Karakteristik Puisi Lama

Karakteristik Puisi Lama – Siswa paham karakteristik puisi lama.

Pada topik ini kalian akan belajar tentang puisi lama dan karakteristik yang membuatnya berbeda dengan puisi modern.

Puisi di Indonesia berkembang sesuai perkembangan karya sastra. Dalam karya sastra, ada istilah karya sastra lama dan karya sastra baru. Dalam puisi pun demikian, ada puisi lama dan ada juga puisi baru.

Puisi baru berkembang ketika era Balai Pustaka. Namun, perkembangannya semakin menggeliat ketika masa penulis Pujangga Baru lahir. Sementara puisi lama, hadir sebelum era Balai Pustaka.

Pembagian puisi lama dan puisi baru ini didasarkan pada karakteristik puisi itu sendiri. Pada puisi baru, jenis-jenis puisi yang dibuat cenderung lebih bebas dan tidak terikat pada aturan-aturan tertentu. Sementara puisi lama, ada aturan yang membuatnya menjadi terikat. Aturan-aturan tersebut meliputi ritma, jumlah baris, jumla kata, serta beberapa aturan lainnya.

Atruran-aturan tersebut merupakan salah satu bentuk dari karakteristik puisi. Ada juga beberapa karakteristik puisi lama lainnya. Perbedaan karakteristik ini lah yang membua perlu adanya pembagian antara puisi lama dan puisi baru.

Karateristik Puisi Lama Secara Umum

Untuk mengenal lebih jauh tentang karakteristik puisi lama, berikut dijelaskan tentang pembentuk karakteristik puisi lama secara umum.

1. Anomim
Puisi-puisi lama tidak seperti puisi modern yang banyak diketahui siapa pengarangnya dan bahkan diketahui latar belakang pengarang puisi tersebut. Contohnya, puisi “Aku” dikenal sebagai karya Chairil Anwar. Orang pun kemudian seringkali menghubungkan latar belakang Chairil Anwar dengan karya-karya nya karena merepresentasikan apa yang terjadi dengan pengalaman hidupnya.

Puisi-puisi lama umumnya justru ada tanpa nama pengarangnya. Hal ini didasari karena pada masa itu, para pengarang tidak perlu harus dikenal. Meskipun beberapa puisi lama dikenal nama pengarangnya, yang terpenting pada masa itu karya dan bukan pengarangnya. Karena tanpa nama pengarang atau anomim, puisi-puisi lama umumnya diakui sebagai milik bersama.

2. Dari Mulut ke Mulut
Puisi lama umumnya bersifat lisan. Ada juga memang yang ditulis dalam bentuk naskah pada daun lontar. Hanya saja, yang tertulis atau dalam bentuk naskah biasanya juga berasal dari mulut ke mulut. Artinya, puisi disampaikan dengan cara diucapkan langsung kepada pendengar dan kemudian diteruskan ke yang lainnya secara turun-temuran. Berbeda dengan puisi baru yang penyampaiannya ditulis lewat media cetak.

3. Gaya Bahasa
Puisi lama memiliki bentuk yang mudah dikenali dari segi penggunaan bahasa. Umumnya, gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa yang cenderung penuh metafora. Gaya bahasanya pun cenderung esoferik atau gaya bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara.

4. Aturan
Ada beberapa aturan umum dalam puisi lama.

Rima dan Irama
Rima adalah pola persajakan, yakni pola bunyi kata-kata yang ada di setiap baris. Sementara irama mengatur tinggi rendah, panjang pendeknya , ataupun keras lembut ucapan bunyi. Beberapa jenis puisi lama sangat memperhatikan masalah rima dan irama ini karena berkaitan dengan isi dari puisi lama tersebut.

Jumlah kata, bait, dan baris
Kebanyakan puisi lama memperhatikan masalah jumlah kata. Misalnya dalam satu baris jumlah kata harus ada 6 atau 8 kata. Ada juga jenis puisi yang mengatur masalah jumlah baris dalam satu bait. Ada juga puisi lama yang dalam satu bait terdapat empat baris ada juga yang lebih dari empat baris. Tapi biasanya ditentukan jumlah barisnya.

