Perbedaan Pantun dan Syair

Perbedaan Pantun dan Syair – Karakteristik puisi lama secara umum adalah tidak adanya nama pengarang, bersifat lisan, penggunaan gaya bahasa yang berbeda, serta beberapa aturan yang mengikatnya. Perbedaan ini membuat beberapa jenis puisi lama terkadang memiliki beberapa persamaan secara konsep dan bentuk. Contohnya adalah pantun dan syair.

Pantun dan syair adalah dua jenis puisi lama yang secara konsep sebenarnya berbeda. Keduanya juga memiliki karakter pembawaan bahasa yang berbeda. Untuk menilik lebih lanjut, coba simak perbedaan di antara keduanya berikut ini.

Pantun

Pantun merupakan jenis puisi lama yang berasal dari Melayu. Awalnya, pantun adalah puisi rakyat yang dinyanyikan atau biasa disenandungkan. Ada juga yang menyebutkan bahwa pantun berasal dari tulisan yang ada di daun-daun. Daun-daun ini berisi tulsian pantun yang ditulis untuk keperluan surat-menyurat.

Pantun sangat dikenal luas bahkan sampai era modern saat ini. Kata pantun berasal daripatuntun. Kata terseut berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti petuntun. Pantun juga dikenal di berbagai daerah dengan sebutan yang berbeda. Di kawasan yang berbahasa Batak misalnya. Pantun disebut sebagai umpasa (baca: uppasa). Di daerah yang menggunakan bahasa Sunda, pantun dikenal dengan paparikan. Semenatara di penutur bahasa Jawa, pantun disebut sebagai parikan.

Pantun pada awalnya adalah sebuah sastra lisan. Namun, seiring berkembangnya zaman, pantun kemudian dibukukan. Tokoh yang pertamakali membukukannya adalah Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau dengan judul buku Perhimpunan Pantun-Pantun Melayu.

Karakteristik Pantun

Untuk mencirikan perbedaannya dengan jenis puisi lama lainnya, pantun memiliki karakter atau ciri-ciri khusus. Dengan mengenai ciri-cirinya, tentu pantun akan mudah dikenali. Ciri-ciri yang dimaksud adalah sebagai berikut.

  • Pantun bisa terdiri atas satu bait atau lebih.
  • Dalam satu bait, ada 4 baris. Setiap baris terdiri atas kalimat dengan jumlah suku kata mulai dari 8 suku kata sampai 12 suku kata.
  • Dua baris pertama adalah sampiran. Sampiran ini biasanya berisi kumpulan yagn mencirikan alam atau budaya masyarakat. Baris sampiran umumnya tidak berhubungan dengan dua baris selanjutnya.
  • Dua baris selanjutnya adalah isi. Dua baris ini adalah pokok utama dari pantun . Biasanya didalamnya berisi masksud tertentu berupa ajakan baik, nasihat baik, atau amanat tentang hidup
  • Memiliki rima a-b-a-b.

Contoh :

Main sepeda siang-siang (a) —- Sampiran—9 suku kata
Waktu haus minum jus jambu (b) —- Sampiran—9 suku kata
Daripada membicarakan orang (a) —- Isi—11 suku kata
Lebih baik kita membaca buku (b) —- Isi—11 suku kata

Contoh tersebut sudah menunjukan bahwa puisi lama tersebut adalah pantun. Terlihat dari karakteristik yang sudah dijelaskan. Dan yang paling penting adalah rima akhir atau rumus akhir dari pantunnya. Dalam hal ini, sebuah pantun bisa dicirikan dengan mudah jika rimanya adalah a-b-a-b.

Contoh lainnya:

Anak itik sedang belajar renang (baris 1)—a—nang
Kemudian diam di daun talas (baris 2)—b—-las
Hati ini sedang merasa senang (baris 3)—a—nang
Lantaran dapat juara kelas (baris 4) )—b—-las

Contoh kedua tersebut menunjukkan bahwa baris pertama dan baris kedua adalah sampiran. Baris pertama dan baris kedua ini tidak memiliki hubungan dengan baris ketiga dan baris keempat. Penghubung semua baris hanyalah dari rima, persajakan, atau kesamaan bunyi. Suka kata terakhir baris pertama sama dengan baris ketiga. Sementara itu, baris kedua sama dengan baris kedua.

Jenis-Jenis Pantun

Pada zaman dahulu, pantun dianggap sebagai bagian yang sangat penting bagi masyarakat Melayu. Hal ini terlihat dari penggunaan pantun di berbagai aktivitas kehidupan, semacam permainan anak-anak, upacara pernikahan, upacara adat stempat, bahkan dalam hubungan asmara. Karena banyak digunakan dan menjadi bagian yang tak terpisahkan pada masa lampau, pantun dibagi ke dalam dua jenis yang bisa dibagi lagi berdasarkan isinya.

