Close Klik 2x

Muncul dan Berkembangnya Nasionalisme di Indonesia

Advertisement

Muncul dan Berkembangnya Nasionalisme di Indonesia – Salah satu penyebab munculnya nasionalisme Indonesia adalah gagalnya perlawanan rakyat di daerah-daerah menentang kekuasaan kolonial barat di Indonesia. Bagaimanakah muncul dan berkembangnya nasionalisme di Indonesia? Mari simak bahasan berikut.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai muncul dan berkembangnya nasionalisme di Indonesia.

Salah satu penyebab munculnya nasionalisme Indonesia adalah gagalnya perlawanan rakyat di daerah-daerah menentang kekuasaan kolonial di Indonesia. Kegagalan dimaksud menyadarkan bangsa Indonesia bahwa untuk dapat berhasil dalam perjuangan, dibutuhkan kerja sama yang erat dari semua unsur masyarakat di berbagai daerah. Penyebab lain munculnya nasionalisme Indonesia adalah pendidikan. Pendidikan yang diperoleh kaum pribumi semasa penjajahan Belanda tidak terlepas sebagai akibat dijalankannya Politik Etis (1901). Dengan dijalankannya Politik Etis, sekolah-sekolah Belanda di Indonesia dibuka untuk kaum pribumi. Selain pendidikan barat, di tingkat lokal juga diadakan pendidikan berbasis agama dan kebudayaan, seperti Pesantren, lembaga pendidikan milik Muhammadiyah, dan Perguruan Taman Siswa. Berikut akan dijelaskan secara lebih terperinci.

1. PENGARUH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN BARAT

Sejak akhir abad ke-19, banyak pengusaha Belanda mulai menanamkan modalnya di Hindia Belanda sehingga perusahaan-perusahaan pun bermunculan dan membutuhkan tenaga kerja terampil dari penduduk pribumi. Bidang pemerintahan membutuhkan pula tenaga kerja administratif guna mendukung operasionalnya. Maka, pemerintah Belanda lambat laun mendirikan sekolah-sekolah, walau masih terbatas hingga tingkat rendah saja. Barulah dalam dasawarsa kedua abad XX, dibuka sekolah tingkat menengah. Sejak tahun 1920-an, dibuka juga sekolah tingkat tinggi.

Menurut Statuta 1818, disebutkan bahwa pemerintah Belanda seharusnya membuat peraturan yang diperlukan mengenai pendirian sekolah bagi anak-anak Bumiputera (pribumi), sekaligus memberi kesempatan bagi anak Bumiputera untuk mendapatkan pendidikan di sekolah Belanda. Namun, pada kenyataannya, hanya sebagian kecil saja rakyat Indonesia yang mengenyam pendidikan.

Selama paruh pertama abad XVIII, pemerintah Belanda belum menyediakan satu pun sekolah untuk anak-anak Bumiputera. Alasannya adalah menghormati lembaga-lembaga tradisional dengan membiarkan penduduk diatur pimpinan lokal. Alasan lainnya adalah kekurangan dana akibat Perang Diponegoro. Barulah pada tahun 1848, untuk pertama kalinya, Belanda mengeluarkan dana untuk pendirian sekolah bagi anak Bumiputera yang bukan beragama Kristen. Sekolah tersebut dikhususkan mempersiapkan pegawai pemerintahan.

Sistem pengajaran kolonial, ketika itu, terbagi dalam dua jenis:

a) Pengajaran pendidikan umum
Pengajaran pendidikan umum menggunakan bahasa Belanda. Pengajaran mencakup jenjang HIS (Hollandsch-Inlandsche School) atau sekolah dasar yang ditempuh selama tujuh tahun. Murid yang pandai dan mempunyai biaya dapat melanjutkan sekolah ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau sekolah menengah pertama. Jika lulus MULO, seseorang bisa melanjutkan ke AMS (Algemeene Middelbare School) yang sangat terbatas jumlahnya.

b) Pengajaran kejuruan
Juga menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar. Pengajaran kejuruan mencakup:
KweekSchool, yaitu sekolah untuk menjadi guru bantu;
Hoogerekweekschool, yakni sekolah guru tingkat atas;
Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren, yaitu sekolah untuk calon pegawai pemerintah dari kalangan pribumi;
School tot Opleiding van Indische Artsen, yakni sekolah dokter di Batavia;
Technische Hoogeschool, yaitu sekolah teknik tinggi di Bandung; dan
Rechtskundige Hoogeschool yakni sekolah Hakim Tinggi di Batavia.

Selain sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah kolonial, muncul pula sejumlah sekolah swasta. Contohnya adalah Taman Siswa dan sekolah-sekolah lain yang diselenggarakan komunitas agama tertentu, misalnya Muhammadiyah (Islam), Misionaris (Katolik), dan Zending (Kristen). Lembaga-lembaga pendidikan inilah yang kemudian menghasilkan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Merekalah yang mulanya menyadari nasib bangsanya sedang tertindas, lantas bertindak penuh keberanian untuk memperjuangkan kemerdekaan.

2. PENGARUH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM

Pada masa sebelumnya, pendidikan Islam di Indonesia dicampuri oleh bermacam-macam ajaran mistik, penghormatan pada guru secara berlebihan, sistem pengajaran yang masih sederhana, dan banyak lagi masalah lainnya. Setelah timbulnya gerakan pembaharuan, pendidikan Islam dimodernisasi dengan mengubah sistem pengajaran dan kurikulum yang lebih bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Selanjutnya, bermunculanlah sekolah-sekolah yang didirikan oleh organisasi Muhammadiyah.

Organisasi Muhammadiyah didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Tujuannya adalah modernisasi dan pemurnian agama Islam dari unsur-unsur non-Islam serta memajukan tingkat pendidikan rakyat yang masih rendah pada masa kolonial. Modernisasi dan pemurnian agama oleh organisasi Muhammadiyah ditempuh terutama dengan mendirikan sekolah-sekolah bercorak Islam. Artinya, ilmu pengetahuan modern harus dipadu dengan ajaran Islam yang murni. Hasil dari sistem pengajaran tersebut adalah munculnya kaum terpelajar Islam yang ikut mempelopori tumbuh serta berkembangnya nasionalisme Indonesia.

RANGKUMAN

1) Salah satu penyebab munculnya nasionalisme Indonesia adalah gagalnya perlawanan rakyat di daerah-daerah menentang kekuasaan kolonial di Indonesia. Kegagalan dimaksud menyadarkan bangsa Indonesia bahwa untuk dapat berhasil dalam perjuangan, dibutuhkan kerja sama yang erat dari semua unsur masyarakat di berbagai daerah.
2) Penyebab lain munculnya nasionalisme Indonesia adalah pendidikan.

Advertisement
Muncul dan Berkembangnya Nasionalisme di Indonesia | lookadmin | 4.5