Close Klik 2x

Perlawanan Menentang Kolonialisme Periode Setelah Tahun 1800

Advertisement

Perlawanan Menentang Kolonialisme Periode Setelah Tahun 1800 – Kekuasaan pemerintah kolonial Belanda nyata mengakibatkan kerugian dan penderitaan bagi masyarakat. Itulah sebabnya muncul berbagai gerakan perlawanan di sepenjuru negeri. Bagaimanakah perlawanan menentang kolonialisme periode setelah tahun 1800? Mari simak bahasan berikut.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai perlawanan menentang kolonialisme periode setelah tahun 1800.

1. PERLAWANAN RAKYAT MALUKU

Setelah penyerahan kekuasaan dari pemerintah Inggris kepada Belanda, di Maluku terjadi pemberontakan sebagai reaksi masyarakat Maluku atas kedatangan kembali Belanda ke Maluku. Perlawanan rakyat Maluku berkobar di Pulau Saparua, dipimpin oleh Thomas Mattulessi (Pattimura). Saat itu, Benteng Duurstede berhasil dihancurkan oleh pasukan Maluku. Dalam peristiwa itu, pasukan Belanda kemudian didatangkan dari Ambon, tetapi berhasil dikalahkan.

Perlawanan rakyat Saparua menjalar ke Ambon, Seram, dan pulau-pulau lainnya. Untuk memadamkan perlawanan rakyat Maluku ini, Belanda mendatangkan pasukan dari Jawa. Maluku pun diblokade oleh Belanda, sehingga rakyat akhirnya menyerah karena kekurangan makanan. Untuk menyelamatkan rakyat dari kelaparan, Pattimura menyerahkan diri dan dihukum mati.

Pemimpin perlawanan diambil alih oleh Christina Martha Tiahahu, seorang pejuang perempuan, namun akhirnya ia ditangkap pula. Sewaktu diasingkan ke Pulau Jawa, ia meninggal dalam perjalanan. Akibat pemberontakan ini, pemerintah Belanda menerapkan pembatasan ketat terhadap aktivitas rakyat Maluku.

2. PERLAWANAN RAKYAT JAWA

Di Pulau Jawa, dengan kembalinya kekuasaan Belanda di Indonesia, menimbulkan kekecewaan, kegelisahan, bahkan kebencian di lingkungan Kesultanan Yogyakarta. Sejak masa kepemimpinan Daendels maupun Raffles, wilayah dan kekuasaan kesultanan selalu dipersempit. Keadaan tersebut mendapat perhatian dari Pangeran Diponegoro. Ia merasa terpanggil untuk memimpin untuk perlawanan terhadap Belanda.

Pangeran Diponegoro dibantu oleh Sentot Alibasyah Prawirodirjdo, Kyai Mojo, dan Pangeran Mangkubumi. Dalam pertempuran awal, Pangeran Diponegoro memperoleh kemenangan. Hal ini disebabkan sebagian tentara Belanda dikerahkan untuk memadamkan perlawanan di luar Jawa. Selain itu, pasukan Pangeran Diponegoro masih memiliki semangat tinggi untuk mengusir Belanda. Agar tidak mudah disergap Belanda, Pangeran Diponegoro melakukan perang gerilya. Ia memindah-mindahkan markasnya dari Tegalrejo ke Selarong, Plered, Dekso, Pengasih, dan Pegunungan Menoreh sebagai pertahanan terakhir.

Menghadapi pasukan Diponegoro ini, Belanda melakukan strategi untuk memperlemah kekuatan musuh. Belanda mengangkat kembali Sultan Sepuh (Hamengkubowono II). Ini bertujuan agar para bangsawan yang membantu Diponegoro kembali ke istana. Siasat ini gagal karena Sultan Sepuh tidak lama kemudian meninggal. Untuk mempersempit ruang gerak Diponegoro, Jenderal de Kock menciptakan siasat ‘benteng stelsel’. Dengan cara ini, ruang gerak pasukan Diponegoro semakin sempit.

Pada tahun 1830, Pangeran Diponegoro diajak berunding oleh Jenderal De Kock di Magelang. Jenderal De Kock berjanji bahwa bila perundingan gagal, Pangeran Diponegoro bebas kembali ke markasnya. Namun, ternyata De Kock berbohong. Pangeran Diponegoro ditangkap lalu diasingkan ke Manado dan dipindahkan ke Makassar hingga akhir hayatnya.

