Close Klik 2x

Membuat Tulisan yang Memiliki Kebulatan Wacana

Advertisement

Membuat Tulisan yang Memiliki Kebulatan Wacana – Siswa memahami dan mampu membuat tulisan yang memiliki kebulatan wacana.

Pernahkah kamu mendengar tentang wacana? Mungkin sudah sering, ya? Misalnya kamu pernah mendengar berita di televisi yang mengabarkan tentang “Wacana pemerintah untuk menaikkan kembali harga Bahan Bakar Minyak (BBM)”.

Nah, apakah wacana itu? Bentuknya lisan atau tertulis? Terkadang saat kita melihat dialog di televisi, seringkali kata wacana itu disebut. Secara sekilas, wacana memang bisa berbentuk lisan maupun tertulis. Pembahasan lebih lanjut bisa kamu simak di bagian pembahasan materi. Selamat belajar!

Wacana Utuh

Kamu tentu sudah memahami hierarki gramatikal atau hubungan gramatikal dari satuan-satuan bahasa mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi. Satuan-satuan bahasa tersebut yaitu: kata, frasa, kalimat, paragraf, dan wacana.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan beberapa makna dari katawacana yaitu: (1) komunikasi verbal; percakapan; (2) Ling keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan; (3) Ling satuan bahasa terlengkap yg direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh, seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah.

Menurut Sumarlam, wacana adalah satuan bahasa terlengkap yang dinyatakan secara lisan seperti pidato, ceramah khotbah dan dialog. Secara tertulis seperti cerpen, novel, buku, surat, dan dokumen tertulis yang dilihat dari struktur lahirnya (dari segi bentuk) bersifat kohesif, saling terkait dan dari struktur batinnya (dari segi maknanya) bersifat koheren terpadu.

Baik, sampai di sini sudah mendapat gambaran, kan? Wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap dan mempunyai cakupan yang lebih luas dari sekadar bacaan. Wacana merupakan satuan bahasa yang paling besar yang digunakan dalam komunikasi.

Syarat sebuah wacana yang baik adalah kohesif dan koheren. Kohesif berarti ada keterpaduan antara unsur-unsur di dalam wacana. Koheren berarti ada hubungan logis atau kesatuan dalam wacana tersebut. Itulah yang disebut dengan wacana utuh.

Untuk membuat sebuah wacana yang kohesif dan koheren, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh seperti dijelaskan berikut ini.

1. Menggunakan konjungsi yang tepat.

Penggunaan konjungsi akan menjadikan makna wacana menjadi lebih jelas. Perhatikan contoh berikut!

Ayah pergi, ibu memasak.
Ayah pergi dan ibu memasak.
Ayah pergi ketika ibu memasak.

Berbeda, kan, artinya?

2. Menggunakan kata ganti yang tepat.

Gunakanlah kata ganti yang tepat dalam wacana! Perhatikan kapan menggunakan dia, mereka, kami, kita, dan kata ganti yang lain. Perhatikan contoh berikut!

Indonesia adalah nama negara kita. (Orang yang diajak berbicara ikut terlibat)
Tanah ini milik keluarga kami. (Orang yang diajak bicara tidak ikut terlibat)

3. Menggunakan hubungan sebab akibat dalam wacana.

Hubungan sebab akibat dapat digunakan pada kalimat-kalimat dalam wacana. Perhatikan contoh berikut!

Pagi hari udara masih bersih dan sejuk. Paru-paru pun terasa segar ketika kita menghirup udara pagi.

4. Menggunakan kata atau frasa rujukan yang sama dalam satu wacana.

Kata atau frasa rujukan adalah kata atau frasa yang memiliki arti sama. Perhatian contoh berikut!

Valentino Rossi kembali naik podium di pertandingan ini. Pembalap Yamaha ini meraih finish tercepat. The Doctor kembali menunjukkan dominasinya.

Perhatikan frasa yang digarisbawahi! Artinya sama, kan? Merujuk ke pembalap Valentino Rossi. Mudah, kan? Membuat wacana yang baik tidak akan sulit asal kamu rajin berlatih menulis.

Berdasarkan cara penyampaian isinya, wacana dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu: wacana narasi, eksposisi, persuasi, dan argumentasi. Wacana narasi adalah wacana yang menceritakan suatu topik atau hal. Wacana eksposisi adalah wacana yang memaparkan suatu topik atau cara. Wacana persuasi adalah wacana yang bersifat mengajak, menganjurkan, atau melarang. Ada pun wacana argumentasi adalah wacana yang berisi argumen atau alasan terhadap suatu hal.

Poin Penting

  1. Wacana adalah satuan bahasa terlengkap dan tertinggi dalam hierarki gramatikal.
  2. Syarat wacana yang baik harus kohesif dan koheren.
  3. Dapat digunakan langkah-langkah tertentu agar wacana menjadi kohesif dan koheren.
  4. Jenis-jenis wacana yaitu: wacana narasi, narasi eksposisi, wacana persuasi dan wacana argumentasi.
Membuat Tulisan yang Memiliki Kebulatan Wacana | lookadmin | 4.5