Kelainan Sistem Optika

Advertisement

Kelainan Sistem Optika – Pada topik sebelumnya kalian telah belajar tentang alat-alat optik pada kehidupan. Pada topik ini kalian akan belajar tentang kelainan dari sistem optika, khususnya optika dalam tubuh manusia. Salah satu alat optik yang dimiliki manusia adalah mata. Mata normal (emitropi) adalah mata yang dapat melihat benda pada jarak jauh tak berhingga maupun jarak dekat (25-30 cm) dengan jelas. Kelainan pada mata biasanyan karena pembawaan maupun kebiasaan.


Daya akomodasi mata adalah kemampuan lensa mata untuk menebal (daya akomodasi maksimum) dan memipih (daya akomodasi minimum). Daya akomodasi maksimum terjadi saat melihat benda dalam jarak dekat, sedangkan daya akomodasi minimum terjadi saat mata melihat benda dalam jarak jauh. Titik terjauh (punctum remotum) adalah jarak terjauh yang dapat dilihat oleh mata tanpa berakomodasi dan besarnya jauh tak terhingga. Titik terdekat (punctum proximum) adalah jarak terdekat yang dapat dilihat oleh mata yang berakomodasi maksimum dan besarnya = ±25 cm. Kelainan sistem optika yang terjadi pada mata dibagi menjadi empat jenis dan akan dijabarkan sebagai berikut.

1. Miopi (Rabun Jauh)

Miopi adalah kelainan mata yang tidak dapat melihat dengan jelas benda yang jaraknya jauh (kurang dari tak berhingga). Hal tersebut disebabkan lensa mata tidak dapat memipih secara maksimum, sehingga bayangan benda jatuh di depan retina. Pemipihan lensa mata bertujuan untuk memperkecil jarak fokus. Miopi dapat dibantu dengan lensa cekung (lensa negatif). Lensa tersebut berfungsi membentuk bayangan maya dari benda yang letaknya jauh agar bayangan jatuh tepat pada retina. Berikut ini adalah ciri-ciri miopi.

a. Titik dekat kurang dari mata normal (jarak baca (sn) < 25 cm).
b. Titik jauh lebih pendek dari mata normal.
c. Sikap baca yang cenderung didekatkan.

Kekuatan lensa merupakan kemampuan lensa untuk memfokuskan sinar-sinar. Semakin kuat lensa memfokuskan sinar, semakin besar kekuatan lensanya. Kekuatan lensa miopi dapat diukur menggunakan persamaan berikut.

P=1f=1PR

Keterangan:
f = titik terjauh (PR)

2. Hipermetropi (Rabun Dekat)

Hipermetropi adalah kelainan pada mata yang tidak dapat melihat jelas benda yang jaraknya dekat. Hal ini dikarenakan fokus lensa mata mempunyai jarak yang terlalu panjang. Lensa mata tidak dapat menebal (mencembung) sehingga bayangan benda yang jaraknya dekat jatuh di belakang retina. Hipermetropi dapat dibantu dengan lensa cembung (lensa positif). Lensa tersebut berfungsi untuk membentuk bayangan benda agar jatuh tepat pada retina. Berikut ini adalah ciri-ciri hipermetropi.

a. Titik dekat lebih dari mata normal (jarak baca (sn) > 25 cm).
b. Titik jauh tak terhingga.
c. Sikap baca yang cenderung dijauhkan.

Kekuatan lensa hipermetropi dapat diukur menggunakan persamaan berikut.

P=1f

f=sisosi×so

Keterangan:
f = jarak fokus lensa (cm);
so = jarak baca mata normal (25 cm); dan
si = jarak titik dekat mata yang baru (cm).

3. Presbiopi (Rabun Jauh dan Dekat)

Presbiopi adalah kelainan mata yang tidak dapat melihat benda jauh dan benda dekat pada jarak normal. Daya akomodasi lemah sehingga bayangan akan terbentuk di depan atau di belakang retina. Presbiopi dapat dibantu dengan lensa berfokus ganda yaitu, lensa cekung dan lensa cembung. Lensa cekung berfungsi untuk melihat benda-benda jauh dan lensa cembung berfungsi untuk melihat benda-benda dekat. Biasanya, lensa cembung terletak di bagian bawah dan lensa cekung di bagian atas. Berikut ini adalah ciri-ciri presbiopi.

a. Titik dekat lebih jauh dari mata normal
b. Titik jauh lebih dekat dari mata normal
c. Terjadi pada orang lanjut usia

4. Astigmatisma

Astigmatisma adalah kelainan yang disebabkan bentuk lensa mata tidak normal karena mengalami penyimpangan dalam pembentukan bayangan pada lensa. Hal ini dikarenakan lensa mata tidak dapat memberikan gambaran atau bayangan garis vertikal dan horizontal secara bersamaan. Astigmatisma dapat dibantu dengan lensa silindris.

5. Buta Warna

Buta warna adalah kelainan yang disebabkan oleh ketidakmampuan sel-sel kerucut mata untuk menangkap warna tertentu. Penyakit ini bersifat menurun. Buta warna terbagi menjadi dua jenis, yaitu buta warna total dan buta warna sebagian. Buta warna total hanya mampu melihat warna hitam dan putih saja, sedangkan buta warna sebagian tidak dapat melihat warna tertentu, misal merah, hijau, atau biru.

Advertisement
Kelainan Sistem Optika | lookadmin | 4.5