Close Klik 2x

Menyunting Puisi Baru

Advertisement

Menyunting Puisi Baru – Siswa dapat menyunting puisi baru.

Pada topik sebelumnya, sudah dibahas tentang ciri-ciri puisi baru dan juga pembahasan tentang menulis puisi baru. Kali ini, yang akan dibahas adalah tentang proses penyuntingan puisi baru atau menyunting puisi baru.

Kegiatan menyunting puisi baru dilakukan setelah melakukan aktivitas menulis puisi. Jadi, penyuntingan puisi bisa dilakukan setelah puisi dibuat. Penyuntingan puisi baru sendiri sebenarnya sama dengan proses penyuntingan puisi lama. Yang membedakan adalah bahwa dalam menyunting puisi baru, tidak terlalu memerhatikan soal bait, irama, dan rima. Ini karena sifat puisi baru yang tidak terikat dengan aturan-aturan seperti halnya puisi lama.

Sebagai contoh, ketika ada sebuah puisi lama (pantun) misalnya, tidak sesuai dengan kaidah dan aturan, maka proses penyuntingan perlu dilakukan. Pantun tersebut awalnya tidak berpola a-b-a-b dan memiliki jumlah suku kata yang kurang sesuai. Untuk itu, agar sesuai dengan kaidan dan aturan pantun, maka proses penyuntingan perlu dilakukan agar puisi lama dibuat sesuai dengan jenisnya.

Kasus tersebut berbeda dengan puisi baru. Puisi baru memang tidak terikat pada aturan-aturan yang ada. Meskipun ada pembagian jenis puisi berdasarkan jumlah barisnya atau jenis puisinya , tetapi hal tersebut tidak jadi patokan. Puisi baru bisa dibuat secara bebas, berapa jumlah baris tiap baitnya ataupun hal-hal lainnya. Lantas, apa yang mesti diperhatikan ketika menyunting puisi baru?

Penyuntingan puisi baru adalah proses penyempurnaan dari proses menulis puisi. Ketika menulis puisi, langkah pertama yang dilakukan menentukan topik yang dibuat dalam puisi. Setelah itu, barulah dibuat puisi.

Ketika puisi sudah dibuat, unsur-unsur puisi tetap harus diperhatikan seperti bait, irama, dan rima. Selain itu, dalam penyuntingan puisi juga, unsur diksi dan gaya bahasa perlu diperhatikan.

Bait

Bait puisi adalah tentang jumlah bait yang akan dibuat. Puisi baru memang membebaskan jumlah bait. Tetapi jumlah bait ini haruslah sesuai dengan temanya. Perhatikan contoh puisi berikut!

Api Suci
(Sutan Takdir Alisjahbana)

Selama napas masih mengalun,
Selama jantung masih memukul,
Wahai api bakarlah jiwaku,
Biar mengaduh biar mengeluh.

Seperti waja merah membara,
Dalam bakaran api nyala,
Biar jiwaku habis terlebur,
Dalam kobaran nyala raya.

Sesak mendesak rasa di kalbu,
Gelisah liar mata memandang,
Di mana duduk rasa dikejar.

Demikian rahmat tumpahkan selalu,
Nikmat rasa api menghangus,
Nyanyian semata bunyi jeritku

Puisi tersebut memiliki empat bait. Dua bait puisi pertama adalah kuatren karena terdiri dari empat baris. Dua bait berikutnya adalah tersina karena terdiri dari tiga baris. Pembagian tiap bait ini dibebaskan kepada penulis. Bisa saja penulis membuat jumlah bait yang berbeda. Tapi coba perhatikan, dua bait pertama puisi tersebut adalah pengantar dan dua bait berikutnya adalah isi.

Jika melihat contoh tersebut, maka pembagian bait menjadi penting. Penulis membuat bait karena dalam satu baitnya terdapat isi yang berbeda dengan bait yang lainnya. Ketika ada puisi yang tidak membagi bait, bisa jadi hal ini karena dalam keseluruhan baitnya merupakan isi.

Hanya saja ketika selesai membuat puisi misalnya, dalam satu bait terdiri dari delapan baris. Bila keempat baris pertama ternyata memiliki makna yang sedikit berbeda, maka sebaiknya, puisi tersebut dipisahkan dalam dua bait. Bahkan, jika memang diperlukan, ada dua baris yang harus terpisah, maka pisahkan baris tersebut menjadi satu kesatuan bait yang lain. Untuk menyunting jumlah bait dalam sebuah puisi ini, tentunya harus mengetahui pembagian puisi berdasarkan jumlah baitnya, yakni sebagai berikut.

