegunungan.
b) Berdasarkan jenis tanah, misalnya, wilayah kapur, wilayah aluvial, wilayah terrarosa, dan lain-lain.
c) Berdasarkan keadaan iklim, yakni wilayah tropis, wilayah subtropis, wilayah sedang, dan wilayah kutub.
d) Berdasarkan persebaran vegetasi dan faunanya, misalnya, wilayah atau bioma hutan hujan tropis, hutan musim, sabana, stepa, gurun, taiga, dan tundra.
Adapun contoh-contoh wilayah berdasarkan tingkat kebudayaannya, antara lain, wilayah pedesaan dan perkotaan, wilayah industri, dan wilayah agraris.

Dalam membahas konsep wilayah, ada sebagian ahli yang hanya mengkaji gejala-gejala (fenomena) dari sifat-sifat alami saja. Misalnya, berdasarkan kesamaan ketinggian tempat sehingga terbentuk wilayah dataran tinggi atau pegunungan, perbukitan, daerah aliran sungai, dan wilayah pantai. Sebagian ahli lainnya membahas konsep wilayah berdasarkan gejala-gejala lainnya dari wilayah-wilayah tertentu, misalnya wilayah Banyumasan dengan karakteristik sebagian besar penduduknya menggunakan bahasa Banyumas, wilayah Sunda dengan bahasa Sunda, wilayah Batak dengan bahasa Batak, wilayah Minahasa dengan bahasa Minahasa, dan wilayah Banjar dengan bahasa Banjar.

Di samping itu, ahli-ahli lainnya membahas konsep wilayah berdasarkan gejala-gejala geografis yang mengaitkan gejala-gejala alami dengan gejala-gejala kemanusiaan. Misalnya, mengaitkan gejala alami (curah hujan, kondisi tanah, ketinggian, tempat, cuaca, dan iklim setempat) dengan aktivitas penduduk sehingga muncul wilayah pertanian lahan basah, wilayah pertanian lahan kering, wilayah perkebunan, wilayah peternakan, wilayah hutan lindung, wilayah pemukiman pedesaan, wilayah pemukiman perkotaan, dan wilayah perikanan pantai.

Berikut penjelasan mengenai beberapa contoh pewilayahan secara geografis :
1) Wilayah pertanian lahan basah
Merupakan wilayah di mana tanahnya jenuh dengan air, baik bersifat permanen (menetap) atau musiman. Wilayah-wilayah itu sebagian atau seluruhnya kadang-kadang tergenangi oleh lapisan air yang dangkal. Digolongkan ke dalam lahan basah ini, di antaranya, adalah rawa-rawa (termasuk rawa bakau), payau, dan gambut. Air yang menggenangi lahan basah dapat tergolong ke dalam air tawar, payau, atau asin. Banyak kawasan lahan basah yang merupakan lahan subur, sehingga kerap dibuka, dikeringkan, dan dialihfungsikan menjadi lahan-lahan pertanian.

2) Wilayah pertanian lahan kering
Pertanian lahan kering adalah kegiatan pertanian yang dilakukan di lahan kering. Lahan kering ditandai dengan rendahnya curah hujan (kurang dari 250-300 mm/tahun), indeks kekeringan (rasio/perbandingan antara curah hujan dan evapotranspirasi kurang dari 0,2), variasi tanaman sangat terbatas, suhu yang sangat tinggi (melebihi 49 derajat celsius pada musim panas), serta tekstur tanah adalah pasir.
Lahan kering terjadi sebagai akibat dari curah hujan yang sangat rendah, sehingga keberadaan air sangat terbatas, suhu udara tinggi, dan kelembaban rendah. .

3) Wilayah hutan lindung
Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan guna mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah. Hutan lindung dapat ditetapkan di wilayah hulu sungai (termasuk pegunungan di sekitarnya) sebagai wilayah tangkapan hujan, di sepanjang aliran sungai bilamana dianggap perlu, di tepi-tepi pantai (misalnya pada hutan bakau), serta tempat-tempat lainnya sesuai fungsi yang diharapkan.

Perwilayahan Berdasarkan Fenomena Geografis | lookadmin | 4.5