Close Klik 2x

Karakteristik Angkatan 66

Advertisement

Karakteristik Angkatan 66 – Siswa mampu menemukan perbedaan karakteristik angkatan melalui membaca karya sastra yang dianggap penting pada setiap periode.

Tujuan
Siswa memahami karakteristik Angkatan 66.

Pada topik-topik sebelumnya, kalian sudah mengetahui karakteristik sastra angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, dan Angkatan 45. Setiap angkatan memiliki karakteristik sendiri yang bergantung pada keadaan sosial, budaya dan politik saat itu. Pada kali ini, kalian akan mengetahui karakteristik angkatan 66.

Latar Belakang Munculnya Angkatan 66

Perbedaan-perbedaan pandangan mengenai seni dan sastra yang berpangkal pada perbedaan-perbedaan politik, sudah sejak lama kelihatan dalam dunia sastra Indonesia. Pada awal tahun 50-an terjadi polemik yang seru antara orang-orang yang membela hak hidup angkatan 45 dengan orang-orang yang mengatakan ”Angkatan 45 sudah mati” yang berpangkal pada suatu sikap politik.

Para seniman muda tidak mau mengelompokkan diri dalam kelompok seniman untuk menyamakan persepsi. Semangat yang dimiliki seniman Angkatan 45 tidak mereka warisi dan mereka tidak menghayati revolusi fisik dengan baik. Seniman muda ini lebih memfokuskan diri pada menulis cerpen, puisi, dan naskah drama.

Periode 50 bukan saja sebagai pengekor Angkatan 45, tetapi sudah merupakan penyelamat setelah melalui masa-masa kegoncangan.
Ciri-ciri periode 50-an ini antara lain:
1. Pusat kegiatan sastra telah meluas keseluruh pelosok Indonesia, tidak hanya berpusat di Jakarta atau Yogyakarta saja.
2. Kebudayaan daerah lebih banyak diungkapkan demi mencapai perwujudan sastra Nasional Indonesia.
3. Penilaian keindahan dalam sastra tidak lagi didasarkan pada perasaan kepada perasaan dan ukuran Nasional.

Pada tahun 1959, merupakan tahun yang membawa perubahan dalam dunia kesusastraan sebagai imbas dunia politik. Tujuan sastra pada mulanya mengangkat harkat dan martabat manusia dalam kehidupan yang memiliki nilai-nilai kebebasan dan kemerdekaan. Pada tahun ini sastrawan ingin mengembangkan karya sastranya, dilain pihak tekanan-tekanan partai politik yang mulai mengendalikan pemuda Indonesia sehingga muncul PKI, LEKRA, LKN, LESBUMI, HSBI, LESBI dan lain sebagainya.

Akhirnya Manikebu menjadi konsep sikap dan kepentingan dan kepentingan mereka sebagai angkatan dalam kesustraan yang kemudian dikenal dengan angkatan 66. Setelah bangkitnya Orde Baru, tahun 1966, maka, Manikebu sebagai konsepsi Angkatan Kesusastraan terbaru, dijadikan landasan ideal Angkatan 1966.

Isi Manikebu antara lain:
1. Kami para seniman cendikiawan Indonesia dengan ini mengumumkan sebuah manifes kebudayaan yang menyatakan pendirian, cita-cita politik kebudayaan kami.
2. Bagi kami kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan kondisi kehidupan manusia. Kami tidak mengutamakan salah satu sektor kebudayaan lain. Setiap sektor perjuangan bersama- sama untuk kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya.
3. Dalam melaksanakan kebudayaan nasional, kami berusaha mencipta dengan kesungguhan yang sejujur-jujurnya sebagai perjuangan untuk mempertahankan dan mengembangkan martabat diri kami sebagai bangsa indonesia ditengah-tengah masyarakat dunia.
4. Pancasila adalah falsafah kebudayaan kami.

Tiga dasar konsepsi angkatan 66 itu adalah :
1. Manifes kebudayaan itu sendiri.
2. Teks penjelasan Manifes Kebudayaan.
3. Sejarah lahir kebudayaan.

Ciri-ciri Angkatan 66
1. Mulai dikenal gaya epik (bercerita) pada puisi (muncul puisi-puisi balada)
2. Puisinya menggambarkan kemuraman (batin) hidup yang menderita
3. Prosanya menggambarkan masalah kemasyarakatan, misalnya tentang perekonomian yang buruk, pengangguran, dan kemiskinan
4. Cerita dengan latar perang dalam prosa mulai berkurang, dan pertentangan dalam politik pemerintahan lebih banyak mengemuka
5. Banyak terdapat penggunaan gaya retorik dan slogan dalam puisi
6. Muncul puisi mantra dan prosa surealisme (absurd) pada awal tahun 1970-an yang banyak berisi tentang kritik sosial dan kesewenang-wenangan terhadap kaum lemah
7. Sesuai dengan sejarah nasional, tema utama dalam Angkatan 66 adalah perlawanan terhadap tirani pemerintah orde lama, misalnya sajak-sajak demonstrasi dari Taufiq Ismail, Mansur Samin, Slamet Kirnanto, Bur Rasuanto, dsb. Khusus Taufiq Ismail, sajak-sajak demonstrasi tersebut terkumpul dalan Tirani dan Benteng yang kemudian dikumpulkan menjadi Tirani dan Benteng (Rosidi, 1983: 168-9).
8. Kehidupan pedesaan dan daerah mulai digarap, misalnya novel Pulang karya Toha Mochtar, Penakluk Ujung Dunia karya Bokor Hutasuhut, dsb.

Sastrawan Manifes Kebudayaan diantaranya adalah sebagai berikut.
1. A.A. Navis
2. Ajip Rosidi
3. Arifin C. Noer
4. Goenawan Mohamad
5. Hartojo Andangdjaja
6. Indonesia O’Galelano
7. Isma Sawitri
8. J.E. Siahaan
9. Mansur Samin
10. Motinggo Boesje
11. N.H. Dini
12. Nugroho Notosusanto
13. Piek Ardijanto Suprijadi
14. Ramadan K.H.
15. Ras Siregar
16. S.M. Ardan
17. S.N. Ratmana
18. Sapardi Djoko Damono
19. Trisnojuwono
20. Umar Kayam
21. W.S. Rendra

Karakteristik Angkatan 66 | lookadmin | 4.5