  1. Distikon, yakni sajak dua larik atau baris dalam satu bait.
  2. Terzina, yakni sajak tiga larik atau baris dalam satu bait.
  3. Kuatren, yakni sajak empat larik atau baris dalam satu bait.
  4. Kuin, yakni sajak lima larik atau baris dalam satu bait.
  5. Sekstet, yakni sajak enam larik atau baris dalam satu bait.
  6. Septina, yakni sajak tujuh larik atau baris dalam satu bait.
  7. Soneta, yakni sajak delapan larik atau baris dalam satu bait.
  8. Sajak bebas, tipe sajak yang menggabungkan beberapa jenis sajak lainnya tapi juga bebas dalam jumlah larik.

Pembahasan pembagian puisi ini sudah dibahas pada topik sebelumnya lebih mendetail.

Rima

Rima merupakan sebuah pengulangan bunyi yang berselang. Pengulangan ini biasanya ada dalam tiap larik sajak ataupun pada bagian akhir. Rima juga berhubungan dengan pengulangan bunyi tiap baris.

Tidak seperti puisi lama, rima dalam puisi baru tidaklah terlalu diperhatikan. Ini karena puisi baru tidak terikat oleh aturan rima yang “ketat”. Tapi, rima dalam puisi baru harus tetap diperhatikan. Perhatikan puisi berikut ini!

Sang Musafir
(Hilman Mulya Nugraha)

Tak ada malam yang yang hilang
Tak ada fajar yang tidak terlewat
Menapak jejak sampai seribu padang
Harus kulalui meski wajahku kian usang

Sebagai sebuah puisi baru, puisi tersebut tidak ada yang salah. Hanya saja agar sesuai dengan irama ketika dibacakan, maka tentu akan lebih baik jika rima diperhatikan. Agar puisi tersebut lebih berima, yang perlu dilakukan adalah mengganti “tidak terlewat” dengan “tak terlewatkan”. Dengan pergantian, maka puisi akan lebih berima dan berirama ketika dibacakan.

Diksi

Diksi adalah istilah yang mengacu pada pilihan kata yang tepat atau selaras. Tujuannya, agar pemilihan kata ini menimbulkan efek tertentu. Harus diingat, bahwa puisi berbeda dengan prosa yang bisa menggunakan banyak kata. Dalam puisi, kata yang harus tercurahkan biasanya menjadi “lebih sedikit” sehingga membuat penulis puisi harus berpikir memilih kata yang tepat untuk mencurahkan pikirannya.

Contohnya adalah ketika seorang penulis puisi ingin bercerita tentang “seseorang yang pergi di tengah jalan setapak pada malam hari yang sunyi dan dingin”, maka tentu penulis tidak perlu menuliskan puisi secara naratif layaknya prosa. Cerita tersebut dapat disingkat dalam bentuk larik seperti berikut ini.

“Dalam gelap di jalan setapak”

Atau juga bisa menggunakan larik seperti ini

“Hitam itu teman ketika malam melangkah”

Misalnya ada seorang teman yang menulis puisi semacam ini

Rumah Sepi
(Hilman Mulya Nugraha)

Aku sendirian di rumah
Tak ada ayah dan ibu yang sibuk tak mau menemaniku
Hanya layar televisi yang menemani
Dan tawaku akan keluar ketika Tom & Jerry tayang
Atau melihat sponge kuning dengan tingkah konyolnya.

Aku bisa tersenyum lagi
Ketika kakak datang dan mengelus rambutku
Tapi ia kini asik sendiri
Dalam kamarnya dengan berbagai peralatan canggihnya
Akupun tetap merasa sendiri

Tentu tidak ada yang salah dengan puisi tersebut. Tapi bagaimana jika puisi tersebut disunting menjadi seperti ini

Rumah Sepi
(Hilman Mulya Nugraha)

Tak ada sapa dari orang tua
Mengulang hari yang sama
Dengan kartun yang bisa buatku senyum sementara

kakak datang, sedikit hilang sepi
tapi aku cepat merasa sunyi
ketika ia ramai di kamarnya
dengan ponselnya

Bandingkan puisi pertama dengan puisi kedua. Puisi kedua telah mengalami penyuntingan dengan memerhatikan masalah diksi sehinga tentu puisi kedua dirasa lebih baik dan memiliki efek tersendiri dibandingkan puisi pertama.