1. Pantun Anak-Anak

Pantun anak-anak adalah jenis pantun yang umumnya berisi perasaan anak-anak, baik suka, duka, maupun jenaka. Karena itu, jenis pantun ini terbagi ke dalam tiga bagian, yakni pantun sukacita, pantun dukacita, dan pantun jenaka.

Contoh Sukacita

Anak itik sedang belajar renang
Kemudian diam di daun talas
Hati ini sedang merasa senang
Lantaran dapat juara kelas

Contoh Pantun Dukacita

Memetik manggis di kota Kedu
Membeli tebu uangnya hilang
Menangis adik tersedu-sedu
Mencari ibu belum juga pulang

Contoh Pantun Jenaka

Pohon mangis di tepi rawa
Tempat nenek tidur beradu
Sedang menangis nenek tertawa
Melihat kakek bermain gundu

2. Pantun Orang Muda atau Dewasa

Jenis pantun ini merupakan jenis pantun yang lebih banyak berceita tentang nasib dan tentang kehidupan asmara. Pantun yang termasuk ke dalam pantun orang muda adalah pantun nasib, perkenalan, pantun berkasih-kasihan, dan pantun perpisahan atau pantun perceraian.

Contoh Pantun Nasib

Tudung saji hanyut terapung
hanyut terapung di air sungai
Niat hati hendak pulang kampung
apa daya tangan tak sampai

Contoh Pantun Perkenalan

Dari mana hendak kemana
Manggis dipetik dengan pisau
Kalau boleh kami bertanya
Gadis cantik siapa namamu

Contoh Pantun Berkasih-kasihan

Jalan lurus menuju Tuban
Terus pergi mengangkat peti
Badan kurus bukan tak makan
Kurus memikir si jantung hati

Contoh Pantun Perceraian

Jaga tugu di tengah jalan
Menjala ikan mendapat kerang
Tega nian aku kau tinggalkan
Hidup di dunia hanya seorang

*3. Pantun Orang Tua *

Pantun orang tua adalah jenis pantun yang lebih banyak berisi amanat dan bagian isinya banyak mengandung makna-makna yang luhur. Jenis pantun orang tua ada tiga, yakni pantun nasihat, pantun adat, dan pantun agama.

Contoh Pantun Nasihat

Memetik paku dekat selokan
Buah kapuk matang muda
Rajin-rajinlah bersekolah
Jadi bekal ketika tua

Contoh Pantun Adat

Menanam kelapa di pulau Bukum
Tinggi sedepa sudah berbuah
Adat bermula dengan hukum
Hukum bersandar di Kitabullah

Pantun jenis ini biasanya menggunaakan gaya bahasa bernuansa kedaerahan.

Contoh Pantun Agama

Saya pergi beli tembaga
Saya pakai untuk merekatkan parang
Apabila ingin masuk surga
Sering-sering mengaji dan sembahyag

Syair

Syair merupakan salah satu jenis puisi lama yang berasal dari Persia (sekarang Iran). Puisi ini dibawa ke Indonesia bersamaan dengan datangnya para pedagang muslim. Saat itu, para pedagang banyak memperkenalkan agama Islam dengan cara penyampain syair.

Asal muasal kata syair juga berasal dari bahasa Arab yang digunakan para pedagang dari Persia. Asal katanya adalah syu’ur * yang berarti sebuah perasaan. *Syu’ur ini kemudian berubah nama menjadi syi’ru yang berarti puisi secara umum.

Pada perkembangannya, terjadi perubahan makna syair. Syair berubah maknanya menjadi sesuatu yang berhubungan dengan puisi, tetapi dengan ciri khas Melayu. Kemudian, munculah banyak jenis syair yang sangat khas Melayu seperti karya Hamzah Fansuri yakni : “Syair Perahu” dan “Syair Burung Pingai”.

Karakteristik Syair

Syair kemudian merujuk kepada ciri-ciri atau karakteristik tertentu. Karakteristik ini terbentuk seiring dengan perkembangan syair itu sendiri. Beberapa karakter syair secara umum adalah sebagai berikut.

  • Dalam satu bait terdiri atas empat baris.
  • Jumlah suku kata tiap baris adalah 8 s.d. 14 suku kata.
  • Setiap baris saling berkaitan dan merupakan isi secara keseluruhan
  • Gaya bahasa yang digunakan umumnya kiasan.
  • Memiliki rima a-a-a-a.
  • Isi syair berupa nasihat atau petuah dan biasanya berbentuk hikayat atau cerita

Salah satu contoh Syair adalah sebagai berikut.

