Kesatuan dalam Berdiskusi

Kesatuan dalam Berdiskusi – Siswa mampu memberikan tanggapan terhadap orang lain dengan bahasa yang santun.

Pada pelajaran sebelumnya tentunya kalian telah mengetahui bagaimana cara menyampaikan gagasan atau pendapat saat berdiskusi. Kali ini kita akan membahas mengenai kesantunan dalam berbahasa terutama dalam konteks memberikan pendapat atau mengomentari tanggapan orang lain terhadap hasil penelitian.

Diskusi, seminar maupun presentasi hasil penelitian termasuk ke dalam tuturan ragam resmi yang seharusnya menggunakan kombinasi bahasa.

Kesantunan berbahasa dikenal dengan istilah etika berbahasa. Kesantunan berbahasa tidak hanya menilai pembicaraan (tuturan) dari segi kebahasaan saja melainkan juga dari segi rasa. Dalam berkomunikasi dengan lawan bicara kita tidak hanya memeningkan nilai kebahasaan saja melainkan nilai rasa seperti kesopanan dan kesantunan dalam berbicara. Hendaknya tidak menyinggung perasaan oranglain saat berbicara dan tidak menggunakan kata-kata yang kasar. Hal ini bisa saja menimbulkan konflik dalam kehidupan.

Apalagi dalam mengomentari hasil penelitian hendaknya menggunakan komunikasi yang baik dan etika berbahasa. Bagaimanapun proses dan hasil penelitian yang diperoleh itu sudah melalui beberapa tahapan. Kita bisa saja tidak setuju terhadap hasil penelitian oranglain dan menganggap kalau penelitiannya kurang akurat. Pernyataan tersebut hendaknya disampaikan dengan argumen yang santun sehingga tidak menimbulkan prasangka subjektivitas.

Kesantunan dalam berdiskusi meliputi dua hal berikut ini.

1. Santun dalam bersikap
a. Mengikuti aturan atau tata tertib yang telah ditentukan
b. Meminta izin terlebih dahulu kepada moderator jika akan menanggapi pendapat
c. Bersikap sopan dan bijak dalam menanggapi pendapat
d. Menghindarkan sikap dan perilaku emosional

2. Santun dalam menggunakan bahasa
a. Menggunakan bahasa yang sopan ( hindarkan pemakaian kata emosional, dapat menyinggung atau menyakiti perasaan, menekan atau memojokkan orang).
b. Menggunakan bahasa yang baik dan benar.
c. Menggunakan kalimat efektif.
d. Mengatur kalimat dengan fokus pembicaran yang jelas.
e. Menggunakan kalimat penjelas secara proporsional tidak berlebihan.
f. Mengatur kalimat berkesinambugan yang logis (tidak berputar-putar).

Perhatikan contoh berikut!

1) Dengan sangat terpaksa , saya sependapat dengan gagasan Saudara bahwa demi kemajuan koperasi kita ini, kita tidak perlu menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang didasarkan rasa tidak tega, atau pekewuh dalam menerapkan aturan hutang piutang kepada seluruh anggota.

Penggunaan ungkapan dengan sangat terpaksa kurang santun karena ada unsur memojokkan atau menekan seseorang.

2) Maaf Saudara moderator, kalau boleh saya bilang pendapat Saudara Tirto ini sangat ngawur, sedikit pun tidak ada dasar yang masuk akal dalam menetapkan aturan berkoperasi.

Penggunaan kata ngawur (bahasa jawa) tidak sopan karena ada unsur emosional, menyinggung perasaan pada orang lain.

3) Menurut pemikiran saya, semuanya itu boleh ada boleh tidak, Jangankan orang lain, saya pun sampai sekarang bisa mengatakan ya atau juga tidak. Kembali pada persoalan ini, setiap orang jangalah disamaratakan karena masing-masing berpendirian ada yang kuat , ada yang lemah. Tentu saja hal ini sah-sah saja.

Komentar atau tanggapan ini tidak santun, fokus pembiraan tidak jelas, penjelasan berputar-putar, antarkalimat tidak menunjukkan kesinambungan.

Poin Penting

Kesantunan dalam berdiskusi meliputi dua hal, yaitu santun dalam bersikap dan santun dalam berbahasa.

Kesatuan dalam Berdiskusi | lookadmin | 4.5