Homologi dan Sistem Evolusi

Advertisement

Homologi dan Sistem Evolusi – Pada topik sebelumnya, kalian sudah mempelajari Petunjuk-Petunjuk Evolusi. Masih ingatkah kalian dengan materi itu? Masih ingat jugakah dengan salah satu bahasannya yang menguatkan terjadinya proses evolusi itu yaitu homologi? Harus ingat! Sebab pada topik ini kalian akan kembali mempelajarinya secara mendalam. Yuk pelajari lebih jauh tentang homologi! Tak hanya homologi, pada topik ini, kalian juga akan belajar mengenai sistem evolusi. Sudah siap? Mari kita pelajari bersama-sama.

A. Homologi

Homologi adalah kejadian struktur tubuh suatu makhluk hidup yang satu mempunyai asal-usul yang sama dengan struktur tubuh makhluk hidup yang lain. Sekali pun fungsinya berbeda, asalkan asal-usulnya sama, dua atau lebih struktur tubuh makhluk hidup tersebut disebut homolog.
Homologi terbagi menjadi tiga bentuk, yaitu morfologik homologi, ontogenik homologi, dan juga molekular homologi. Morfologik homologi adalah homologi yang dilihat berdasarkan kesamaan anatomi dan morfologi tubuh. Ontogenik homologi adalah homologi yang dilihat berdasarkan kesamaan perkembangan embrio. Sementara molekular homologi adalah homologi yang dilihat berdasarkan kesamaan DNA, RNA, dan juga protein.

Contoh-contoh dari organ-organ homolog.
– Sirip lumba-lumba, sayap burung, kaki kucing, dan lengan manusia.
– Tulang ekor manusia dan tulang ekor monyet.
– Kaki siput, tentakel cumi-cumi, dan kaki kerang.
– Tulang leher jerapah, tulang leher paus, dan tulang leher manusia.
– Panggul manusia, panggul anjing, dan panggul kucing.
– Tulang pendengaran mamalia, tulang rahang reptil, dan tulang rahang ikan.

        Belajar mengenai homologi akan menggiring kita pada sebuah bentuk family trees dari segala jenis makhluk hidup. Family trees ini menggambarkan kekerabatan dari makhluk hidup yang ada di dalamnya yang disebut sebagai filogeni. Bagi para ahli evolusi, filogeni merupakan bentuk representasi dari proses evolusi.

B. Sistem Evolusi

Sistem evolusi mengacu pada mekanisme evolusi. Mekanisme ini terdiri atas variasi genetika, seleksi alam, adaptasi, dan juga spesiasi.

1. Variasi Genetika

Variasi genetika atau variasi genetis bisa diartikan sebagai keanekaragaman makhluk hidup di tingkat gen. Variasi ini terjadi akibat dua hal, yaitu mutasi gen dan rekombinasi gen. Mutasi gen adalah suatu peristiwa perubahan struktur genetik yang mengakibatkan perubahan sifat pada organisme. Sementara rekombinasi gen adalah pertukaran dan penyatuan berbagai macam gen yang berbeda akibat perkawinan.
Variasi genetis akibat mutasi dan rekombinasi bisa bersifat positif atau pun negatif. Positif diartikan sebagai sifat baru yang menguntungkan bagi manusia, sedangkan negatif diartikan sebagai sifat yang merugikan bagi manusia. Contoh variasi genetis yang menguntungkan adalah munculnya sifat manis pada mangga akibat persilangan dua pohon mangga yang asam. Sementara contoh variasi genetis yang merugikan adalah lahirnya organisme yang cacat secara fisik.

2. Seleksi Alam

Evolusi dapat terjadi karena adanya seleksi alam. Seperti konsep dasar dari banyak teori evolusi, seleksi alam membuat makhluk hidup yang kuat akan terus bertahan dan makhluk hidup yang lemah akan menjadi punah.

3. Adaptasi

Adaptasi adalah kemampuan makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kemampuan beradaptasi dapat membuat makhluk hidup bertahan hidup menghadapi tekanan lingkungan. Kemampuan ini juga yang menentukan setiap individu untuk lolos dari seleksi alam.
Adaptasi ada banyak macamnya. Ada adaptasi morfologi, adaptasi fisiologi, adaptasi behavioral (tingkah laku), dan adaptasi koevolusi.
  Adaptasi morfologi adalah penyesuaian bentuk organ tubuh organisme dengan kebutuhan organisme tersebut untuk bertahan hidup. Beraneka macam bentuk gigi hewan yang menyesuaikan diri terhadap makanannya merupakan contoh dari bentuk adaptasi morfologi.
Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian fungsi tubuh organisme terhadap kondisi lingkungan sekitarnya. Contoh adaptasi fisiologi adalah hibernasi yang dilakukan oleh hewan-hewan di daerah yang memiliki musim dingin.
Adaptasi behavioral atau adaptasi tingkah laku adalah cara adaptasi makhluk hidup dengan menyesuaikan tingkah laku atau perilakunya terhadap lingkungan. Contoh adaptasi behavioral dapat kita lihat pada bunglon yang mengubah warna kulitnya sesuai dengan warna lingkungan sekitarnya untuk menyembunyikan diri terhadap pemangsanya.
Adaptasi koevolusi berbeda dengan jenis adaptasi lainnya. Adaptasi koevolusi melibatkan sedikitnya dua spesies yang saling menyesuaikan diri satu sama lain. Adaptasi koevolusi terjadi pada dua spesies yang melakukan simbiosis mutualisme, seperti lebah dan bunga. Lebah memiliki tipe mulut yang cocok untuk mengisap nektar bunga sebagai bahan makanannya, sedangkan bunga memiliki serbuk sari yang dapat menempel pada tubuh lebah sehingga memungkinkan terjadinya penyerbukan pada saat lebah hinggap pada bunga lain yang sama spesiesnya.

4. Spesiasi

Spesies adalah kelompok organisme yang anggotanya memiliki kemampuan untuk saling mengawini dan menghasilkan keturunan yang fertil. Anggota-anggota spesies yang sama umumnya memiliki ciri khas anatomis yang serupa. Spesiasi sendiri adalah proses pembentukan spesies.
Menurut evolusi, spesiasi terbentuk dari suatu populasi yang terpisah menjadi dua populasi yang berbeda. Tekanan lingkungan yang berbeda menyebabkan kedua populasi tersebut beradaptasi dengan cara masing-masing dan akhirnya menjadi dua spesies yang berbeda. Contoh organisme hasil spesiasi misalnya adalah burung finch di Kepulauan Galapagos.

Advertisement
Homologi dan Sistem Evolusi | lookadmin | 4.5