Close Klik 2x

Menyunting Kritik

Advertisement

Menyunting Kritik – Pada materi sebelumnya, kita telah memahami apa pengertian teks esai dan kritik dan bagaimana cara menyusun teks tersebut. Kali ini kita akan mencoba melakukan penyuntingan terhadap kedua teks tersebut.

Dalam hal penyuntingan, setiap penulisan dalam ragam resmi/formal harus mengikuti kaidah kebakuan. Kebakuan yang dimaksud adalah taat pada aturan keefektifan kalimat dan pada EYD (Ejaan yang Disempurnakan). Pembahasan akan kita bagi menjadi dua bagian. Pada materi kali ini kita akan mempelajari cara menyusun kalimat efektif lalu pada materi berikutnya akan kita bahas penulisan berdasarkan EYD.

Kalimat Efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu menyampaikan gagasan secara efektif tanpa menimbulkan kesalahpahaman atau kesalahpengertian. Ada beberapa syarat untuk membuat sebuah kalimat menjadi efektif, yaitu kepaduan, kelogisan, dan kehematan.

A. Kepaduan

Kepaduan akan tercipta jika dalam satu kalimat terdapat struktur yang lengkap. Sebagian besar kalimat dikatakan memiliki struktur yang lengkap jika minimal memiliki subjek dan predikat. Untuk memahami syarat kepaduan, kita harus memahami terlebih dahulu apa yang disebut dengan subjek dan predikat pada suatu kalimat.

Subjek adalah hal yang dibahas dalam suatu kalimat. Subjek dapat berupa makhluk hidup, benda asbtrak, benda konkret, pengertian, bahkan subjek dapat berupa suatu tindakan(kata kerja). Subjek dapat ditemukan dengan pertanyaan apa/siapa yang dibahas.

Contoh
1. Subjek berupa kata benda
Planet(S) berputar(P) mengikuti porosnya(O).

  1. Subjek berupa kata ganti orang
    Dia(S) sangat mencintai(P) istrinya(O).
  2. Subjek berupa kata kerja
    Belajar(S) adalah(P) kesukaannya(P).

Predikat adalah hal yang menjelaskan subjek. Sebagian besar predikat terbentuk dari kata kerja walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa predikat bisa berupa kata sifat, kata bilangan, atau kata ganti. Predikat yang berjenis kata kerja atau verba memiliki dua kategori: verba transitif dan verba intransitif. Verba transitif adalah verba yang membutuhkan kehadiran objek. Verba ini dapat berubah menjadi verba pasif. Verba intransitif adalah verba yang tidak memerlukan kehadiran objek. Verba jenis ini tidak dapat dipasifkan.

Contoh
1. Predikat sebagai kata kerja
1.A kata kerja transitif

Budi(S) mengerjakan(P) tugasnya(O).

Apa yang dikerjakan Budi? Jawabannya adalah mengerjakan dan inilah yang kita sebut predikat. Kata kerja mengerjakan dapat diubah menjadi bentuk pasif, yaitu dikerjakan. Verba yang dapat diperlakukan seperti ini disebut verba transitif dan wajib menghadirkan O setelahnya.

Adik (S)membicarakan(P) tentang pengalamannya.(K)

Kalimat di atas tidak efektif karena tidak adanya fungsi objek setelah predikat. Kesalahan ini muncul karena kehadiran kata depan tentang. Verba transitif tidak menghendaki kata depan setelahnya sehingga kata tersebut harus dibuang.

1.B Kata kerja intransitif

Irfan (S) bercerita(P) tentang kisah itu.(K)

Verba bercerita termasuk ke dalam verba intransitif kata setiap verba berawalan ber- tak dapat dipasifkan. Demikian pula dengan verba menjadi, merupakan, menyanyi termasuk juga ke dalam intransitif karena tidak dapat dipasifkan. Tidak ada bentuk kata dijadi, dirupakan, dan dinyanyi.

  1. Predikat sebagai kata sifat

Alam ini(S) begitu indah.(P)

Apa yang dibahas dalam kalimat tersebut? Alam ini adalah kata yang dibahas sehingga ia berfungsi sebagai subjek dann ada apa dengan alam ini? Jawabannya adalah begitu indah. Itulah yang kita sebut dengan predikat. Dari contoh di atas, predikat tidaklah selalu kata kerja, tetapi bisa kata sifat.

Subjek dan predikat seperti pada contoh-contoh di atas harus selalu muncul dalam setiap kalimat. Akan tetapi, terkadang masyarakat Indonesia, tanpa disadari, menghilangkan kedua fungsi tersebut. Hilangnya dua fungsi tersebut disebabkan oleh kehadiran kata depan yang salah penggunaan.

Perhatikan contoh berikut!

Dalam pertemuan itu (K)membicarakan(P) masalah negara.(O)

Perhatikan bahwa kalimat di atas tidak memiliki fungsi subjek di dalamnya. Hal ini disebabkan munculnya kata depan dalam. Kata depan/kata hubung bertingkat setiap kali digunakan akan selalu membentuk fungsi keterangan. Jadi, agar kalimat di atas menjadi efektif, kita perlu menghilangkan kata dalam agar frasa pertemuan itu menjadi subjek.
Contoh kata depan yang lain yang perlu diperhatikan penggunaannya adalah di, ke, dari, pada, kepada, daripada, dengan, untuk, tentang, mengenai, bagi. Jangan pernah menggunakan kata-kata tersebut tepat di depan subjek kecuali jika memang ada keterangan di depannya.
Contoh

Dengan cara itu(K), ia(S) berhasil(P) menyelesaikan masalah(Pel.). (efektif)

Bagi siswa yang belum membayar SPP(K) harap menemui(P) Kepala TU(O). (tidak efektif)

B. Kelogisan

Logis adalah masuk akal. Penalaran ini akan tercipta jika ada hubungan yang jelas antara subjek dan predikat. Perhatikanlah contoh kalimat yang sering kita dengar berikut.

Sebelum acara dimulai(K), yang membawa alat komunikasi(S) harap dimatikan(P).

Cermatilah bahwa subjek kalimat tersebut adalah yang membawa alat komunikasi bukan alat komunikasi sehingga yang harap dimatikan adalah yang membawa alat komunikasi. Tentu saja hal ini terdengar tidak masuk akal. Kalimat yang tepat seharusnya

Sebelum acara dimulai,(K) alat komunikasi(S) harap dimatikan(P).

C. Kehematan

Hemat berarti tidak boros. Kehematan dalam kalimat terjadi ketika tidak ada kata bermakna sama yang digunakan secara bersamaan. Kata-kata yang dimaksud dan sering kita gunakan adalah sangat…sekali…, hanya…saja, maju ke depan, atau para Bapak-bapak. Kata-kata tersebut tidak boleh lagi kita gunakan dalam ragam resmi. Begitu pula dengan penggunaan kata dari. Menurut KBBI makna kata tersebut adalah’asal’ dan ‘sejak’. Ketika digunakan dengan makna yang salah, biasanya kata ini akan menciptakan pemborosan. Contohnya adalah sebagai berikut.

Segala keputusan dari rapat ini akan kita laksanakan sekarang juga.

Poin Penting

Ada banyak syarat dalam membentuk kalimat efektif, tetapi dalam materi ini, tiga syarat berikut cukup untuk membentuk kalimat efektif dan berguna dalam menyunting teks kritik.
1. Kepaduan
2. Kelogisan
3. Kehematan

Menyunting Kritik | lookadmin | 4.5