Close Klik 2x

Perkembangan Sistem Kehidupan Masyarakat Awal Indonesia

Advertisement

Perkembangan Sistem Kehidupan Masyarakat Awal Indonesia – Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai perkembangan sistem kehidupan masyarakat awal Indonesia.

PERKEMBANGAN SISTEM KEHIDUPAN MASYARAKAT AWAL INDONESIA

      Kehidupan di bumi telah ada sejak jutaan tahun lalu, dengan corak yang tentunya jauh berbeda dengan kehidupan masa kini. Bagaimanakah perkembangan sistem kehidupan masyarakat awal Indonesia ? Mari simak bahasan berikut.

A. KEHIDUPAN AWAL

Kehidupan awal di bumi diperkirakan telah ada sejak Kala Pleistosen atau dikenal juga dengan sebutan Dillivium. Era ini berlangsung dari 3.000.000-10.000 tahun yang lalu. Berdasarkan hasil penelitian, zaman ini disebut juga sebagai zaman es (glasial) karena suhu bumi yang sangat rendah dan mencairnya gletser di Kutub Utara yang menutupi sebagian Benua Eropa, Asia dan Amerika.
Di masa ini juga terjadi beberapa peristiwa alam yang cukup ekstrem dan mempengaruhi kehidupan manusia, misalnya meluasnya permukaan es di permukaan bumi, perubahan iklim, pasang surut air laut, letusan gunung berapi dan munculnya sungai atau danau. Beberapa daratan baru juga terbentuk sebagai akibat dari menurunnya permukaan air laut. Pada masa ini juga disebutkan bahwa Kepulauan Indonesia bagian timur yang masih labil pernah terhubung ke daratan Australia. Hal ini dibuktikan dengan miripnya corak kebudayaan dari masyarakat Indonesia bagian Timur dengan masyarakat Australia khususnya penduduk asli, Suku Aborigin.
Beberapa teori yang muncul, salah satunya dari Eugene Dubois menyebutkan bahwa banyaknya penemuan fosil manusia purba di Indonesia tidak terlepas dari iklim tropis Indonesia yang nyaman dan disukai oleh manusia purba. Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Eropa menemukan beberapa jenis manusia purba di Indonesia, di antaranya :

1. Pithecanthropus (Manusia Kera)
Pithecanthropus menempati urutan teratas dari fosil yang banyak ditemukan di Indonesia. Kerap kali ditemukan di lapisan pleistosen bawah dan tengah. Makhluk ini hidup secara berkelompok, dengan berburu atau menangkap ikan serta mengumpulkan makanan. Peralatan hariannya, antara lain, kapak genggam, kapak perimbas, kapak penetak, dan flakes atau alat-alat serpih.
Makanan yang mereka konsumsi umumnya mentah, tanpa dimasak. Eugene Dubois juga menyimpulkan bahwa volume otak dari jenis Pithecanthropus adalah sekitar 900 cc. Dengan perkataan lain, berada di antara volume otak manusia 1000 cc dan kera yang 600 cc. Itulah sebabnya makhluk ini dinamakan manusia kera.
Beberapa variasi dari Pithecanthropus antara lain :

a. Pithecanthropus eectus
Diteliti pertama kali oleh Eugene Dubois di Pulau Jawa pada 1890. Penemuan fosil berpusat di desa Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Penemuan fosil ini kerap dikaitkan dengan teori pendahulunya, yakni Teori Darwin sebagai makhluk peralihan dari kera ke manusia (missing link)

b. Pithecanthropus Mojokertensis
Hasil penelitian dari Von Koenigswald pada 1936 di Perning, Mojokerto. Fosil ditemukan berupa tengkorak anak-anak.

