Close Klik 2x

Peranan Kaum Terpelajar

Advertisement

Peranan Kaum Terpelajar – Nasionalisme atau kesadaran nasional dapat dimaknai sebagai kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengembangkan kekuatan bangsa tersebut. Bagaimanakah peranan kaum terpelajar dalam tumbuh dan berkembangnya nasionalisme Indonesia? Mari simak bahasan berikut.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai peranan kaum terpelajar dalam tumbuh dan berkembangnya nasionalisme Indonesia.

Nasionalisme atau rasa kebangsaan yang tumbuh di golongan terpelajar dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu alasannya adalah kesadaran tentang kesamaan penderitaan politik yang disebabkan penindasan atau penjajahan oleh bangsa lain sebagai penguasa otoriter. Dalam hal ini, contohnya adalah bangsa Indonesia yang telah dijajah oleh Belanda selama ratusan tahun.

Menyikapi kondisi dimaksud, kaum terpelajar dan profesional Indonesia bergerak untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Mereka membentuk beberapa organisasi pergerakan nasional, seperti Boedi Utomo (Budi Utomo), Indische Partij, Perhimpunan Indonesia, Partai Nasional Indonesia, dan lainnya. Melalui organisasi-organisasi pergerakan, mereka memupuk kebersamaan dan menyadarkan masyarakat di sekitarnya untuk bangkit dari keterbelakangan serta menggapai kebebasan.

Kaum terpelajar yang mulanya menyadari buruknya nasib bangsa Indonesia adalah para pelajar pada lingkungan Sekolah Dokter Jawa (STOVIA-School tot Opleiding van Indische Artsen) di Batavia. Awalnya, didirikan organisasi yang diberi nama Boedi Oetomo (Budi Utomo). Organisasi ini banyak bergerak di bidang pendidikan (dengan menyediakan ‘dana belajar’), sosial, kebudayaan, dan ekonomi. Mereka juga menerbitkan majalah Goeroe Desa. Di kemudian hari, Budi Utomo juga bergerak dalam bidang politik, namun hanya pada wilayah Jawa dan Madura. Keanggotaannya pun terbatas hanya untuk kalangan priyayi dan pegawai pamong praja.

Selain itu, masih ada Indische Partij (IP), yang didirikan di Bandung oleh Tiga Serangkai, yaitu E.F.E Douewes Dekker (Danudirjo Setya Boedhi), dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, dan R.M Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara). IP lantas menjadi organisasi pertama yang secara jelas mencita-citakan Hindia (Indonesia) merdeka. Keberanian IP kemudian banyak mempengaruhi organisasi pergerakan sesudahnya, di antaranya, Perhimpunan Indonesia dan PNI.

Di negeri belanda, pelajar-pelajar Hindia (sebutan resmi untuk Indonesia) juga mendirikan organisasi pergerakan. Di antaranya adalah Indonesische Vereeniging atau Perhimpunan Indonesia. Dengan memakai nama Indonesia, organisasi ini secara tegas berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Keberanian para mahasiswa anggota PI memakai nama Indonesia akhirnya juga berpengaruh luas terhadap nama-nama organisasi pergerakan yang ada di tanah air, seperti PNI (Partai Nasional Indonesia), PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia), dan PKI (Partai Komunis Indonesia). Selain berjuang di Belanda, para anggota PI juga berjuang pada berbagai forum internasional, misalnya dalam Kongres VI Liga Demokrasi Internasional di Paris, Perancis.

Dalam kongres tersebut, Moh. Hatta terang terangan menuntut kemerdekaan Indonesia. Hal yang sama juga dilakukan oleh Moh. Hatta dan A. Soebardjo dalam Konferensi Liga Penentang Imperialisme di Berlin, Jerman. Mereka secara tegas menuntut agar pemerintah kolonial Belanda segera menyerahkan kemerdekaan Indonesia. Selain itu, mereka juga berusaha mempengaruhi opini masyarakat melalui surat kabar yang diberi nama ‘Indonesia Merdeka’. Selain organisasi-organisasi di atas, ada juga organisasi yang memperjuangkan Indonesia merdeka dengan menganut paham komunis.

Guna mempengaruhi masyarakat, Partai Komunis Indonesia (PKI) menerbitkan sejumlah surat kabar, di antaranya :
Barisan Moeda.
Proletar.
Goentoer.
Sendjata Ra’jat.

PKI berhasil menarik hati rakyat melalui janji-janjinya untuk membela kepentingan rakyat. Mereka lalu melancarkan pemogokan besar-besaran, yang kemudian diikuti dengan aksi pemberontakan.Setelah PKI dilarang, muncul organisasi politik yang bernama Partai Nasional Indonesia (PNI). Dalam kongresnya, PNI sepakat bekerja sama dengan semua partai politik dan organisasi pergerakan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. PNI memiliki hubungan yang erat dengan Perhimpunan Indonesia (PI) yang ada di Belanda, sehingga mempunyai cita-cita yang sama, yakni mencapai kemerdekaan Indonesia.

Pada bidang ekonomi, PNI menyokong perkembangan Bank Nasional Indonesia, mendirikan koperasi-koperasi, dan menggagas serikat-serikat pekerja. Di bidang sosial, PNI mendirikan sekolah-sekolah, menyokong dana untuk beasiswa, serta mendesak pemerintah Belanda untuk menggiatkan transmigrasi demi mengatasi kemiskinan rakyat. Sekira Desember 1929, anggota PNI hanya sekitar 10.000 orang,

Namun, pengaruh PNI, terutama Ir. Soekarno telah sangat meluas ke seluruh nusantara. Melihat hal ini, pemerintah kolonial Belanda merasa sangat khawatir jika pengaruh Ir. Soekarno akan mendorong rakyat menuntut kemerdekaan. Oleh karena itu, para pemimpin PNI kemudian ditangkap dan dibawa ke Pengadilan Bandung. Dalam sidang pengadilan, Ir. Soekarno menyampaikan pidato pembelaan yang terkenal dengan sebutan “Indonesa Menggugat”.

RANGKUMAN

  1. Kaum terpelajar yang mulanya menyadari buruknya nasib bangsa Indonesia adalah para pelajar di lingkungan Sekolah Dokter Jawa (STOVIA-School tot Opleiding van Indische Artsen) di Batavia.
  2. Awalnya, didirikan organisasi yang diberi nama Boedi Oetomo (Budi Utomo). Organisasi ini banyak bergerak di bidang pendidikan (dengan menyediakan ‘dana belajar’), sosial, kebudayaan, dan ekonomi.
Advertisement
Peranan Kaum Terpelajar | lookadmin | 4.5