Gaya Bahasa

Gaya bahasa menjadi hal yang paling penting dalam proses penyuntingan puisi. Gaya bahasa berkaitan dengan daya ungkap dan daya tarik puisi itu sendiri. Meskipun setiap orang punya gaya bahasanya sendiri ketika mengungkapkan puisi tetapi tentu gaya bahasa yang ditampilkan haruslah tepat.

Gaya bahasa sendiri selalu identik dengan majas. Dan dalam puisi, ada beberapa majas yang biasanya digunakan. Penggunaan majas ini tentunya agar puisi memiliki makna konotatif dan lebih berestetika. Beberapa majas yang biasa digunakan dalam puisi adalah sebagai berikut.

1. Majas Perumpamaan

Majas ini banyak digunakan oleh para penulis puisi untuk membandingkan dua hal tertentu yang berbeda tetapi memiliki hakikat sifat yang sama. Majas ini ditandai dengan kata seperti, bagaikan, dan laksana.

Contoh:

Ia diam laksana laut mati

Laut mati merupakan laut yang tenang yang ada di perbatasan Asia-Eropa. Laut ini memiliki air yang seolah terus diam dan tidak bergelombang. Pengandaian dengan sifat diam tentu sangat cocok.

2. Majas Metafora

Majas ini sebenarnya hampir mirip dengan majas perumpamaan. Hanya saja majas metafora membandingkan dua hal berbeda tanpa menggunakan kata penghubung. Majas ini tergolong sangat banyak digunakan dalam banyak puisi.

Contoh:

Wajahmu bercahaya
Matamu permata
Dan hatimu bijak seorang bidadari

Tiga larik tersebut menggambarkan bahwa wajah yang bagaikan cahaya, mata yang bagaikan kemilau permati dan hati yang diibarkan seperti bijaknya seorang bidadari.

3. Majas Personifikasi

Majas ini digunakan untuk membuat benda-benda mati seolah hidup dan bertindak seperti manusia. Personifikasi banyak digunakan di puisi modern. Di lirik lagu juga banyak digunakan.

Contoh:

Pagi Ini
(Hilman Mulya Nugraha)

Embun sedang riang
Rumput yang bergoyang
Langit yang menyapa
Awam yang tersenyum
Surya memanggil
Pohon beringin mengayomi hati

Embun, rumput, langit, awam, surya, dan pohon adalah benda mati yang kemudian berprilaku layaknya manusia.

4. Majas hiperbola

Majas hiperbola merupakan gaya bahasa yang digunakan oleh penulis puisi untuk mengungkapkan kalimat atau larik secara berlebih-lebihan. Bianya gaya bahasa ini digunakan untuk jenis puisi pujian, rasa senang, ataupun puisi duka.

Contoh:

Pengemis

Terlunta di perjalanan panjang
Menempuh ribuan kilometer tak tertahankan
Dengan perut kosong sampai bentuk tubuh mengurus
Kering kerontang tak terurus

Wajah pucat pasi
Seperti tak pernah mencuci muka sendiri

Terhuyung-huyung dengan suara parau
Yang mungkin ia bahkan lupa siapa namanya

Contoh:

Wajahmu itu melebihi cantiknya Putri Cleopatra, lebih kemayu dari Putri Ayu,
Lebih berseri dari Dayang Sumbi…

5. Majas litotes

Majas ini merupakan jenis majas yang cara pengungkapannya dalam bentuk negatif tapi mengandung kalimat positif.

Contoh:

Chairinl Anwar bukanlah penyair sembarangan.

Poin Penting

  1. Menyunting puisi baru merupakan aktivitas yang perlu dilakukan setelah membuat puisi baru.
  2. Proses penyuntingan puisi baru bertujuan agar puisi lebih enak dibaca serta tidak adanya kesalahan dalam penulisan harus memerhatikan bait, rima, diksi, dan juga gaya bahasa.
  3. Penyuntingan puisi harus memerhatikan bait, rima, diksi, dan juga gaya bahasa.
Advertisement
Menyunting Puisi Baru | lookadmin | 4.5