Perlawanan Rakyat Maluku

Perlawanan Rakyat Maluku – Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan memahami bentuk perlawanan dari rakyat Maluku pada pemerintahan kolonial Belanda.

PERLAWANAN RAKYAT MALUKU

Perlawanan rakyat Maluku terhadap pendudukan Belanda dipimpin oleh beberapa tokoh pejuang. Beberapa di antaranya adalah Kapiten Pattimura dan Martha Christina Tiahahu. Bagaimana perjuangan mereka dilakukan? Berikut penjelasannya.

Maluku adalah daerah timur di Indonesia yang berulang kali menjadi daerah koloni dari beberapa negara. Portugis, Inggris, dan terakhir Belanda, tercatat pernah menduduki daerah ini karena kekayaan alamnya yaitu rempah-rempah yang menjadi komoditi dagang negara-negara Eropa.
Di masa penjajahan Belanda, tercatat beberapa perlawanan dari daerah ini yang dipimpin oleh tokoh setempat. Berikut adalah beberapa tokoh tersebut.

  1. PATTIMURA Latar belakang terjadinya perlawanan terhadap Pemerintahan Kolonial Belanda di bawah pimpinan Thomas Matulessy atau dikenal dengan Kapiten Pattimura, antara lain: • Kebijakan monopoli dagang yang diberlakukan Belanda di daerah ini semasa peralihan kekuasaan dari Inggris. • Pemberlakuan Pajak Wajib dan Tanam Paksa, dengan mewajibkan seluruh masyarakat membayar pajak kepada kolonial dan menyerahkan hasil bumi mereka kepada Belanda untuk dihargai sesuai dengan keinginan penjajah. • Pemberlakuan sistem mata uang tunggal sebagai ganti mata uang yang sebelumnya beredar di Maluku. • Perekrutan paksa untuk menjadi serdadu Belanda. Kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh Belanda mendapatkan protes dari masyarakat setempat. Mereka mengirimkan daftar keluhan yang ditandatangani oleh tokoh-tokoh setempat. Namun, langkah ini tidak mendapat tanggapan dari pihak Belanda. Sebagai reaksi, rakyat Maluku mengumpulkan pasukan untuk menyerang benteng pertahanan Belanda, Duurstede, di Saparua pada Mei 1817. Dalam penyerangan ini, benteng berhasil dikuasai, bahkan mereka dapat menahan Residen (perwakilan pemerintah) Belanda, Van den Berg. Pada November 1817, Belanda mengirimkan pasukan dalam jumlah besar yang dipimpin oleh Kapten Lisnet dan Mayer untuk merebut Duurstede. Penyerangan ini berhasil menangkap Kapiten Pattimura dan beberapa pengikutnya seperti, Thomas Pattiwael, Raja Tiow, Lukas Latumahina, dan Johanes Mattulessi. Pasca tertangkapnya Pattimura, Belanda menawarkan kesempatan untuk bekerja sama. Penawaran ini ditolak oleh Kapiten Pattimura, sehingga akhirnya pada 16 Desember 1817, Pattimura dihukum gantung di depan Benteng Victoria, Ambon.
  2. Martha Christina Tiahahu Martha Christina Tiahahu adalah pejuang wanita yang berasal dari Tanah Maluku. Ayahnya merupakan salah satu orang kepercayaan dari Kapiten Pattimura, yaitu Paulus Tiahahu. Perjuangan Martha Christina Tiahahu sebagian besar bertempat di Pulau Nusa Laut dan Saparua. Yang menarik adalah bahwa dalam perjuangannya, Martha Christina Tiahahu yang terbilang remaja selalu berdampingan dengan ayahnya. Perlawanan kedua tokoh Maluku ini terhenti dalam sebuah pertempuran di Pulau Saparua. Kondisi persenjataan dan pasukan yang tidak berimbang membuat perlawanan mereka dapat dipatahkan Belanda. Dalam pertempuran ini, Paulus Tiahahu ditembak mati oleh Belanda, sedangkan Martha Christina Tiahahu berhasil melarikan diri ke hutan dan bergerilya sebelum akhirnya tertangkap serta dibawa untuk diasingkan ke Pulau Jawa. Dalam pelayaran menuju Pulau Jawa, Martha Christina Tiahahu menolak untuk makan dan menjalani pengobatan yang diberikan oleh Belanda. Akibatnya kesehatannya terus memburuk dan akhirnya wafat di atas kapal perang tersebut. Pada 2 Januari 1818, jasad Martha Christinan Tiahahu ditenggelamkan di Laut Banda dari atas kapal Perang Eversten. Kapal itu semula bertujuan membawanya menuju pengasingan di Pulau Jawa.

RANGKUMAN

1) Kapiten Pattimura dan Martha Christina Tiahahu adalah pejuang kemerdekaan dari Maluku.
2) Perjuangan rakyat Maluku melawan Belanda tidak mengenal kompromi dan menolak segala bentuk kerja sama yang ditawarkan.

Perlawanan Rakyat Maluku | lookadmin | 4.5