Pengenalan Senyawa Asam dan Basa

Pengenalan Senyawa Asam dan Basa – Topik ini merupakan pengantar tentang sifat senyawa asam dan basa, mengapa senyawa memiliki kedua sifat ini, dan apa arti sifat-sifat ini.

Pengenalan Senyawa Asam dan Basa

Pengenalan Senyawa Asam dan Basa

Dua senyawa kimia penting adalah asam dan basa. Hampir semua orang mengenal dengan baik asam dan basa karena merupakan bagian dari senyawa yang lazim digunakan dalam rumah tangga dan industri. Senyawa asam yang lazim dikenal adalah asam asetat (cuka), asam askorbat (Vitamin C), dan asam sulfat yang dijumpai dalam aki. Senyawa basa yang lazim dikenal adalah natrium hidroksida (pembersih salir pembuangan dan oven), magnesium hidroksida yang digunakan sebagai antasida dan pencahar, dan kalium hidroksida (sabun lunak).

Senyawa asam terasa masam dan menjadikan merah kertas litmus, sementara senyawa basa terasa sengit, licin, dan menjadikan biru kertas litmus. Senyawa asam sering kali bereaksi dengan sejumlah unsur logam untuk membentuk gas hidrogen. Ketika larutan yang mengandung air (larutan berair), dari senyawa asam dan basa digabungkan, kedua larutan ini saling menetralisir. Reaksi penetralan yang sering berlangsung cepat, umumnya menghasilkan air dan garam. Contohnya, asam sulfat dan natrium hidroksida (basa) menghasilkan air dan natrium sulfat (garam).

Senyawa garam digunakan bersama oleh ikatan ion, mempunyai titik lebur relatif tinggi, berupa kristal ketika berwujud padat, dan mampu menghantar listrik ketika dilebur, atau sebagai bagian dari larutan. Senyawa garam yang paling terkenal adalah NaCl (natrium klorida) atau garam dapur. Namun, adakalanya zat-zat yang diciptakan melalui reaksi penetralan asam dan basa disebut juga senyawa garam.

Pada 1834, fisikawan Inggris Michael Faraday menemukan bahwa senyawa asam, basa, dan garam merupakan senyawa elektrolit ketika dilarutkan dalam air; ketiganya menghasilkan larutan yang mengandung partikel-partikel bermuatan (ion) dan dapat menghantar arus listrik. Temuan ini mengawali pemahaman moderen tentang bagaimana senyawa asam dan basa berbeda dari senyawa lain.

Pada 1884, ahli kimia Swedia Svante Arrhenius (dan kemudian Wilhelm Ostwald, ahli kimia Jerman) mengemukakan bahwa ketika dilarutkan dalam air, senyawa asam dan basa umumnya memberikan hasil yang sama. Senyawa asam menjadi senyawa yang mengandung hidrogen dan menghasilkan ion atau proton hidrogen dengan konsentrasi yang lebih tinggi daripada air murni. 

Mereka mengusulkan agar senyawa basa didefinisikan sebagai zat yang, ketika dilarutkan dalam air, menghasilkan kelebihan ion hidroksil, OH. Teori mereka dikritik karena taksempurna. Misalnya, teori mereka terbatas untuk senyawa yang mengandung hidrogen dan senyawa basa hingga senyawa yang mengandung hidroksil. Kedua, teori mereka hanya berlaku untuk larutan berair, sedangkan diketahui bahwa banyak reaksi asam-basa berlangsung tanpa adanya air.

Pada 1923, ahli kimia Denmark Johannes Brønsted dan secara independen oleh Thomas Lowry, seorang ahli kimia Britania mengajukan teorinya bahwa senyawa asam adalah pemberi proton dan basa adalah penerima proton. Mereka percaya bahwa senyawa asam harus tetap mengandung hidrogen, tetapi tidak memerlukan medium air. Teori Brønsted-Lowry menjelaskan mengapa senyawa asam dan basa kuat menggantikan senyawa asam dan basa lemah.

Ahli kimia Amerika Gilbert N. Lewis menyodorkan teori baru tentang asam dan basa, yakni bahwa senyawa asam tidak harus mengandung hidrogen, dan bahwa senyawa asam adalah penerima pasangan-elektron, sedangkan senyawa basa adalah pemberi pasangan-elektron. Keunggulannya ialah bahwa teori ini berlaku apabila terdapat pelarut selain air dan pelarut itu tidak memerlukan formasi garam atau formasi pasangan konjugat asam-basa. 


Itulah artikel Pengenalan Senyawa Asam dan Basa. Semoga bisa bermanfaat bagi Anda, baca juga artikel terkait lainnya.

Pengenalan Senyawa Asam dan Basa | lookadmin | 4.5