Identifikasi Ciri-Ciri Puisi

Identifikasi Ciri-Ciri Puisi – Siswa mampu mengidentifikasi ciri-ciri puisi.

Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang unik. Mengapa puisi dikatakan unik? Puisi memiliki kekhasan dari segi bentuk dan bahasa. Bagaimana kekhasan yang terdapat di dalam puisi? Untuk mengetahuinya, perhatikan ciri-ciri yang terdapat di dalam puisi berikut ini!
1) Diksi
Diksi adalah kata-kata yang digunakan oleh penyair untuk menyampaikan pesan dan perasaannya di dalam puisi. Memilih kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan dan imaji penyair tidaklah mudah. Kata-kata yang dipilih adalah kata-kata yang indah, susunan katanya enak didengar, dan memiliki makna yang dalam. Terkadang penyair memilih kata-kata yang mengandung simbol atau majas untuk mengekspresikan maksudnya di dalam puisi. Apa itu majas? Majas adalah kata-kata yang mengandung kiasan. Di dalam bahasa Indonesia terdapat banyak majas. Berikut ini adalah beberapa majas yang sering digunakan dalam puisi.

A. Majas Perbandingan

  • Metafora, yakni membandingkan dua objek secara langsung tanpa menggunakan pembanding.
    Contoh:
    Raja siang memancarkan kekuatan cahayanya.
  • Simile, yakni majas yang membandingkan dua objek berlainan, tetapi dianggap sama, dengan menggunakan bantuan kata, seperti bak, seperti, ibarat, umpama, dan laksana.
    Contoh:
    Terdengar batu itu menjerit bak mengantarkan mimpi petani
  • Personifikasi, yakni majas yang menggambarkan benda-benda mati seolah-olah memiliki sifat seperti manusia.
    Contoh:
    Awan menangis mengucurkan air mata kesedihan bagi umat manusia

B. Majas Pertentangan

  • Hiperbola¸ yakni majas yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan.
    Contoh:
    Suaranya memukau hingga terdengar ke seluruh penjuru dunia
  • Litotes, yakni majas yang menyatakan sesuatu lebih rendah daripada sebenarnya, dengan maksud untuk merendahkan hati.
    Contoh:
    Ini gubuk kami
  • Ironi, yakni majas yang menyatakan makna bertentangan dengan maksud mengolok-olok¸ tetapi menggunakan kata-kata yang halus.
    Contoh:
    Bahagia sekali rakyat Indonesia menerima kenyataan pemimpin-pemimpinya banyak yang terlibat korupsi

C. Majas Pertautan

  • Sinekdoke pars pro toto, yakni majas yang menyebutkan nama sebagian sebagai pengganti nama keseluruhan.
    Contoh:
    Lihatlah ratusan ekor ternak mati karena kelaparan!
  • Sinekdoke totem pro parte, yakni majas yang menyebutkan nama keseluruhan sebagai pengganti nama sebagian.
    Contoh:
    Masyarakat dan pemerintah bahu membahu mengatasi kemerosotan moral yang terjadi di kalangan remaja.

D. Majas Perulangan

  • Paralelisme, yakni kata yang terdapat dalam puisi. Bila perulangan kata terjadi di awal kalimat dinamakan anafora, sedangkan jika perulangannya terjadi di akhir disebut epifora.
    Contoh:
    Ikut mata buta, ikut hati mati (anafora)
    Muda gugur¸ putik pun gugur (epifora)
  • Repetisi, yakni pemakaian serangkaian kata dengan cara berulang-ulang.
    Contoh:
    …di kampung itu ia lahir, di kampung itu juga ia dibesarkan, dan di kampung itu juga ia berjuang sampai titik darah penghabisan
  • Tautologi, yakni penggunaan kata secara berulang dengan menggunakan sinonim dari kata tersebut.
    Contoh:
    ia tidak saya inginkan, ia juga tidak saya harapkan

2) Wujud Puisi
Wujud puisi adalah bentuk puisi berdasarkan bait dan baris. Dalam puisi lama, jumlah bait dan baris sangat terikat aturan. Contohnya pantun (salah satu dari puisi lama) terdiri atas empat baris dalam satu bait, sedangkan dalam puisi modern, baris dan bait tidak terikat pada aturan karena semuanya tergantung pada keinginan penyair.

3) Pola Bunyi (Rima)
Pola bunyi atau rima adalah penataan bunyi yang dapat dilihat pada setiap baris, atau pun bait. Dalam sebuah puisi biasanya ada variasi dalam pola bunyi, yaitu sebagai berikut.

  • Asonansi adalah rima atau pengulangan bunyi vokal dalam deretan kata.
    Contoh:
    dalam pilu mengharu
    hatiku membeku sendu
  • Aliterasi adalah rima atau pengulangan bunyi konsonan dalam deretan kata.
    Contoh:
    Melati mewangi di taman hati
    Tawarkan tawa dan canda pada sunyi
  • Rima sempurna adalah persamaan atau pengulangan bunyi pada seluruh suku kata akhir; rima yang bunyi vokal dan konsonan yang mengikutinya sama. Contoh:
    Langit mendung
    Mewarnai jiwa yang murung

4) Irama (Ritme)
Irama atau ritme adalah nada atau pergantian suara yang digunakan pada saat pembacaan puisi. Irama ini bertujuan memengaruhi ketertarikan pembaca dan pendengar puisi. Selain itu, irama ini juga bertujuan agar pendengar dan pembaca dapat lebih menghayati isi puisi. Irama yang terdapat dalam pembacaan puisi adalah keras-lembut, tinggi-rendah, dan panjang-pendek.

5) Pertautan Antarbaris dan Antarbait
Puisi harus memiliki pertautan antarbaris dan antarbait agar isi puisi dapat mudah dipahami dan bersifat logis. Hal itu juga dimaksudkan agar tema dan amanat yang ingin disampaikan kepada pendengar dan pembaca puisi dapat mudah dipahami. Oleh karena itu, sang penyair tidak bisa sembarangan menggunakan untaian kata.

6) Makna Puisi
Setiap puisi pastilah memiliki makna. Makna itu merupakan jiwa dari keseluruhan aspek puisi. Makna inilah yang sebenarnya ingin disampaikan kepada pembaca atau pendengar puisi. Terkadang pembaca dan pendengar puisi memiliki interpretasi yang berbeda-beda terhadap makna yang terkandung di dalam puisi. Oleh karena itu, pembaca dan pendengar puisi perlu mengkaji dan mehaminya lebih mendalam.

Poin Penting

1) Puisi adalah sebuah karya sastra yang unik karena memiliki kekhasan dalam bentuk dan bahasa.
2) Bentuk dan bahasa puisi berbeda dengan karya sastra lainnya. Hal yang membedakan puisi dengan karya sastra lainnya adalah adanya beberapa ciri yang terdapat di dalamnya, yaitu sebagai berikut.

  • Diksi
  • Wujud Puisi
  • Pola Bunyi (Rima)
  • Irama (ritme)
  • Pertautan Antarbaris dan Antarbait
  • Makna Puisi

3) Penyair sering menggunakan kata-kata yang mengandung kiasan atau majas pada puisinya untuk memperindah atau memperkuat pengemasan pesan yang ingin disampaikan dalam karyanya.

Identifikasi Ciri-Ciri Puisi | lookadmin | 4.5