Penerapan Titrasi Asam Basa

Advertisement

Penerapan Titrasi Asam Basa – Pernahkah kalian memperhatikan botol–botol cuka yang ada di rumah, di warung, di toko, atau di lingkungan sekitar kalian? Apakah semua kadar cukanya sama? Tentu saja tidak. Untuk mengetahui kadarnya, kalian dapat menggunakan metode titrasi.

        Titrasi merupakan prosedur analisis suatu larutan asam-basa yang belum diketahui konsentrasinya. Titrasi dilakukan dengan memasukkan sejumlah larutan asam yang belum diketahui konsentrasinya ke dalam erlenmeyer. Kemudian, titran (zat pentitrasi) berupa basa ditambahkan sedikit demi sedikit hingga tercapai titik ekuivalen. Pencapaian titik ekuivalen akan terjadi saat konsentrasi OH⁻ sama dengan konsentrasi H⁺ atau pH larutannya = 7 (netral). Setelah itu, kelebihan sedikit saja zat titran akan menyebabkan perubahan pH dengan cepat dan mengakibatkan terjadinya perubahan warna pada indikator.

        Saat terjadi perubahan warna pada indikator, proses titrasi harus dihentikan. Saat inilah titik akhir titrasi terjadi. Dalam percobaan, titik akhir titrasi diharapkan sama dengan titik ekuivalen. Semakin jauh jarak titik akhir titrasi dengan titik akhir ekuivalen, semakin besar kesalahan titrasi. Oleh karena itu, pemilihan indikator menjadi sangat penting agar titik akhir titrasi mudah diamati.

        Pada umumnya, titrasi digunakan untuk mengetahui atau menentukan konsentrasi suatu larutan , baik asam maupun basa. Selain itu, titrasi juga digunakan untuk menentukan kadar (kemurnian) suatu zat. Dalam kehidupan sehari-hari, titrasi banyak diterapkan. Salah satu penerapan titrasi yang sering dijumpai adalah penentuan kadar asam asetat atau yang dikenal dengan cuka. Cuka merupakan asam lemah dengan rumus senyawa CH₃COOH. Produk cuka dari suatu perusahaan yang satu dengan yang lainnya tentu berbeda kadarnya. Untuk mengetahuinya, cara yang mudah dilakukan adalah dengan titrasi. Dalam melakukan titrasi, dibutuhkan suatu larutan yang dapat dijadikan sebagai acuan atau standar primer dengan syarat sebagai berikut:

  1. Zat tersebut harus 100 % murni
  2. Zat tersebut harus stabil, baik pada suhu kamar atau saat pemanasan. Standar primer biasanya dikeringkan terlebih dahulu sebelum ditimbang
  3. Mudah diperoleh
  4. Standar primer memiliki massa molar (Mr) yang besar. Hal ini bertujuan untuk memperkecil kesalahan pada waktu penimbangan. Menimbang zat dalam jumlah besar memiliki kesalahan relatif yang lebih kecil dibanding dengan menimbang zat dalam jumlah yang kecil
  5. Zat tersebut harus memenuhi persyaratan teknik titrasi

        Berdasarkan sifat larutan standarnya, titrasi dibedakan menjadi asidimetri dan alkalimetri. Asidimetri merupakan reaksi penetralan yang menggunakan larutan baku asam sebagai titran, sedangkan alkalimetri merupakan reaksi penetralan yang menggunakan larutan baku basa sebagai titran. Salah satu analisis alkalimetri adalah titrasi basa terhadap asam cuka (asam asetat). Reaksi antara natrium hidroksida (NaOH) dengan asam asetat akan menghasilkan garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat sehingga titik ekuivalen terjadi pada pH > 7.

        Analisis asam asetat dalam dunia industri bertujuan untuk memberikan informasi kesesuaian kadar asetatpada label botol dengan kenyataannya. Selain untuk menentukan kadar asam asetat, titrasi asam basa juga digunakan dalam dunia Farmasi, yaitu untuk menguji kemurnian sampel acidum acetylsalisilicum atau biasa di sebut acetosal atau aspirin yang berkhasiat sebagai analgetik, antipiretik, antiinflamasi, dan antikoagulan.

Nah, setelah mempelajari penjelasan di atas, sekarang coba perhatikan contoh di bawah ini mengenai perhitungan dalam titrasi yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh

Untuk mengetahui % cuka, dilakukan titrasi 2 ml larutan asam asetat dengan 35 ml larutan NaOH 0,1 M. Jika massa jenis larutan adalah 950 g/L, tentukan:

a. Kemolaran asam cuka

b. % asam cuka (Mr = 60)

Pembahasan:

Diketahui:

V₁ = 2 ml

V₂ = 35 ml

M₂ = 0,1 M

Ditanya:

a. M₁ = … ?

b.% asam cuka = … ?

Dijawab:

a. VM₁ = VM

M1=V2M2V1

M1=35×0,12

M1=1,75 M

Jadi, kemolaran asam cuka = 1,75 M.

b. Dalam satu liter larutan, terdapat massa asam asetat sebesar:

M=massaMr x Liter

massa=M×Mr x Liter

massa=1,75×60×1

massa=105 gram

Oleh karena massa jenis larutan 950 gram/L, yang artinya dalam satu liter larutan terdapat 950 gram asetat, maka:

%=105950×100%=11,05%

Jadi, % asam cuka tersebut adalah 11,05 %.

Bagaimana? Kalian tentu sudah paham bukan? Agar pemahaman kalian semakin bertambah, yuk kerjakan latihan soal-soal yang ada.

Advertisement
Penerapan Titrasi Asam Basa | lookadmin | 4.5