c. Pithecanthropus Robustus
Fosil ini ditemukan juga oleh Von Koenigswald di Trinil, Ngawi, Jawa Timur pada 1939. Ia dibantu oleh Weidenrich yang menyimpulkan bahwa manusia purba ini sedikit lebih besar dan kuat daripada penemuan fosil Pithecanthropus sebelumnya.
Selain daerah di atas sebagai pusat penelitian dan penemuan fosil Pithecanthropus, fosil manusia purba jenis ini juga diperkirakan berada di daerah lembah Bengawan Solo, Sangiran, dan Sragen. Di daerah ini, penelitian dilakukan oleh Teuku Jacob dengan penamaanPithecanthropus soloensis di tahun 1967. Di luar Indonesia, fosil Pithecanthropus * ditemukan di daratan Asia, Afrika dan Eropa. Secara spesifik di gua Chou Kou Tien dan Kenya.

2. *Meganthropus Palaeojavanicus
Dalam penelitiannya pada 1936 – 1941 di Pulau Jawa, arkeolog Von Koenigswald menemukan fosil manusia purba di lapisan pleistosen tertua. Dengan bentuk dan ukuran tubuh yang jauh lebih besar, manusia purba jenis ini dianalisis bertahan hidup dengan cara mengumpulkan makanan tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan.

3. Homo
Secara teori penelitian, manusia purba jenis ini sudah lebih maju dari manusia purba jenisPithecanthropus dan meganthropus. Secara fisik, manusia jenis homo sudah mirip dengan manusia modern zaman sekarang. Tingkat kecerdasan sudah lebih tinggi dan menggunakan alat-alat tertentu untuk memudahkan perburuan atau proses mencari makan. Makhluk ini sudah mengenal api dan mengolah makanannya dengan cara dikuliti dan dibakar atau dimasak. Namun, dari pola hidup, manusia ini tetap hidup secara berpindah-pindah. Salah satunya karena masih sangat tergantung dari persediaan makanan di sekitar tempat hidupnya. Beberapa alat-alat peninggalan makhluk homo ditemukan di daerah sekitar Ngandong dan Sidorejo. Dua jenis manusia homo yang ditemukan di Indonesia adalah Homo wajakensis danHomo soloensis. Alat-alat perkakas yang mereka bentuk berasal dari batu chalchedon danjaspis.
Dalam perkembangannya, manusia ras Homo dikelompokkan menjadi 5 sub spesies antara lain :
a. Ras Mongoloid, tersebar di Asia Tenggara dan Timur serta sebagian Asia Selatan.
b. Ras Kaukasoid, tersebar di daratan Eropa danTimur Tengah.
c. Ras Negroid, tersebar di wilayah Afrika, Australia dan Papua.
d. Ras Austro Melanesoid, tersebar di Kepulauan Asia Pasifik dan sebagian benua Asia dan Australia.
e. Ras Kausanoid, menjadi penduduk asli di wilayah Amerika.

B. KEBUDAYAAN

Sebagai bagian dari penelitian, artefak memegang peranan penting dalam menentukan corak kehidupan dan tingkat kecerdasan dari manusia purba di zamannya. Sebagian peninggalan berupa kapak karena kebutuhan manusia purba untuk membuka lahan dan menangkap buruan untuk makanannya. Dari penemuan kapak ini disimpulkan bahwa masyarakat awal memiliki sistem kehidupan hunting and food gathering. Dalam masa peralihan dari Zaman Batu ditemukan juga beberapa tugu besar, batu besar, dan beberapa bangunan megah dari batu lainnya yang difungsikan sebagai sarana pemujaan bagi masyarakat. Sedangkan di Zaman Logam sendiri, peralatan dari batu digantikan bentuk lain yang ditempa dari logam namun masih tetap berfungsi sebagai sarana ritual kepercayaan.

RANGKUMAN

1) Beberapa jenis manusia purba di Indonesia, yakni Pithecanthropus (Manusia Kera),Meganthropus paleojavanicus, dan Homo.
2) Sebagai bagian dari penelitian, artefak memegang peranan penting dalam menentukan corak kehidupan dan tingkat kecerdasan dari manusia purba di zamannya.

Perkembangan Sistem Kehidupan Masyarakat Awal Indonesia | lookadmin | 4.5