Perkembangan Masyarakat Zaman Batu

Perkembangan Masyarakat Zaman Batu – Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai perkembangan masyarakat pada zaman batu.

Perkembangan Masyarakat Zaman Batu

Zaman batu adalah masa prasejarah yang luas, ketika manusia menciptakan alat dari batu karena belum memiliki teknologi yang lebih baik. Bagaimanakah perkembangan masyarakat pada Zaman Batu? Untuk mengetahui lebih lanjut, mari simak bahasan berikut.

Disebut Zaman Batu karena pada masa ini perkakas manusia (purba) yang menjadi penghuninya masih terbuat dari batu. Demikian juga benda-benda budaya dari manusia praaksara pada zaman ini yang banyak terbuat dari batu. Ciri perkakas dari batu ini sedikit banyak juga memberikan gambaran kepada peneliti setelahnya mengenai tingkat pengetahuan maupun kebiasaan sosial dan ekonomi mahluk purba di masa itu.

Berdasarkan tingkat kerumitan perkakas masyarakatnya, Zaman Batu dikelompokkan menjadi 4 bagian utama yaitu :

1. Zaman Batu Tua (Paleolithikum)
Diperkirakan berlangsung pada masa plestosen lebih kurang 650.000 tahun yang lalu. Pada masa ini juga berlangsung zaman es (glasial) sehingga turut memperlambat perkembangan kebudayaan masyarakatnya. Perkakas yang dihasilkan masih sangat kasar dikarenakan masih minimnya pengetahuan tentang cara pembuatan alat-alat. Perkakas dihasilkan dengan cara dibenturkan satu sama lain untuk menghasilkan bentuk yang diinginkan. Berdasarkan tempat pernemuannya, zaman batu tua dibagi menjadi dua, yaitu :
a) Kebudayaan Pacitan
Di Pacitan dijumpai kapak genggam, kapak perimbas, kapak penetak, flake (alat serpih) dan beberapa perkakas kasar lainnya. Disebut kebudayaan Pacitan karena lokasi penemuan perkakas yang terbesar berada di daerah ini, tapi dalam penelitiaannya ditemukan juga perkakas dengan teknik serupa di beberapa daerah walaupun dalam jumlah kecil. Di antaranya, Lahat (Sumatera Selatan), Atambua (Timor), Perigi dan Gombong (Jawa Tengah), Awang Bangkal (Kalimantan Selatan), serta beberapa daerah lainnya.
b) Kebudayaan Ngandong
Di Ngandong lebih banyak dijumpai alat-alat serpih (flakes) dan beberapa alat-alat batu. Keduanya dihasilkan dengan teknik pembuatan yang masih kasar. Penemuan terbanyak ditemukan di Ngandong dan Sidorejo (Jawa Timur). Sedangkan di Sangiran (Jawa Tengah) dan Cabenge (Sulawesi Selatan) ditemukan alat serupa namun dengan kuantitas lebih kecil. Disebut juga dengan kebudayaan Ngandong karena di daerah inilah ditemukan banyak fosilPithecanthropus oleh Von Koenigswald di rentang tahun 1931-1933.

2. Zaman Batu Tengah (Mesolithikum)
Disebut juga Zaman Batu Madya, berlangsung pada masa Holosen. Perkakas yang digunakan oleh mahluk penghuni zaman ini telah mendapat pengaruh dari wilayah Asia daratan. Alat-alat yang digunakan masih meminjam model dari Zaman Batu Tua namun mengalami perubahan dalam cara pembuatan karena pengaruh dari luar. Pada masa ini juga ditemukan banyak sampah-sampah dapur dari kulit kerang di gua-gua pesisir pantai timur Sumatera dan pedalaman Jawa, Sulawesi, maupun Nusa Tenggara Timur sebagai pendukung teori bahwa manusia di masa ini telah mulai menetap walaupun tidak dalam jangka waktu yang lama.
Dari penelitian yang dilakukan, terutama di Indonesia ditemukan bahwa masing-masing daerah yang diklaim pernah ditinggali oleh manusia purba memiliki kekhasan peninggalan budaya masing-masing. Seperti misalnya kebudayaan Tukang Sampung dari ras Papua Melanesoid di bukit-bukit kerang Sumatra Timur, flakes (alat serpih), batu penggiling dan gerabah di gua-gua wilayah Maros, Bone, dan Bantaeng (Sulawesi Selatan). Sementara di daerah Timor, dan Nusa Tenggara Timur ditemukan alat serpih bergerigi dan alat serpih dari batu obsidian di daerah Priangan, Bandung. Penemuan flakes dalam jumlah banyak di beberapa tempat ini dijuluki Flakes Culture oleh arkeolog Alfred Buhler.

