Karakteristik Angkatan Balai Pustaka

Advertisement

Karakteristik Angkatan Balai Pustaka – Siswa mampu menemukan perbedaan karakteristik angkatan melalui membaca karya sastra yang dianggap penting pada setiap periode.

Apakah kalian pernah menonton film “Siti Nurbaya” atau sering mendengar istilah “Aku bukan Siti Nurbaya” yang dikaitkan dengan perjodohan? Siti Nurbaya adalah roman karya Marah Rusli, penyair Indonesia. Beliau dikenal sebagai penyair Angkatan Balai Pustaka. Nah, pada topik kali ini, kalian akan diajak mengetahui lebih banyak lagi tentang Angkatan Balai Pustaka.

Asal Mula Berdirinya Balai Pustaka

Pada akhir abad ke-19 pemerintah banyak membuka sekolah bumi putra, dengan tujuan untuk mendidik pegawai-pegawai rendahan yang dibutuhkan oleh pemerintah Belanda. Akan tetapi, sekolah-sekolah yang tidak diharapkan akan tumbuh dan berkembang, justru berkembang makin pesat, banyak masyarakat yang pandai membaca dan menulis. Melihat minat masyarakat yang pesat dalam hal membaca, maka pemerintah Belanda merasa khawatir jika rakyat sempat membaca buku-buku dari luar negeri.

Oleh karena itu, pemerintah Belanda kemudian membentuk sebuah komisi yang diberi nama Commissie Voor de Inlandsche School en Volksslectuur (Komisi untuk Bacaan Rakyat dan Sekolah-Sekolah Bumi Putra). Komisi ini dibentuk pada tanggal 14 September 1908 di bawah pimpinan Dr. G.A.J. Hazeu. Pada tahun 1917 namanya diganti menjadi Balai Pustaka, dan Balai Pustaka kemudian berkembang dengan pesat.

Adapun hal-hal yang diusahakan oleh Balai Pustaka adalah sebagai berikut.
1) Membukukan cerita-cerita rakyat atau dongeng-dongeng yang tersebar di kalangan rakyat. Jika tidak dibukukan, lama-kelamaan akan hilang.
2) Menerjemahkan sastra Eropa yang bermutu dipandang dari segi sastra. Dengan demikian, kita juga dapat berkenalan dengan kesusastraan asing.
3) Menerbitkan buku-buku bacaan sehat bagi rakyat Indonesia, juga buku-buku yang dapat menambah pengetahuan dan kecerdasan rakyat. Misalnya, buku-buku yang berisi petunjuk bagaimana menjaga kesehatan, cara bercocok tanam, beternak, dan sebagainya.

Bagi perkembangan kesusastraan Indonesia, berdirinya Balai Pustaka memberikan kesempatan dan kemungkinan kepada rakyat Indonesia untuk berkarya sekaligus memperoleh bacaan sehat. Balai Pustaka telah memberikan dorongan maju dalam bidang karang mengarang atau tulis-menulis. Dari sinilah kemudian muncul pengarang-pengarang yang kemudian kita kenal sebagai pelopor Angkatan Balai Pustaka, seperti Nur Sutan Iskandar, Marah Rusli, Abdul Muis dan sebagainya.

Karakteristik Sastra Balai Pustaka

Sastra Balai Pustaka lahir sekitar tahun 20-an, di mana kehidupan masyarakat kita dalam masa penjajahan. Di bawah penindasan kaum penjajah, masyarakat kita memiliki sikap, cita-cita, dan adat istiadat yang isinya memberontak. Hal tersebut disebabkan oleh dalam kehidupan mereka selalu diwarnai peristiwa-peristiwa sosial dan budaya yang sengaja diciptakan oleh pihak penjajah, yakni pemerintah Belanda. Hal inilah yang menjadi ciri atau karakteristik sastra pada masa itu. Umumnya karakteristik sastra suatu periode dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu: (1) situasi dan kondisi masyarakat, (2) sikap hidup dan cita-cita para pengarang, dan (3) sikap dan persyaratan yang ditentukan oleh penguasa atau pemerintah.

Bertolak dari hal-hal tersebut di atas, karakteristik sastra Angkatan Balai Pustaka adalah sebagai berikut.
(1) Bahasa sastra adalah bahasa Indonesia masa permulaan perkembangan, yang disebut bahasa Melayu Umum;
(2) Sastra Balai Pustaka umumnya bertema masalah kawin paksa atau tema adat masyarakat (terutama kaum ibu) beranggapan bahwa perkawinan urusan orang tua. Orang tua memiliki kekuasaan mutlak dalam menentukan jodoh anaknya.
(3). Latar belakang sosial karyanya berupa pertentangan kaum muda dan kaum tua dalam hal adat istiadat. Contohnya, Salah Asuhan.
(4). Tokoh dalam roman/novelnya masih bersifat kedaerahan, belum kukuhnya nasionalisme.
(5). Bersifat didaktis.
(6). Genre sastra berbentuk novel atau roman, puisi masih berbentuk pantun dan syair.

Poin Penting

Angkatan Balai Pustaka dikenal sebagai angkatan pembangkit karena lahir pada masa kebangkitan sastra yaitu tahun 1920.

Advertisement
Karakteristik Angkatan Balai Pustaka | lookadmin | 4.5