Menyarikan Riwayat Hidup Tokoh

Menyarikan Riwayat Hidup Tokoh – Siswa mampu mengungkapkan hal-hal yang dapat diteladani dari seorang tokoh dalam buku biografi dan menyarikan informasi terkait kehidupan tokoh.

Masihkah kalian mengingat materi-materi sebelumnya tentang teks/buku biografi? Sejauh ini, kita telah berusaha menganalisis identitas, menemukan keunggulan, menemukan keteladanan, dan menentukan keistimewaan dalam setiap tokoh yang dijadikan sumber biografi. Pada materi kali ini, kita akan berusaha untuk menyarikan riwayat hidup seorang tokoh. Ini adalah materi yang merupakan tahap akhir bagi kita dalam memahami teks biografi. Dengan materi-materi tersebut, diharapkan ada dua keahlian yang dapat kita miliki:

  1. Keahlian pasif (passive skill) Mudah menyerap segala informasi yang kita temukan dalam sebuah buku biografi.
  2. Keahlian aktif (active skill) Mampu menuliskan/menceritakan kembali kehidupan seorang tokoh, bahkan mampu membuat sebuah teks biografi berdasarkan tokoh yang diidolakan.

Menyarikan memiliki arti yang sama dengan membuat ikhtisar, menuliskan isi pokok, atau bagian terpenting dalam suatu teks. Menyarikan riwayat hidup berarti menuliskan hal-hal pokok seorang tokoh, seperti nama lengkap, tanggal lahir, nama istri, anak, atau orang tua (apabila ada dalam teks), riwayat pendidikan, riwayat organisasi, riwayat pekerjaan/karier, dan tanggal meninggal.

Perhatikan Contoh

       Agar lebih jelas, marilah kita baca teks biografi di bawah ini lalu kita akan menyarikan riwayat hidupnya!

       Soe Hok Gie menjadi sangat terkenal karena sikap kritisnya terhadap pemerintahan orde baru dan orde lama. Sikap kritisnya ini ia tuangkan ke dalam tulisan-tulisan yang terdapat di dalam catatan hariannya. Ia lahir pada tanggal 17 Desember 1942 dari ayah seorang novelis, Soe Lie Pit (Salam Sutrawan), dan ibunya Nie Hoe An. Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara. Kakak Gie adalah Soe Hok Djie yang dikenal dengan nama Arif Budiman.

       Soe Hok Gie bersama dengan kakaknya sering mengunjungi perpustakaan umum dan sudah membaca karya-karya sastra serius semenjak ia masih sekolah dasar. Pada saat di SMP Strada, prestasinya sempat memburuk dan ia diharuskan mengulang. Akan tetapi, menariknya, ia tidak mau mengulang karena merasa diperlakukan tidak adil dan akhirnya lebih memilih pindah sekolah. Di sekolah yang baru, SMP Kanisius, ia langsung diizinkan memasuki kelas 3 tanpa harus mengulang.

       Selepas SMP, Gie berhasil masuk ke SMA Kanisius jurusan sastra, sedangkan kakaknya pada jurusan ilmu alam di sekolah yang sama. Saat di SMA, minatnya pada sastra semakin mendalam dan juga sangat tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadarannya dalam berpolitik mulai muncul. Inilah awal catatan perjalanannya yang berisi kritik tajam.

       Gie dan kakaknya lulus SMA dengan nilai tertinggi. Bersama-sama memasuki UI dengan minat yang berbeda. Gie mengambil ilmu sejarah, sedangkan kakaknya ilmu psikologi. Pada masa kuliah inilah, Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak pihak yang meyakini bahwa Gie memiliki peran besar terhadap tumbangnya Soekarno. Ia pun termasuk orang yang pertama mengkritik rezim orde baru.

       Gie juga memiliki kecewaan terhadap teman-teman mahasiswanya yang pada era 60-an mengkritik dan mengutuk para pejabat pemerintahan, tetapi selepas lulus justru berpihak ke sana dan lupa dengan visi misi perjuangan angkatan ’66.

       Gie adalah mahasiswa yang ikut mendirikan Mapala UI, gerakan pencinta alam. Saat ia bersama kawan-kawannya berencana menaklukan Semeru, ia ditanya apa tujuannya. Ia menjawab, “Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

       Gie meninggal di Puncak Semeru akibat terlalu banyak menghirup asap beracun gunung tersebut. Pernyataannya yang sangat terkenal adalah “Seorang filsuf Yunani pernah menulis bahwa nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan, tetapi mati muda, dan yang paling sial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Profil Soe Hok Gie berdasarkan teks adalah sebagai berikut.

Nama Lengkap:
Soe Hok Gie

Tanggal lahir:
17 Desember 1942

Ayah:
Soe Lie Pit/Salam Sutraman

Ibu:
Nie Hoe An

Riwayat pendidikan:
– SMP Strada (dua tahun)
– SMP Kanisius (satu tahun)
– SMA Kanisius Jurusan Sastra
– Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia

Riwayat Organisasi:
– Aktivis mahasiswa
– Anggota Mapala UI

Demikian intisari riwayat hidup Soe Hok Gie. Kalian diharapkan mampu untuk melakukan hal seperti di atas. Bacalah secara intensif lalu catat segala informasi terkait kehidupan seorang tokoh.

Poin Penting

Menyarikan sama dengan membuat ikhtisar dan menyusun profil tokoh sesuai dengan informasi yang tercantum dalam teks.

Menyarikan Riwayat Hidup Tokoh | lookadmin | 4.5