3. Zaman Batu Muda (Neolithikum)
Perkembangan kebudayaan pada masa ini sudah sangat maju. Terutama dikarenakan adanya migrasi bangsa Proto Melayu dari Yunan (Cina Selatan) ke wilayah Asia Tenggara. Pendatang tersebut membawa keahlian untuk mengasah benda-benda hingga halus dan pembuatan gerabah. Peninggalan kebudayaannya sendiri tersebar secara merata di seluruh Indonesia.
Kebudayaan Neolithikum dibagi menjadi dua, yaitu :
a) Kebudayaan Kapak Persegi
Kapak Persegi memliki bentuk persegi panjang atau trapesium. Umum ditemukan di daerah Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku dan Kalimantan. Berdasarkan penelitian, kebudayaan kapak persegi diyakini menyebar dari Asia daratan ke Nusantara melalui jalan barat yaitu Yunan (Cina Selatan), Semenanjung Malaka dan menyebar ke Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan sebagainya. Pada beberapa tempat tersebut juga dijumpai banyak pusat-pusat kerajinan kapak persegi yang umumnya dibuat dari batu-batu chalcedon yang sangat halus. Diperkirakan benda tersebut adalah lambang upacara, jimat, dan alat tukar.
b) Kebudayaan Kapak Lonjong
Disebut kapak lonjong karena penampangnya berbentuk lonjong dengan ujung lancip dan memiliki tangkai, sementara ujung lainnya diasah hingga tajam. Kapak berukuran besar dinamakan Walzenbeil dan yang berukuran kecil disebut Kleinbeil. Penyebaran kapak lonjong sebgian besar ditemukan di Papua. Karenanya disebut juga dengan Neolithikum Papua.

4. Zaman Batu Besar (Megalithikum)
Kebudayaan Batu Besar adalah kebudayaan yang ditandai dengan bangunan-bangunan monumental yang terbuat dari batu-batu besar. Diyakini pendirian bangunan-bangunan tersebut adalah untuk tujuan pemujaan terhadap arwah. Kebudayaan ini sendiri berlanggsung hingga Zaman Logam. Akibat lamanya jangka zaman ini berlangsung, sampai sekarang masih banyak dijumpai sisa-sisa tradisi tersebut di berbagai wilayah Indonesia.
Beberapa hasil kebudayaan Megalithikum yang menonjol adalah :
a) Menhir, yakni tugu besar yang terbuat dari batu inti, banyak ditemukan di Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan.
b) Dolmen, yaitu batu besar menyerupai meja dan terbuat dari batu utuh yang dihaluskan.Banyak ditemukan di Bondowoso (Jawa Timur).
c) Sarkofagus, yakni batu yang dibentuk seperti lesung dengan wadah dan tutup. Banyak dijumpai di Bali.
d) Peti Kubur Batu, yaitu bangunan dengan empat papan batu atau lebih menyerupai bentuk peti mati. Banyak ditemukan di Sumatera dan Kuningan (Jawa Barat)
e) Punden Berundak, yakni bangunan pemujaan dengan susunan bertingkat.

RANGKUMAN

1) Berdasarkan tingkat kerumitan perkakas masyarakatnya, Zaman Batu dikelompokkan menjadi 4 bagian utama yaitu Zaman Batu Tua (Paleolithikum), Zaman Batu Tengah (Mesolithikum), Zaman Batu Muda (Neolithikum), dan Zaman Batu Besar (Megalithikum).
2) Masing-masing zaman dikenal dengan perkakas atau pun peninggalan budayanya yang unik.

Perkembangan Masyarakat Zaman Batu | lookadmin | 4.5