Kata Ulang dalam Paragraf Naratif

Kata Ulang dalam Paragraf Naratif – Siswa mampu menggunakan kata ulang dengan baik dan benar dalam menulis paragraf naratif atau paragraf lainnya.

Kalian tahu tidak kalau bahasa Indonesia adalah bahasa yang kaya akan kata ulang. Bahkan, Indonesia dikatakan paling menonjol dalam penggunaan kata ulang dibandingkan bahasa lainnya.

Kata ulang adalah kata yang mengalami proses reduplikasi atau pengulangan kata. Proses reduplikasi ini akan menimbulkan makna baru dari kata yang menjadi dasar pengulangan. Satu makna yang sering dimunculkan dalam pengulangan adalah yang menunjukkan kuantitas atau jumlah jamak, seperti pada kata ulang anak-anak atau kota-kota. Namun, masih banyak makna lain yang dimunculkan yang harus kita pahami.

Makna Kata Ulang

A. Kuantitatif

Makna yang bersifat jumlah dibedakan menjadi banyak tak tentu dan banyak bermacam jenis.
Contoh kata ulang yang banyak tak tentu adalah pohon-pohon atau pepohonan, sedangkan yang banyak dan bermacam jenis adalah warna-warni dan buah-buahan. Terdapat juga kata ulang yang bermakna tindakan yang dilakukan berulang-ulang, seperti memukul-mukul.

B. Kualitatif

Makna kualitatif adalah makna kesangatan. Contoh kata ulang yang mengalami perubahan makna seperti ini adalah cepat-cepat atau tinggi-tinggi.

C. Mirip/seperti

Contoh kata ulang yang memiliki makna ini adalah orang-orangan, mobil-mobilan, dan kuda-kudaan.

D. Berbalasan/resiprok

Contoh kata ulang yang memiliki makna ini adalah pukul-memukul dan ejek-mengejek.

E. Bilangan

Contoh yang termasuk dalam makna ini adalah satu-satu.

F. Perihal

Perihal adalah suatu wacana tindakan yang dibahas. Kata ulang yang termasuk ke dalam makna ini adalah jahit-menjahit, tari-menari, dan tambal-menambal.

G. Dalam keadaan

Makna ini menunjukkan kondisi/keadaan suatu hal/benda, seperti hidup-hidup dan mentah-mentah.

H. Memiliki sifat seperti

Kata ulang juga dapat menimbulkan makna memiliki sifat, seperti pada kata ulang kebarat-baratan atau kekanak-kanakan.

I. Himpunan

Memiliki makna kumpulan seperti kata berhari-hari.

J. Agak atau melemahkan sifat pada kata dasar

Contoh kata ulang yang memiliki makna ini adalah kemerah-merahan.

Berdasarkan contoh-contoh yang muncul di atas, kita dapat melihat ragam bentuk kata ulang. Bentuk yang berbeda inilah yang kemudian menjadi dasar atas jenis-jenis kata ulang, yaitu dwipurwa, dwilingga, kata ulang berimbuhan, dan kata ulang semu.

1. Kata ulang dwipurwa (kata ulang sebagian)

Kata ulang dwipurwa adalah kata ulang yang mengalami perubahan atas suku kata awal. Suku kata awal ini mengalami pelemahan pada bagian vokalnya yang berubah menjadi vokal /e/ pepet. Suku kata awal tadi kemudian berpindah ke posisi tengah. Contoh kata ulang jenis ini adalah tangga menjadi tetangga, pohon menjadi pepohonan, daun menjadi dedaunan.

2. Kata ulang dwilingga (kata ulang utuh)

Kata ulang jenis ini mengalami pengulangan secara utuh, baik dari bentuk kata dasarnya maupun kata berimbuhan. Contoh kata ulang yang termasuk jenis ini adalah langkah-langkah, siswa-siswa, dan keindahan-keindahan.

3. Dwilingga salin suara

Kata ulang jenis ini sama dengan kata ulang pada nomor 2. Pengulangan pada kata dilakukan secara utuh, tetapi dengan mengubah satu vokal atau konsonan pada kata pengulangannya. Contoh kata ulang jenis ini adalah warna-warni, sayur-mayur, serba-serbi, dan mondar-mandir.

4. Kata ulang berimbuhan
Pengulangan pada jenis ini dilakukan dengan cara menambahkan imbuhan pada kata yang terulang. Contoh kata ulang jenis ini adalah pukul-memukul dan jahit-menjahit.

5. Kata ulang semu

Kata ulang jenis ini dianggap seperti kata ulang walaupun pada dasarnya, kata ini tidak mengalami reduplikasi sehingga dikatakan semu. Contoh kata ulang ini adalah lumba-lumba dan kura-kura.

Berdasarkan materi di atas, kita telah mengetahui makna dan jenis kata ulang. Reduplikasi termasuk morfem (bentukan kata) yang sering kali digunakan, baik dalam keseharian maupun dalam penulisan wacana, sehingga kata ulang dianggap sebagai morfem yang produktif. Tentu saja, kata ini dapat dimunculkan dalam paragraf naratif (penceritaan).

Perhatikan contoh narasi berikut!

Berhari-hari D tidak makan. D diusir dari rumahnya dan tidak diizinkan untuk masuk. Dengan sepedanya, ia mengelilingi jalan kompleks saat siang hari dan tidur di pos ronda saat malam. Tetangganya sering merasa kasihan dan terkadang memberi makan D. ini pun dilakukan sembunyi-sembunyi sebab jika ayah D tahu, mereka akan dimarahi.

      Pada kutipan teks di atas, terdapat tiga bentuk reduplikasi, yaitu berhari-hari (reduplikasi berimbuhan/himpunan), tetangga(dwipurwa/banyak tak tentu), dan sembunyi-sembunyi(dwilingga/keadaan).

Poin Penting

  1. Bahasa Indonesia memiliki kata ulang yang berbeda-beda berdasarkan makna dan bentuknya.
  2. Kata ulang bisa digunakan sebagai variasi dalam menulis paragraf narasi. Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini.
    a. Banyak pohon kami lalui ketika dalam perjalanan menuju Subang.
    b. Pepohonan kami lalui ketika perjalanan menuju Subang.
    c. Pohon-pohon kami lalui ketika perjalanan menuju Subang.
Kata Ulang dalam Paragraf Naratif | lookadmin | 4.5