Karakteristik dan Bentuk Multikulturalisme

Karakteristik dan Bentuk Multikulturalisme – Dalam multikulturalisme, setiap bentuk keragaman dan keunikan budaya dihargai serta diberikan peluang untuk berkembang. Bagaimanakah karakteristik dari multikulturalisme? Bagaimanakah bentuk-bentuk multikulturalisme? Mari simak bahasan berikut.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai karakteristik dan bentuk multikulturalisme.

A. KARAKTERISTIK MULTIKULTURALISME

Salah satu negara yang hingga kini masih berjuang demi menegakkan prinsip multikulturalisme adalah Indonesia. Masyarakat multikultural Indonesia adalah sebuah masyarakat yang berdasarkan pada ideologi multikulturalisme atau Bhinneka Tunggal Ika yang multikultural, melandasi corak struktur masyarakat Indonesia pada tingkat nasional dan lokal.
Dalam konteks Indonesia, corak masyarakat Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika bukan lagi hanya berkutat pada keanekaragaman suku bangsa, melainkan keanekaragaman kebudayaan yang ada dalam masyarakat Indonesia. Acuan utama bagi terwujudnya masyarakat Indonesia yang multikultural adalah multikulturalisme, yaitu sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan, baik secara individual maupun secara kebudayaan. Multikulturalisme hanya bisa berkembang bila didukung oleh adanya toleransi dan kesediaan untuk saling menghargai.
Untuk mewujudkan dan mengembangkan masyarakat multikutural, ada beberapa karakteristik yang harus dimiliki, di antaranya :
a) Sarat kemajemukan. Namun, dalam masyarakat multikultural, masing-masing budaya bersifat otonom.
b) Masyarakat multikultural dalam perkembangannya akan bersinggungan dengan konsep hidup bersama, untuk mencari kehidupan bersama.
c) Adanya semangat untuk hidup berdampingan secara damai (peaceful coexistence) dalam perbedaan kultur yang ada baik secara individual maupun secara kelompok dan masyarakat.
d) Konflik yang muncul sebagai dampak dari kemajemukan, transformasi, dan reformasi sosial dapat dikelola secara cerdas. Berpegang teguh pada nilai toleransi, yakni sikap sabar membiarkan perbedaan, sehingga konflik dapat dicegah atau selesai dengan sendirinya.
e) Dikembangkannya toleransi, saling memahami, dan menghargai perbedaan yang ada.
f) Masyarakat yang bermoral, bersikap demokratis, dan mengembangkan empati terhadap satu sama lain. Mampu menghargai diri sendiri dan orang lain dari berbagai latar belakang berbeda.
g) Terkait dengan upaya pencapaian civility (keadaban), yang amat esensial bagi terwujudnya demokrasi yang berkeadaban, dan keadaban yang demokratis.
h) Proses pembelajaran nilai, pengetahuan, dan keterampilan hidup dalam masyarakat yang multikultural berlangsung sebagai bagian dari keseharian anggota masyarakat.

B. BENTUK-BENTUK MULTIKULTURALISME

Bhikhu Parekh (2012) membedakan sejumlah bentuk multikulturalisme yang tidak mutlak berdiri sendiri, tetapi dapat saja tumpang tindih satu dengan lainnya dalam segi-segi tertentu, yaitu :
1) Multikulturalisme Isolasionis
Yang mengacu kepada masyarakat di mana berbagai kelompok kultural menjalankan hidup secara otonom dan terlibat dalam interaksi seminimal mungkin satu sama lain. Contohnya adalah masyarakat yang ada pada sistem ‘millet’ di Turki Usmani atau masyarakat ‘Amish’ di Amerika Serikat. Kelompok-kelompok ini menerima keragaman, tetapi pada saat yang sama berusaha mempertahankan budaya mereka secara terpisah dari masyarakat lain pada umumnya.
2) Multikulturalisme Akomodatif
Masyarakat plural, yang memiliki kultur dominan, membuat penyesuaian dan akomodasi-akomodasi tertentu bagi kebutuhan kultural kaum minoritas. Model ‘multikulturalisme akomodatif’ ini dapat ditemukan di Inggris, Perancis, dan beberapa negara Eropa lain.
3) Multikulturalisme Otonomis
Masyarakat plural di mana kelompok-kelompok kultural utama berusaha mewujudkan kesetaraan (equality) dengan budaya dominan dan menginginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara kolektif dapat diterima. Pokok perhatian utama kelompok-kelompok kultural ini adalah untuk mempertahankan cara hidup mereka, yang memiliki hak yang sama dengan kelompok dominan. Jenis multikulturalisme didukung misalnya oleh kelompok Quebecois di Kanada, dan kelompok-kelompok Muslim imigran di Eropa, yang menuntut untuk dapat menerapkan syari`ah, mengirim anak-anak mereka ke sekolah Islam, mengenakan hijab, dan sebagainya.
4) Multikulturalisme Kritikal
Masyarakat plural di mana kelompok-kelompok kultural tidak terlalu peduli dengan kehidupan kultural otonom, tetapi lebih menuntut penciptaan kultur kolektif yang mencerminkan dan menegaskan ragam perspektif khas dari masing-masing kelompok.
5) Multikulturalisme Kosmopolitan
Berusaha menghapuskan batas-batas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat di mana setiap individu tidak lagi terikat dan berkomitmen kepada budaya tertentu dan sebaliknya, secara bebas terlibat dalam hubungan-hubungan antar budaya.

RANGKUMAN

1) Untuk mewujudkan dan mengembangkan masyarakat multikutural, ada beberapa karakteristik yang harus dimiliki oleh seluruh anggota masyarakat.
2) Bhikhu Parekh (2012) membedakan sejumlah bentuk multikulturalisme yang tidak mutlak berdiri sendiri, tetapi dapat saja tumpang tindih satu dengan lainnya dalam segi-segi tertentu, yaitu Multikulturalisme Isolasionis, Multikulturalisme Akomodatif, Multikulturalisme Otonomis, Multikulturalisme Kritikal, dan Multikulturalisme Kosmopolitan.

Karakteristik dan Bentuk Multikulturalisme | lookadmin | 4.5