Close Klik 2x

Perlawanan Rakyat Sumatera

Advertisement

Perlawanan Rakyat Sumatera – Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mengetahui bentuk perlawanan rakyat Sumatera terhadap pemerintahan kolonial Belanda.

PERLAWANAN RAKYAT SUMATERA

Upaya pemerintah kolonial Belanda di daerah Sumatera, yang bermaksud memperluas wilayah kekuasaan dengan berbagai taktik, mendapatkan perlawanan dari tokoh setempat. Siapa saja tokoh perlawanan tersebut? Berikut penjelasannya.

Semasa pendudukan kolonial, sejumlah daerah tercatat melakukan perlawanan terhadap pendudukannya. Tidak terkecuali di daerah Sumatera dengan dipimpin oleh beberapa tokoh, di antaranya:

1. Aceh
Perlawanan di Aceh disebabkan beberapa hal, yaitu:
a. Agresi Belanda ke Aceh karena dibajaknya kapal Eropa di perairan Aceh.
b. Pembukaan Terusan Suez sehingga menjadikan Aceh sebagai daerah strategis lintas dagang.
c. Perjanjian antara Inggris dan Belanda pada 2 November, yakni Traktat Sumatera yang mengatur perluasan kekuasaan Belanda di Aceh dan Inggris di Siak.
d. Penolakan Aceh untuk mengakui pemerintahan kolonial Belanda
Perang Aceh berlangsung karena masyarakat tidak bersikap kooperatif atas permintaan-permintaan yang diajukan Belanda. Salah satunya yaitu menyembunyikan kontak yang mereka lakukan dengan Konsul Italia dan Amerika Serikat.
Perang ini dimulai pada tahun 1873, dengan 3.800 pasukan Belanda yang berhasil dipukul mundur oleh pasukan Aceh. Jenderal Kohler sebagai pemimpin pasukan meninggal dalam pertempuran.
Upaya penaklukan selanjutnya di bawah Jenderal van

Swieten menyerang Istana Aceh dengan kekuatan 8.000 pasukan akhirnya berhasil menguasai Istana Aceh. Namun, perlawanan rakyat tetap berlangsung di bawah Panglima Polim. Berbagai strategi yang dilakukan Belanda sepertibenteng stelsel atau concentratie stelsel tidak kunjung berhasil menaklukkan Aceh. Barulah, pada 1899, melalui penelitian Dr. Snouck Hurgronje tentang tata negara Aceh, mereka mengetahui kelemahan pasukan Aceh dan mengirimkan pasukan ke Aceh Besar. Dalam pertempuran itu, pasukan Belanda berhasil menguasai Aceh dan memaksa mereka menandatangani Perjanjian Pendek yang berisi:
a. Setiap kerajaan mengakui daerahnya sebagai bagian kekuasaan Belanda.
b. Berjanji tidak mengadakan hubungan dengan pemerintah asing.
c. Menaati perintah yang diberikan pemerintahan kolonial Belanda.
Gempuran terus-menerus dari pasukan Belanda akhirnya memaksa terhentinya perlawanan. Tercatat beberapa tokoh perjuangan gugur di medan juang. Sebagian lagi tertangkap, di antaranya Sultan Aceh, Panglima Polim, dan Cut Nyak Dien.

2. Sumatera Timur
Sumatera Timur adalah sebutan lain untuk daerah Kerajaan Batak di Tapanuli. Dari daerah ini muncul perlawanan terhadap Belanda di bawah pimpinan raja terakhirnya, Sisingamangaraja XII, karena beberapa alasan yakni:
a. Penolakan Sisingamangaraja XII atas keinginan Belanda mengambil beberapa kota di kerajaannya karena dianggap akan memperkecil wilayah kerajaan.
b. Perwujudan Pax Neederalandica atau penyatuan wilayah di bawah Belanda, dengan menguasai daerah Tapanuli Utara sebagai bagian dari Tapanuli Selatan. Strategi ini dilakukan dengan menempatkan pasukan Belanda di Tarutung untuk melindungi pewarta agama Kristen, yakni seorang misionaris bernama Nommensen.
Peperangan bermula pada tahun 1878 selama kurang lebih 7 tahun di kota-kota kecil daerah Tapanuli, namun belum membuahkan hasil. Barulah pada tahun 1904, di bawah pimpinan Van Daelen yang menyerang ke Bakkara, perlawanan Kerajaan Tapanuli perlahan mulai dapat diredam sehingga memaksa Sisingamangaraja XII mengungsi ke hutan. Pada 17 Juni 1907, dalam sebuah serangan yang dipimpin Kapten Christoffle, Sisingamangaraja menemui ajalnya. Makam Sisingamangaraja XII ditempatkan di depan tangsi militer Belanda dan kemudian pada 1953 dipindahkan ke Soposurung, Balige.

3. Sumatera Barat
Perang di Sumatera Barat atau dikenal dengan ‘Perang Padri’ muncul sebagai dampak dari upaya Belanda memecah belah masyarakat. Bermula dari munculnya gerakan Wahabiah dengan tujuan memurnikan ajaran Islam oleh Kaum Padri, muncul pertentangan dari kelompok yang merupakan keturunan Raja Minangkabau atau disebut ‘Kaum Adat’. Dalam perkembangannya, pemerintah kolonial Belanda berpihak kepada Kaum Adat. Keberpihakan ini dituangkan dalam perjanjian yang juga mengatur pendudukan Belanda di beberapa daerah Sumatera Barat dengan alasan menjaga keberlangsungan perjanjian damai.
Pendudukan ini ternyata hanya bagian dari taktik lain Belanda untuk menduduki wilayah Sumatera Barat. Perlawanan pun kemudian terjadi dalam dua bagian, Perang Padri I berlangsung pada 1821-1825 dan Perang Padri II pada 1830-1837. Perang Padri berlangsung dalam dua periode karena di akhir periode pertama sempat diadakan perjanjian damai di Bonjol dan Padang, terlebih karena posisi pasukan Belanda yang terdesak akibat harus membantu perang melawan Pangeran Diponegoro. Namun, setelah Perang Diponegoro usai, perlawanan kembali terjadi bahkan lebih sengit. Perlawanan rakyat Sumatera Barat dipimpin langsung oleh Tuanku Imam Bonjol dan dengan bantuan pasukan dari Jawa di bawah pimpinan Sentot Ali Basyah Prawirodirdjo. Perlawanan tersebut berhasil dikalahkan Belanda dengan menangkap Tuanku Imam Bonjol dan mengasingkannya.

RANGKUMAN

1) Perlawanan rakyat Sumatera terhadap pemerintahan Kolonial Belanda berlangsung di berbagai tempat.
2) Pusat perlawanan tercatat di Aceh, Sumatera Timur, dan Sumatera Barat

Perlawanan Rakyat Sumatera | lookadmin | 4.5