3. PERLAWANAN RAKYAT SUMATERA (MINANGKABAU)

Perlawanan terhadap kekuasaan Belanda di Sumatera mula-mula berkobar di Minangkabau (Sumatera Barat). Perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda tersebut dimulai dengan konflik antara kaum adat dan kaum padri. Pada tahun 1821, Belanda masuk dalam perselisihan kedua golongan ini. Belanda memihak kaum adat sehingga berkobarlah perlawanan antara kaum padri melawan Belanda. Pemimpin kaum padri mula-mula dipegang oleh Tuanku nan Renceh, selanjutnya oleh Datuk Bendaharo, Tuanku Pasaman, dan Malim Basa. Malim Basa kemudian dikenal sebagai Tuanku Imam Bonjol.

Karena berkobar Perang Dipenogoro, Belanda mengadakan perdamaian dengan kaum padri. Kedua belah pihak sepakat untuk tidak saling menyerang. Keduanya akan saling menghormati batas wilayah masing-masing. Setelah perang Diponegoro berakhir, Belanda melakukan serangan bahkan berhasil merebut markas kaum padri di Bonjol. Setahun setelah itu, kaum adat bersatu dengan kaum Padri. Pada tahun 1833, mereka berhasil merebut kembali kota Bonjol.

Belanda kemudian melakukan politik adu domba. Belanda mengirim Sentot Alibasyah Prawirodirdjo dan tentaranya yang telah menyerah di Jawa ke Sumatera Barat. Maksudnya untuk berperang melawan pasukan Tuanku Imam Bonjol. Namun, Sentot melakukan kontak rahasia dengan kaum padri. Ia lalu ditangkap lagi dan diasingkan ke Bengkulu. Pada tahun 1837, Bonjol direbut Belanda dan Tuanku Imam Bonjol berhasil ditangkap. Ia dibuang ke Ambon, kemudian ke Minahasa. Perlawanan terhadap Belanda diteruskan oleh Tuanku Tambusi. Namun, tidak lama kemudian perang dapat diakhiri.

Perang Padri dapat dibagi ke dalam tiga tahap, yaitu:
• Tahun 1821-1825, ditandai dengan meluasnya perlawanan rakyat ke seluruh daerah Minangkabau.
• Tahun 1825-1830, ditandai dengan meredanya pertempuran karena Belanda berhasil mengadakan perjanjian dengan kaum padri yang mulai melemah. Ketika itu, Belanda sedang memusatkan perhatiannya pada Perang Diponegoro di Jawa.
• Tahun 1830-1838, ditandai dengan perlawanan kaum padri yang meningkat dan penyerbuan Belanda secara besar-besaran. Diakhiri dengan tertangkapnya pemimpin-pemimpin kaum padri.

4. PERLAWANAN RAKYAT KALIMANTAN SELATAN (BANJAR)

Perlawanan rakyat Banjar terhadap pemerintah Belanda meletus pada tahun 1859 disebabkan rakyat dan beberapa bangsawan Banjar tidak senang dengan campur tangan Belanda terhadap pengangkatan Sultan. Perlawanan berlangsung di bawah pimpinan Pangeran Antasari.

Pada Oktober 1862, Pangeran Antasari merencanakan serangan besar-besaran ke benteng Belanda. Kekuatan sudah dikumpulkan. Namun, saat itu, wabah cacar menyerang. Pangeran Antasari pun terkena hingga merenggut nyawanya. Ia meninggal dunia di Bayan Begak pada 11 Oktober 1862.

RANGKUMAN

1) Perlawanan rakyat Maluku berkobar di Pulau Saparua, dipimpin oleh Thomas Mattulessi (Pattimura).
2) Perlawanan rakyat berkobar di Pulau Jawa, dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.
3) Perlawanan terhadap kekuasaan Belanda di Sumatera mula-mula berkobar di Minangkabau (Sumatera Barat).
4) Perlawanan rakyat Banjar terhadap pemerintah Belanda berlangsung di bawah pimpinan Pangeran Antasari.

 

Advertisement
Perlawanan Menentang Kolonialisme Periode Setelah Tahun 1800 | lookadmin | 4.5