Karakterisitik Puisi Lama Berdasarkan Jenisnya

Puisi lama terbagi ke dalam beberapa bentuk berdasarkan karakter khusus yang dimilikinya. Jenis-jenis puisi lama adalah sebagai berikut

• Mantra

Mantra memiliki karakteristik dengan irama akhir yang berpola abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde. Puisi lama yang berbentuk mantra biasanya digunakan oleh orang-orang dulu yang percaya setiap kata adalah doa, setiap mantra yang keluar adalah untuk pengobatan ataupun untuk doa sebelum melakukan sesuatu. Karena itu, mantra sanga bersifat magis. Gaya bahasanya mengandung metafora yang kuat dan terkadang digunakan pengulangan.

Contoh Mantra

• Pantun

Karakteristik utama pantun adalah empat baris dalam satu bait. Dua baris pertama adalah sampiran atau basa-basi. Dua baris terkahir adalah isi atau hal utama yang ingin disampaikan. Ciri lainnya adalah berima a-b-a-b. Artinya, bait pertama memiliki irama atau persajakan yang sama dengan bait ketiga. Bait kedua memiliki irama atau persajakan yang sama dengan baik keempat. Setiap baris pun memiliki jumlah suku kata yang sudah ditentukan, yakni tidak kurang dari 8 suku kata dan tidak lebih dari 12 suku kata.

Contoh

• Karmina

Karmina tidak berbeda jauh dengan pantun. Yang membedakan adalah jumlah baitnya yang merupakan isi dari keseluruhan. Jadi dalam karmina, tidak ada sampiran. Tiap barisnya berpola aa-aa, dan aa-bb. Karmina tidak seperti pantun yang lebih banyak humor ataupun amanat. Karmina lebih banyak betema tentang kepahlawanan dengan gaya bahasa rayuan.
Contoh
Dahulu parang, sekarang besi (a)
Dahulu sayang sekarang benci (a)

• Syair
Syair terdiri dari empat baris dengan irama atau persajakan yang sama, yakni a-a-a-a. Syair lebih serius dibandingkan pantun. Semua barisnya memiliki makna atau kandungan arti tertentu. Dan, syair bisanya cukup panjang karena bersifat mencirtakan sesuatu atau menceritakan tokoh.

• Seloka

Seloka mirip seperti pantun yang memiliki empat baris. Pola dan persajakannya juga sama dengan pantun. Oleh karena itu, seloka disebut sebagai pantun berkait. Hanya saja, seloka harus terdiri dari beberapa bait karena bait yang satu dengan bait yang lain saling berkaitan.

Perkaitan satu bait dengan bait lain dalam seloka ditandai dengan pengulangan baris dalam satu bait di baris yang berbeda pada bait yang lainnya. Mudahnya, baris kedua bait pertama diulang pada baris pertama bait kedua. Baris keempat bait pertama diulang pada baris ketiga bait kedua. Baris kedua bait kedua akan diulang pada baris pertama bait ketiga. Baris keempat bait kedua akan diulang pada baris ketiga bait ketiga.
Contoh Seloka

• Gurindam

Gurindam adalah puisi yang berasal dari India. Ciri khas Gurindam adalah isi puisinya yang berkaitan dengan nasihat dari suatu permasalahan. Polanya, baris pertama berisi persoalan atau perjanjian. Baris kedua baru jawaban dari baris pertama. Dengan gaya dua baris tersebut, Gurindam memiliki pola sederhana, a-a, b-b, c-c, dan seterusnya.

Contoh Gurindam

• Talibun
Talibun merupakan jenis puisi lama yang cukup rumit. Rumit karena jumlahnya baitnya lebih dari empat baris. Tiap bait haruslah memiliki 6 baris, 8, 10, atau 12, berapapun yang penting hitungan genap. Karena jumlah barisnya cukup banyak, sampiran dan isinya juga lebih dari tiga baris. Misal, jika sebuah puisi talibun memiliki delapan baris dalam satu bait, maka empat baris pertama adalah sampiran dan empat baris lainnya adalah isi. Pola persajakannya juga mengikuti jumlah baris. Jika enam baris, polanya a-b-c a-b-c, dan jika delapan baris, a-b-c-d, dan a-b-c-d.

Contoh Talibun

Poin Penting

Puisi lama bukanlah sebuah puisi pada masa lampau. Puisi lama adalah jenis puisi yang terikat pada aturan tertentu dan tidak membebaskan pengarangnya ketika membuat karya. Penyebutan puisi lama semata-mata untuk membedakan dengan puisi baru yang lebih bebas dan tidak terikat.

Karakteristik Puisi Lama | lookadmin | 4.5