Close Klik 2x

Kedatangan Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Advertisement

Kedatangan Nenek Moyang Bangsa Indonesia – Banyak pendapat yang bermunculan terkait dengan dari mana sejatinya asal-usul nenek moyang kita bangsa Indonesia. Para ahli sejarah saling mengeluarkan pendapat mereka, disertai dengan bukti-bukti pembenaran dari dugaannya masing-masing. Bagaimanakah proses kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia? Agar kalian lebih memahami mengenai nenek moyang kita, mari kita simak materi berikut ini.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai bagaimana awal mula kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia.

Nenek moyang bangsa Indonesia, selama berabad-abad, telah menetap di daerah daratan Indo-Cina yang sekarang bernama Vietnam. Komunitas mereka disebut sebagai komunitas Austronesia karena menggunakan bahasa Austronesia sebagai bahasa komunikasi antar warga. Awalnya, kehidupan mereka bercocok tanam di sawah dan beternak. Namun, akibat laju pertumbuhan yang semakin bertambah, mereka merasa tidak lagi nyaman tinggal di wilayah yang sempit.

Akhirnya, timbullah keinginan untuk mencari daerah yang lebih luas. Akan tetapi, sebelum melakukan pengembaraan, mereka mencari tahu jalan untuk sampai di wilayah yang diinginkan. Caranya ialah dengan mempelajari tentang arus laut, arah angin, dan rasi bintang. Ketika informasi itu telah diperoleh, maka muncullah kelompok-kelompok yang berani mengarungi lautan untuk mencari daerah baru hanya dengan menggunakan perahu bercadik. Bentuk perahu ini ramping, dilengkapi sayap kanan kiri, ada kemudi dan layar, serta dikayuh dengan dayung.

Komunitas Austronesia yang paling awal melakukan migrasi bergerak menuju ke selatan melalui Filipina, hingga akhirnya memasuki wilayah Indonesia dan Oceania. Populasi Austronesia ini mengawali hidup mereka yang baru di wilayah Indonesia dengan bertani dan mencari hasil laut (karena umumnya tinggal di wilayah pesisir), memelihara ternak, dan ada juga yang mulai belajar membuat perahu, rumah, serta tembikar.

Kehidupan bertani yang dijalani memang sudah dimulai sejak di daerah asalnya. Pertanian menjadi salah satu pilihan akibat adanya keterbatasan dalam jumlah sumber daya yang ada di alam. Migrasi yang mereka lakukan pun tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah lahan yang semakin tak memadai, tetapi juga dikarenakan kondisi musim dan lingkungan yang berpengaruh pada ketersediaan sumber daya penunjang kehidupan.

Selain itu, jumlah mereka semakin bertambah pula. Tekanan-tekanan tersebut mendorong migrasi mencari wilayah baru sebagai sumber penghidupan, antara lain, wilayah Indonesia. Jadilah wilayah Indonesia didiami oleh ras Austronesia yang kemudian disebut ‘Melayu Indonesia’. Hal tersebut dapat dibuktikan berdasarkan penemuan artefak yang sama dimiliki oleh penduduk di wilayah Teluk Tonkin (Yunan).

1. KEDATANGAN PROTO MELAYU

Berdasarkan pendapat yang mengatakan bahwa orang Melayu berasal dari Asia, perpindahan tersebut (yang pertama) diperkirakan berlangsung pada tahun 2000 SM. Mereka ini kemudian dinamai sebagai ‘Proto Melayu’ atau ‘Melayu Tua’. Penduduk Proto Melayu telah pandai membuat alat bercocok tanam, barang pecah belah, dan alat perhiasan. Kehidupan mereka masih berpindah-pindah. Zaman kehidupan mereka dinamai Zaman Neolitik atau Zaman Batu Muda.

Memasuki Kepulauan Nusantara, Proto Melayu menempuh dua jalur, sesuai dengan jenis kebudayaan yang dibawa, yakni:

• Jalur pertama menyebar ke Sulawasi dan Papua dengan membawa kebudayaan Neolithikum berupa kapak lonjong. Oleh karena itu, di bagian timur Indonesia, banyak ditemukan alat-alat kebudayaan Neolithikum berupa kapak lonjong. Keturunan Proto Melayu yang menempuh jalur ini, antara lain, masyarakat Toraja.

• Jalur kedua menyebar ke Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara dengan membawa kebudayaan Neolithikum. Oleh karena itu, di bagian barat Indonesia banyak ditemukan alat-alat kebudayaan berupa beliung persegi. Keturunan Proto Melayu yang menempuh jalur ini, antara lain, masyarakat Nias, Batak, Dayak, dan Sasak.

2. KEDATANGAN DEUTRO MELAYU

Sekitar tahun 500 SM, datang lagi gelombang migrasi penduduk dari ras Melayu Austronesia dari Teluk Tonkin ke Kepulauan Indonesia. Mereka biasa disebut ‘Deutro Melayu’ atau ‘Melayu Muda’. Kedatangan mereka tentu saja mendesak penduduk Proto Melayu yang telah lebih dahulu menetap.

Deutro Melayu hidup secara berkelompok dan tinggal menetap di suatu tempat. Di wilayah Kepulauan Indonesia, mereka menyebar di sepanjang pesisir, meskipun ada juga yang ke daerah pedalaman. Keturunan Deutro Melayu adalah masyarakat Jawa, Minang, dan Bugis.

Masyarakat Deutro Melayu membawa Kebudayaan Perunggu, yang dikenal dengan Kebudayaan Dong Son. Adapun Dong Son adalah suatu tempat di Teluk Tonkin, tempat asal Kebudayaan Perunggu di Asia Tenggara. Berdasarkan penelitian, alat-alat kebudayaan perunggu yang ditemukan di Indonesia sama dengan alat kebudayaan perunggu yang ditemukan di Dong Son.

Kesimpulannya, bangsa yang berimigrasi ke Indonesia berasal dari daratan Asia, tepatnya Yunan Utara bergerak menuju ke Selatan, memasuki daerah Hindia Belakang (Vietnam) atau Indo-Cina, dan terus ke kepulauan Indonesia.

RANGKUMAN

1) Nenek moyang bangsa Indonesia, selama berabad-abad, telah menetap di daerah daratan Indo-Cina yang sekarang bernama Vietnam. Komunitas mereka disebut sebagai komunitas Austronesia karena menggunakan bahasa Austronesia sebagai bahasa komunikasi antar warga.

2) Berdasarkan pendapat yang mengatakan bahwa orang Melayu berasal dari Asia, perpindahan tersebut (yang pertama) diperkirakan berlangsung pada tahun 2000 SM.

3) Sekitar tahun 500 SM, datang lagi gelombang migrasi penduduk dari ras Melayu Austronesia dari Teluk Tonkin ke Kepulauan Indonesia.

Kedatangan Nenek Moyang Bangsa Indonesia | lookadmin | 4.5