Perkembangan Kerajaan Bercorak Islam di Indonesia

Perkembangan Kerajaan Bercorak Islam di Indonesia – Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai perkembangan kerajaan bercorak Islam di Indonesia.

PERKEMBANGAN KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA

Berkembangnya ajaran Islam menyebabkan banyak kerajaan tertarik untuk memeluknya dan menjadikannya sebagai pedoman pemerintahan. Bagaimanakah perkembangan kerajaan bercorak Islam di Indonesia? Mari simak bahasan berikut.

1. KERAJAAN (KESULTANAN) DEMAK

Pusat Kerajaan (Kesultanan) Demak terletak di daerah Bintoro, di muara Sungai Demak yang dikelilingi oleh daerah luas perairan Laut Muria. Pusat kerajaan terletak antara Bergota dan Jepara. Bergota adalah pelabuhan pada zaman Syailendra yang pernah menjadi pelabuhan ekspor bagi Mataram, sementara Jepara kemudian berkembang menjadi pelabuhan penting bagi Kerajaan Demak dan Mataram.

Kerajaan Demak dibangun oleh Raden Patah pada akhir abad ke-15. Pada mulanya, Demak bercorak agraris dengan hasil panen utama berupa beras, tetapi kemudian berkembang menjadi negara agraris-maritim karena letaknya yang strategis untuk pelayaran nasional. Oleh karena itu, timbullah keinginan Demak untuk dapat menggantikan kedudukan Malaka sebagai pusat perdagangan nasional maupun internasional. Pada masa pemerintahan Raden Patah yang bergelar ‘Sultan Alam Akbar’ (1475-1518), Kerajaan Demak dikembangkan dengan menjadikan Semarang maupun Jepara sebagai pelabuhan penting.

Raden Patah digantikan putranya, Pati Unus, yang memerintah tiga tahun (1518-1521). Ia wafat tanpa meninggalkan putra sehingga yang berhak menggantikannya adalah adiknya, Sekar Sedo Lepen. Akan tetapi, pangeran ini dibunuh oleh keponakannya dan yang menggantikannya adalah Raden Trenggono (1521-1546). Ia berhasil mengembangkan Demak menjadi kerajaan besar.

Ketika Portugis datang di bawah pimpinan Fransisco de Sa (1526) untuk membangun benteng, pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahillah (lebih dikenal sebagai Sunan Gunungjati) berhasil mengalahkannya. Pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahillah juga melancarkan serangan terhadap Majapahit. Selanjutnya, pada tahun 1546, armada Demak menyerang kekuasaan Hindu di Blambangan dengan sasaran utama adalah Panarukan. Meskipun telah dibantu armada Banten dan Cirebon, Demak gagal merebut Blambangan, bahkan Sultan Trenggono tewas dalam pertempuran tersebut.

Wafatnya Sultan Trenggono memberi peluang kepada keturunan Sekar Sedo Lepen yang merasa berhak atas takhta Kerajaan Demak. Tokoh keluarga ini adalah Aria Penangsang yang menjadi Bupati Jipang (Blora) sehingga antara keluarga Trenggono dan keturunan Sekar Sedo Lepen terjadi perang saudara.

Seorang menantu Sultan Trenggono yang berasal dari Pajang, yakni Joko Tingkir berhasil menguasai Demak. Setelah dinobatkan menjadi raja, Joko Tingkir bergelar ‘Sultan Adiwijoyo’ (1552-1575). Pusat kerajaan dipindahkan ke Pajang, sedangkan Demak diperintah Ario Panggiri sebagai Bupati.

Keruntuhan kerajaan Demak akhirnya memang disebabkan maraknya perang saudara. Kekacauan yang terjadi di pusat kekuasaan menyebabkan banyak wilayah melepaskan diri. Banten yang dibangun oleh Fatahillah melepaskan diri dari Demak. Daerah-daerah pantai utara Jawa Timur, seperti Tuban, Gresik, dan Surabaya juga melepaskan diri.

2. KERAJAAN (KESULTANAN) ACEH

Kerajaan Aceh terletak di bagian utara Daerah Istimewa Aceh (kini). Ibukotanya adalah kotaraja yang sekarang bernama Banda Aceh. Faktor-faktor yang mendorong berkembangnya kerajaan Aceh, di antaranya :

1) Kerajaan Aceh letaknya strategis, yaitu di tepi jalur perdagangan nasional maupun internasional.

2) Aceh dengan pelabuhannya, Olele, memiliki berbagai keunggulan untuk menjadi pelabuhan dagang.

3) Daerah pedalaman Aceh menghasilkan banyak lada sebagai bahan ekspor yang penting.

4) Aceh terletak di ujung barat nusantara sehingga berhadapan dengan daerah Timur Tengah yang merupakan pintu gerbang untuk perdagangan ke Eropa. Dalam hubungan agama Islam, daerah Aceh disebut sebagai ‘Serambi Mekkah’.
5) Setelah Kerajaan Malaka jatuh ke tangan Portugis, maka saingan untuk perdagangan di Selat Malaka berkurang.

Kerajaan Aceh melepaskan diri dari Pedir dan rajanya yang pertama bernama Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528). Di bawah beberapa orang Sultan, Aceh kemudian mengadakan perluasan wilayah ke Daya, Pasai, dan Aru di pantai timur Sumatera. Kerajaan Aceh mencapai kebesarannya di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda Perkasa Alam (1617-1636).

Kerajaan Aceh melanjutkan perluasan wilayah ke pantai timur Sumatera sampai Riau, sedangkan di pantai barat, perluasan sampai ke Bengkulu. Di daerah-daerah itu ditempatkan Panglima Aceh. Sementara itu, politik luar negeri Aceh bersifat bebas, artinya membuka pintu terhadap bangsa asing asalkan mereka tidak mencampuri urusan dalam negeri dan tidak menyiarkan agama selain Islam. Aceh juga mengadakan persekutuan dengan Belanda untuk memperbaiki kedudukannya dalam menghadapi musuh-musuhnya.

Kerajaan Aceh mengalami kemunduran sejak pertengahan abad ke-17 karena beberapa sebab, yakni :

• Setelah Sultan Iskandar Muda wafat (1637), tidak ada raja-raja besar yang mampu mengendalikan daerah Aceh. Di bawah Sultan Iskandar Thani (1637-1642) sebagai pengganti Sultan Iskandar Muda, kemunduran itu sudah terasa dan lebih-lebih waktu Aceh diperintah oleh Sultanah (Ratu).

• Timbulnya pertikaian yang terus-menerus di Aceh, yakni antara golongan bangsawan (Teuku) dengan golongan ulama (Tengku) guna saling berebut pengaruh. Antara golongan Tengku sendiri mudah terjadi pertikaian akibat aliran yang berbeda dalam agama Islam.

• Daerah-daerah yang dikuasai Aceh, seperti Johor, Pahang, Minangkabau, dan Siak melepaskan diri.
Kerajaan Aceh yang berdiri selama kira-kira empat abad, akhirnya runtuh karena dikuasai oleh Belanda pada permulaan abad ke-20.

RANGKUMAN

1) Kerajaan Demak dibangun oleh Raden Patah pada akhir abad ke-15.
2) Kerajaan Aceh melepaskan diri dari Pedir dan rajanya yang pertama bernama Ali Mughayat Syah (1514-1528 M).

Perkembangan Kerajaan Bercorak Islam di Indonesia | lookadmin | 4.5