Close Klik 2x

LIBERALISME, SOSIALISME, DAN PAN ISLAMISME

Advertisement

LIBERALISME, SOSIALISME, DAN PAN ISLAMISME – Setelah mempelajari bahasan ini, kalian akan mengerti tentang berbagai paham baru yang berkembang di dunia sebagai dasar timbulnya nasionalisme di negara-negara daerah koloni dan korban imperialis.

LIBERALISME, SOSIALISME, DAN PAN ISLAMISME

Nasionalisme bangsa-bangsa di dunia dipengaruhi oleh beberapa paham baru yang berkembang. Paham apa sajakah itu? Siapakah tokoh di balik lahirnya paham tersebut? Bagaimanakah bentuk perjuangan yang timbul dari paham itu? Berikut penjelasannya.

Penjajahan dan kolonialisme di masa lampau adalah bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan sebuah negara besar terhadap negara lain yang terbelakang. Wilayah-wilayah yang mengalami penjajahan akan dijadikan sebagai sarana pemasaran berbagai komoditi dagang penguasa atau pun dijadikan daerah dagang khusus yang pengaturannya dimonopoli oleh negara kuat. Meski bangsa-bangsa di benua Asia, Afrika, dan Australia sudah akrab dengan kondisi seperti ini, tapi di balik penjajahan yang diterima, selalu muncul semangat nasionalisme yang kuat dari masyarakat untuk menuntut kemerdekaannya.

Masuknya paham-paham baru dari negara Eropa pasca revolusi yang mereka alami menguatkan semangat dari masyarakat untuk memulai perlawanan secara lebih terorganisir untuk melawan penjajahan. Perlawanan mulai berlangsung melalui diplomasi atau soft powerserta menghindari konflik bersenjata sehingga mencegah jatuhnya korban jiwa.

Berikut adalah beberapa paham-paham baru yang berkembang di dunia:

I. LIBERALISME
Paham liberalisme adalah paham dengan mengedepankan kebebasan dan kemerdekaan individu. Berasal dari bahasa Latin, yakni libertas yang artinya kebebasan. Makna kebebasan adalah terbukanya kesempatan bagi individu untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Paham liberalisme muncul pertama kali di Eropa, dengan kaum borjuis serta kaum terpelajar sebagai pencetusnya. Paham liberalisme adalah reaksi terhadap penindasan yang dilakukan oleh kaum bangsawan dan kaum agama di masa monarki absolut. Penindasan ini mendorong individu untuk melepaskan diri dari apa yang membelenggunya. Kemerdekaan dan kebebasan individu mencakup kemerdekaan ekonomi, kebebasan beragama, dan adanya demokrasi dalam bidang politik.
Paham liberalisme ini diadopsi oleh negara-negara yang mengalami penjajahan sebagai hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Sedangkan liberalisme ekonomi menghendaki ekonomi bebas dalam bentuk perdagangan tanpa adanya campur tangan pihak berkuasa atau pun aturan paksaan lainnya. Beberapa referensi yang kerap digunakan bila membahas liberalisme, di antaranya, Du Contract Sosial karya J.J. Rousseau atau Wealth of Nation karya Adam Smith.

II. SOSIALISME
Sosialisme adalah paham yang mencita-citakan kesejahteraan rakyat secara kolektif. Kata ‘sosialisme’ berasal dari bahasa Latin ‘socius’, yang berarti ‘kawan’. Tujuan sosialisme adalah mewujudkan masyarakat yang sejahtera dengan mengendalikan semua fasilitas dan sarana yang dimiliki oleh negara atau pemerintahan untuk kepentingan rakyat. Dalam paham ini, rakyat secara kolektif menuntut tanggung jawab yang lebih besar dari pemerintah untuk kesejahteraannya.
Tokoh pemikir sosialisme adalah Robert Owen, seorang pengusaha Inggris yang menulis bukuA New View of Society, an Essay on the Formation of Human Character. Dalam buku inilah pertama kali dikemukakan istilah ‘sosialisme’.
Tokoh lainnya yang dikenal luas adalah Karl Marx yang dijuluki sebagai Bapak Sosialisme. Dalam tulisannya Das Kapital, Marx mengatakan bahwa sejarah masyarakat merupakan perjuangan-perjuangan kelas. Semboyan sosialisme berbunyi, “bersatulah kaum proletar sedunia.” Inti dari paham ini adalah bahwa rakyat tidak dipandang sebagai individu, melainkan merupakan kesatuan kolektif.
Ada empat kesepakatan hasil perjuangan kaum sosialis, yakni:
Chatolic Emancipation Bill (1892),
Reform Bill (1832),
Factory Act (1833),
Poor Law (1834).
Sementara itu, Karl Marx menghasilkan teori-teori sebagai berikut:

a. Kelebihan harga (mehrwert)

Upah yang diterima oleh kaum buruh tidak sebanding dengan tenaga yang disumbangkannya. Itulah sebabnya, kaum buruh semakin lama semakin miskin, sedangkan kaum majikan kian kaya.
b. Pemusatan (konzentration)
Perusahaan kecil akan mati karena kalah bersaing dengan perusahaan besar, hingga akhirnya tersisa beberapa perusahaan besar saja.
c. Penimbunan (akkumulation)
Semakin lama jumlah kapital (modal) semakin menumpuk dan digunakan untuk membeli mesin yang mempunyai kapasitas sama dengan tenaga manusia. Oleh karena itu, banyak kaum buruh yang dipecat, sehingga menambah jumlah kaum proletar.
d. Kesengsaraan (verelendung)

Jumlah kaum proletar yang tidak mempunyai pekerjaan semakin bertambah sehingga kemiskinan pun bertambah. Hal ini terjadi karena penggunaan tenaga mesin kian meluas sehingga menyebabkan kesengsaraan kaum proletar.
e. Krisis
Sebagian besar rakyat merupakan proletar yang miskin dengan daya beli sangat rendah, sehingga barang-barang produksi pabrik tidak habis terjual. Akibatnya, timbul kelebihan produksi dan krisis pun terjadi.
f. Keruntuhan (zusammenbruch)

Terjadinya krisis menyebabkan runtuhnya susunan kapitalis sehingga kaum protelar kembali memegang kekuasaan dengan semboyan “bersatulah proletar sedunia.”
III. PAN ISLAMISME
Pan-Islamisme adalah paham yang dirumuskan oleh tokoh Islam, Jamaluddin Al-Afghani, dari Afghanistan pada akhir abad ke-19. Pan Islamisme merupakan cita-cita atau manifestasi prinsip-prinsip Islam tentang persatuan dan kesatuan antara umat Islam di seluruh dunia, atau diistilahkan sebagai al-wahdah al-Islamiyyah atau al-ittihad al Islamiyyah. Persatuan Islam yang dicita-citakan oleh paham Pan-Islamisme mengesampingkan perbedaan bahasa, etnis, maupun budaya dari masyarakat Islam di seluruh dunia.
Namun, tekad paham Pan-Islamisme untuk mewujudkan cita-cita dasarnya mendapatkan hambatan dalam perkembangan zaman. Hal itu karena pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, negara-negara Islam atau negara-negara yang mayoritas berpenduduk umat Islam sebagian besar menjadi daerah koloni dan imperialis dari bangsa-bangsa Barat.
Pada abad ini, terjadi kemunduran di negara Islam. Sebaliknya, di negara Barat terjadi kemajuan disertai pengembangan kekuasaan (penjajahan). Maka, Pan-Islamisme memperoleh dukungan hampir semua pemimpin Islam serta tokoh intelektual karena mampu memberi inspirasi bagi negeri-negeri Islam untuk mengadakan gerakan nasional di negaranya guna melawan penjajahan.

RANGKUMAN

1) Nasionalisme di negara-negara koloni (jajahan) berkembang seiring masuknya paham-paham baru.
2) Liberalisme dan sosialisme adalah paham yang berkembang di Eropa sebelum menyebar ke berbagai negara, sementara Pan-Islamisme adalah paham yang berbasiskan ajaran Islam.

LIBERALISME, SOSIALISME, DAN PAN ISLAMISME | lookadmin | 4.5