Close Klik 2x

Nasionalisme di Jepang

Advertisement

Nasionalisme di Jepang – Setelah mempelajari bahasan ini, kalian akan mengetahui situasi di Jepang yang mendorong tumbuhnya nasionalisme dan perlawanan menuntut perubahan.

NASIONALISME DI JEPANG

Siapa saja tokoh pergerakan nasionalisme di Jepang? Apakah faktor pendorong terjadinya perubahan? Bagaimanakah situasi menjelang pergerakan nasionalisme? Berikut penjelasannya.

Sebelum masa kekaisaran, Jepang diperintah oleh penguasa militer yang bersifat diktator dan dikenal dengan sebutan shogun. Pemerintahan shogun yang paling lama berkuasa di Jepang adalah Shogun Tokugawa yang kekuasaannya diwariskan turun-temurun dalam keluarga. Shogun Tokugawa memerintah dari abad tahun 1603 hingga 1868. Di masa pemerintahannya, pemerintahan menolak keras semua pengaruh Barat yang mencoba untuk masuk ke wilayah Jepang. Langkah ini diambil untuk menjaga kekuasaan shogun dan mencegah masuknya paham-paham baru dari Barat.

Strategi pemerintahan shogun, secara otomatis, menutup peluang masuknya hasil-hasil industri dan teknologi Amerika Serikat ke Jepang. Pada tahun 1846, Amerika Serikat mengirimkan utusannya, Laksamana Biddle, untuk menjajaki kemungkinan kerja sama dengan pihak Jepang. Utusan ini pulang dengan tangan kosong karena mendapatkan penolakan dari pihak Jepang.

Barulah pada upaya berikutnya, yang dilakukan oleh Matthew C. Perry, seorang komodor Angkatan Laut Amerika Serikat, ajakan ini mulai dipertimbangkan oleh pihak Jepang. Pada 1854, Matthew C. Perry datang lagi ke Jepang, disertai tujuh kapal perang untuk memaksashogun menandatangani perjanjian yang disebut ‘Perjanjian Kanagawa’. Perjanjian ini berisi pembukaan kota pelabuhan Shimoda dan Hokodate bagi perdagangan asing, sekaligus menjadi titik berakhirnya keterasingan Jepang dari pengaruh budaya asing.

Masuknya kebudayaan asing ke Jepang menyadarkan rakyat tentang ketertinggalan mereka dibandingkan dengan bangsa-bangsa di negara lain, terutama di Eropa. Keadaan ini menimbulkan protes rakyat kepada pemerintahan shogun dan memaksa Kaisar Yoshinobu untuk menyerahkan kekuasaannya pada Kaisar Mutsohito (Kaisar Meiji) pada 8 September 1867. Kaisar Meiji secara resmi memerintah Jepang pada 25 Januari 1868. Di bawah pemerintahan Kaisar Meiji, dimulailah perombakan besar-besaran oleh Jepang pada berbagai bidang (Restorasi Meiji), salah satunya dengan mengeluarkan Charter Oath untuk menuju Jepang baru. Isinya adalah:
1. Pembentukan parlemen,
2. Persatuan seluruh bangsa untuk mencapai kesejahateraan,
3. Menghapuskan adat istiadat lama dan segala faktor yang menghambat kemajuan Jepang,
4. Membuka peluang bagi siapa pun yang layak untuk memperoleh jabatan,
5. Kesempatan memperoleh pendidikan seluas mungkin untuk kemajuan negara.

Secara umum, Restorasi Meiji dilakukan di beberapa bidang yang berkaitan langsung dengan rakyat dan negara, yaitu:
a. Politik
Memindahkan ibukota dari Kyoto ke Yedo (Tokyo), menciptakan bendera negara, lagu negara, dan agama nasional. Para pejabat di masa pemerintahan shogun diangkat menjadi pegawai pemerintahan, sementara samurai dijadikan bagian dari tentara nasional. Pada masa ini, juga disusun konstitusi Jepang oleh Ito Hirobumi pada 1889.
b. Ekonomi
Menetapkan politik dumping untuk pemasaran komoditi tertentu. Dengan strategi ini, harga komodoti Jepang yang diorientasikan untuk ekspor akan dipasarkan dengan harga lebih murah dibandingkan harga komoditi yang sama di dalam negeri. Hal ini memberi dampak positif untuk meningkatkan daya saing produk tersebut di pasar internasional.
c. Pendidikan
Pemerintah menetapkan wajib belajar untuk anak-anak usia sekolah dengan sistem semi militer dan mengajarkan filsafat Taoisme dan Buddhisme di sekolah.
d. Militer
Mengadopsi pembinaan militer dari negara Eropa untuk pelatihan militer dalam negeri. Acuan dari pembinaan militer adalah negara Jerman untuk Angkatan Darat dan Inggris untuk Angkatan Laut.

Berbagai strategi pembaharuan akhirnya mampu mengangkat Jepang ke permukaan sebagai salah satu negara maju di dunia. Status sebagai negara maju menjadikan Jepang lantas memposisikan diri sebagai salah satu negara imperialis dengan mengambil wilayah negara lain untuk daerah jajahannya. Faktor-faktor penyebab lahirnya imperialisme Jepang, antara lain:
1. Pertambahan penduduk yang cepat.
2. Perkembangan industri yang cepat sehingga memaksa Jepang mencari wilayah pemasaran baru dan wilayah lain sebagai pemasok bahan baku.
3. Pembatasan oleh negara Barat untuk imigran yang berasal dari Jepang.
4. Pengaruh ajaran Shinto tentang Hakko I Chi-u (dunia sebagai keluarga), di mana Jepang terpanggil untuk memimpin bangsa-bangsa di dunia (Asia-Pasifik).

Beberapa upaya imperialisme yang dilakukan Jepang, yakni:
1. Perang Cina–Jepang I (1894–1895) memperebutkan wilayah Korea. Dari pertempuran ini, Jepang memperoleh wilayah Taiwan dan Pescadores.
2. Perang Rusia–Jepang (1904–1905). Dari pertempuran ini, Jepang mendapatkan Shakalin Selatan dan menggantikan posisi Rusia di Manchuria.
3. Perang Dunia I, Jepang dengan tentara Sekutu mengalahkan pihak Jerman dan merebut daerah bekas jajahan Jerman yaitu Shantung (Cina), Kepulauan Marshal, Mariana, dan Caroline (Pasifik).

RANGKUMAN

1) Di masa lampau, Jepang terasing dari pengaruh luar karena kebijakan pemerintah shogun.
2) Masuknya arus dagang asing yang dibawa oleh Amerika Serikat memberi kesempatan bangsa Jepang untuk mengejar ketertinggalan mereka dari bangsa-bangsa lain.
3) Pesatnya pembaharuan di Jepang membawa mereka tumbuh menjadi negara maju.

Nasionalisme di Jepang | lookadmin | 4.5