Close Klik 2x

Perbedaan Karakteristik Angkatan

Advertisement

Perbedaan Karakteristik Angkatan – Siswa mampu menemukan perbedaan karakteristik angkatan melalui membaca karya sastra yang dianggap penting pada setiap periode .

Sejarah sastra Indonesia dimulai pada abad ke-20, yang diawali oleh kehadiran karya-karya dari pengarang Balai Pustaka. Adapun karya-karya yang dihasilkan sebelum abad ke-20 digolongkan ke dalam Sastra Melayu Klasik.

Perkembangan sastra Indonesia secara umum terbagi dalam angkatan-angkatan berikut.
1. Angkatan Balai Pustaka (1920-1933)
Ciri-ciri angkatan ini adalah berisi peristiwa sosial, kehidupan adat istiadat, kehidupan beragama, dan peristiwa kehidupan masyarakat. Karya sastra yang terbit pada masa ini lebih condong pada bentuk roman, yang memperlihatkan unsur-unsur gaya Melayu lama.

Novel roman pertama yang diterbitkan pada tahun 1920-an oleh Balai Pustaka adalah Azab dan Sengsara karya Merari Siregar. Karya lainnya yang terbit pada masa ini adalah Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Salah Asuhan karya Abdul Muis, dan lain-lain. Novel yang mengangkat fenomena kawin paksa pada masa itu menjadi tren baru bagi dunia sastra.

Puisi-puisi pada periode ini masih mewarisi corak puisi lama mirip pantun dan syair. Hanya saja sampiran ditiadakan untuk menjadikan puisinya lebih intens. Ada tiga nama penyair pada periode ini, yaitu Muhammad Yamin, Sanusi Pane, dan Rustam Effendi.

2. Angkatan Pujangga Baru (1933-1945)
Karya-karya sastra yang diterbitkan pada masa ini berbentuk sajak atau puisi, cerita pendek (cerpen), novel, ataupun drama-drama pendek. Karya tersebut di antaranya adalah Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana, Belenggu karya Armijn Pane, Katak Hendak Jadi Lembu karya Nur Sutan Iskandar, dan Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka.

Penulisan novel pada periode ini menceritakan kehidupan masyarakat kota, persoalan intelektual, emansipasi (struktur cerita/konflik sudah berkembang), menonjolkan nasionalisme, romantisme, individualisme, intelektualisme, dan materialisme. Pengaruh Barat sangat kental pada perkembangan sastra Indonesia dalam periode ini.

Penyair yang dipandang paling kuat adalah Amir Hamzah. Pada periode ini, karya sastra yang lebih dominan adalah puisi. Para penyair lain pada periode ini adalah J.E. Tatengkeng, Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane, dan Asmara Hadi.

3. Angkatan ’45 (1945-1953)
Penyair yang terkenal pada masa ini adalah Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Asrul Sani, dan Harijadi S Hartowardojo. Kumpulan sajak Chairil Anwar berjudul Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Putus (1949), Deru Campur Debu (1949), dan Tiga Menguak Takdir (1950, dikarang bersama Asrul Sani dan Rivai Apin).

Corak penulisan karya sastra angkatan ini lebih bebas, tapi lebih ditekankan kepada isinya. Kalimat-kalimatnya pendek, tetapi padat serta tidak menggunakan bahasa klise. Isinya pun banyak yang bersifat realisme. Corak realisme dapat dilihat dari pendeskripsian peristiwa, suasana, atau tokoh yang seadanya. Tema karya sastra pada periode ini adalah mengekspresikan eksistensi diri penyair, meneropong batin manusia yang dilukiskan, kemanusiaan, dan kritik sosial.

4. Angkatan ’50 (1953-1966)
Pada periode ini, sifat revolusioner berapi-api penuh semangat seperti pada Angkatan 45 telah mereda. Periode ini merupakan periode sastra yang subur dengan karya sastra, baik prosa, puisi, maupun drama.

Dalam dunia puisi, muncul nama Ramadhan K.H. dengan membawa corak romantik. Selain itu, terdapat sastrawan seperti W.S. Rendra, Sapardi Djoko Damono, Toto Sudarto Bachtiar, dan Kirdjo Mulyo. Tema yang diangkat pada periode ini adalah masalah-masalah kemasyarakatan, masalah masyarakatnya sendiri yang kadang kala tidak dapat dipisahkan dengan warna kedaerahan.

Pada masa ini, politik dijadikan panglima, sebab itu puisi juga diabdikan kepada politik. Sastrawan terbagi berdasarkan aliran politik mereka.

5. Angkatan ’66 (1966-1970)
Angkatan ’66 mula-mula diperkenalkan oleh H.B. Jassin dalam bukunya yang berjudul Angkatan ’66 dan ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison.

Pengarang yang produktif pada masa ini adalah Taufik Ismail, Goenawan Mohammad, Mansur Samin, Bur Ruswanto, dan lain-lain. Karya-karya sastra yang diterbitkan pada masa ini di antaranya adalah Pagar Kawat Berduri karya Toha Mochtar dan Tirani (kumpulan puisi) karya Taufik Ismail.

6. Periode 70 – 80an
Periode ini banyak karya sastra kontemporer. Kemunculan karya semacam ini dipelopori oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri dengan puisi konkretnya seperti O, Kapak, dan Amuk. Selain itu, terdapat sastrawan seperti Emha Ainun Najib, Linus Suryadi Ag, Frans Nadjira, dan Remi Silado.

Tema yang dikemukakan dalam puisi periode ini adalah protes kepada kepincangan sosial dan dampak negatif dari industrialisasi, humanisme, perjuangan menegakkan hak azasi manusia, kritik sosial terhadap tindakan sewenang-wenang para penguasa.

7. Sastra Mutakhir (Dekade 90-an dan Angkatan 2000)
Memasuki era Reformasi yang sangat anti-KKN dan praktik-praktik otoriter, penuh kebebasan ekspresi dan pemikiran, mengandung renungan religiusitas dan nuansa-nuansa sufistik. Menampilkan euforia menyuarakan hati nurani dan akal sehat untuk pencerahan kehidupan multidimensional. Taufiq Ismail yang pernah terkenal sebagai tokoh sastra Angkatan ’66 ikut mengawal Reformasi dengan bukunya antologi puisi “Malu Aku Jadi Orang Indonesia” (MAJOI). Di samping menampilkan sanjak-sanjak peduli bangsa (istilah yang diusung rubrik budaya Republika) dan karya-karya reformasi yang antipenindasan, gandrung keadilan, berbahasa kebenaran (sesuai Sumpah Rakyat 1998), pada era yang bersamaan berkibar bendera Forum Lingkar Pena (FLP) dengan tokohnya HTR (Helvy Tiana Rosa) yang berobsesi mengusung Sastra Pencerahan.

Advertisement
Perbedaan Karakteristik Angkatan | lookadmin | 4.5