Parasnya elok amat sempurna (a) – 10 suku kata
Petah menjelis bijak laksana (a)-10 suku kata
Memberi hati bimbang gulana (a)-10 suku kata
Kasih kepadanya mulia dan hina (a)- 11 suku kata

Dari contoh tersebut, terlihat jumlah suku kata tiap barisnya umumnya 10 kata. Tiap baris dengan baris lainnya juga memiliki satu kesatuan sebagai suatu cerita. Selain itu, yang paling penting, rima sajaknya sama. Tidak ada perbedaan antara baris pertama dan baris ketiga atau baris kedua dan baris keempat.

Jenis-Jenis Syair

Berdasarkan isinya, syair terbagi ke dalam lima jenis. Kelima jenis tersebut adalah sebagai berikut.

1. Syair Panji

Syair Panji merupakan jenis syair yang bersifat istanasentris. Istanasentris dalam hal ini maksudnya adalah syair kebanyakan bercerita tentang situasi atau keadaan di sebuah kerajaan.

Contoh:

Berhentilah kisah raja Hindustan
Tersebutlah pula suatu perkataan
Abdul Hamid Syah paduka sultan
Duduklah baginda bersuka-sukaan

2. Syair Kiasan

Syair kiasan merupakan jenis syair yang di dalamanya terdapat perumpamaan dalam suatu kejadian atau peristiwa. Syair jenis ini mengandung banyak jenis majas atau kiasan.

Contoh:

Paksi Simbangan konon namanya
Cantik dan manis sekalian lakunya
Matanya intan cemerlang cahayanya
Paruhnya gemala tiada taranya

Dalam syair tersebut terdapat kiasan “Matanya intan cemerlang cahayanya”baris tersebut mengandaikan ”mata” yang bersinar layaknya cahaya bersinar sebuah intan berlian.

3. Syair Romantis

Sesuai namanya, syair ini lebih banyak bercerita tentang kisah romantis atau kisah percintaan.

Contoh:

Adalah raja sebuah negeri
Sultan Agus bijak bestari
Asalnya baginda raja yang bahari
Melimpahkan pada dagang biaperi

4. Syair Sejarah

Syair ini merupakan jenis syair yang yang menceritakan sebuah hikayat atatau peristiwa sejarah.

Contoh:

Kerajaan bernama Negara Dipa
Raja pertama Empu Jatmika
Putra tunggal Mangkubumi dengan Sitira
Asal Negeri Keling di Tanah Jawa

5. Syair Agama

Mengingat syair ini dibawa oleh pedagang Islam maka banyak sekali jenis syair agama yang tersebar di Indonesia. Umumnya, syair agama ini berisi tentang nasihat atau ajaran Islam. Jenis-jenis syair agama di antarnya adalah : syair sufi, syair ajaran Islam, syair cerita Nabi, dan syair nasihat.

Contoh:

Janganlah engkau berbuat maksiat
Janganlah engkau berbuat jahat
Segeralah engkau bertaubat
Agar selamat dunia akhirat

Perbedaan Pantun dan Syair

Dari uraian definisi, ciri-ciri/karakteristik, dan contoh di atas, jelas bahwa pantun dan syair bisa dibedakan. Perbedaannya tampak jelas pada unsur-unsur berikut ini.

  1. Pantun terdiri atas dua baris sampiran dan dua baris isi. Syair terdiri atas empat baris yang semuanya adalah isi.
  2. Pantun menggunakan sampiran sebagai pengantar pada isi yang ingin disampaikan. Syair langsung menyampaikan isi dari baris pertama.
  3. Pantun memiliki rima a-b-a-b, yakni bunyi akhir baris pertama sama dengan baris ketiga dan baris kedua bunyi akhirnya sama dengan bunyi akhir baris keempat. Syair berima a-a-a-a, yakni semua baris memiliki akhiran bunyi yang sama.
  4. Pantun terdiri atas 8 sampai 12 suku kata dalam satu baris. Syair terdiri atas 8 sampai 14 suku kata dalam satu baris.

Poin Penting

  1. Pantun merupakan jenis puisi lama yang awalnya sering disenandungkan. Pantun juga pada zaman dahulu banyak digunakan untuk berbagai hal, semisal upacara pernikahan, untuk hubungan berkasih-kasih, sampai upacara adat setempat.
  2. Syair adalah jenis puisi lama yang dibawa oleh orang-orang Persia yang masuk ke Nusantara. Syair lebih serius dibandingkan dengan pantun karena di tiap barisnya adalah isi tanpa sampiran seperti halnya pantun. Syair berkembang di Nusantara sampai memiliki ciri khasnya sendiri yang disebut, syair Melayu.
  3. Pantun dan syair dapat dibedakan berdasarkan rimanya. Pantun berima a-b-a-b dan syair berima a-a-a-a. Pantun terdiri atas sampiran dan isi. Syair semua barisnya adalah isi. Pantun terdiri 8 sampai 12 suku kata dalam satu baris, sedangkan syair terdiri atas 8 sampai 14 suku kata dalam satu baris.
Perbedaan Pantun dan Syair | lookadmin | 4.5