Erosi dan Faktor Penyebabnya

Erosi dan Faktor Penyebabnya – Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai erosi dan faktor penyebabnya.

EROSI DAN FAKTOR PENYEBABNYA

Di Indonesia, masalah erosi telah mendapat perhatian tersendiri, sejalan dengan meningkatnya keperluan lahan untuk pertanian maupun non-pertanian. Apakah yang dimaksud dengan erosi? Apakah yang menyebabkan terjadinya erosi? Mari simak bahasan berikut.

Erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah dari satu tempat ke tempat lain oleh media alami, yaitu air atau angin. Dengan kondisi iklim di Indonesia yang termasuk ‘tropika basah’ dengan curah hujan tahunan rata-rata lebih dari 1.500 mm serta topografi berbukit dan bergunung, maka potensi erosi yang disebabkan oleh tenaga air sangatlah besar.

Di mana pun pasti akan terjadi erosi. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana caranya agar erosi tak melebihi batas tertentu, sehingga tidak menyebabkan kerugian. Adapun faktor-faktor yang mendorong terjadinya erosi adalah:

a) Adanya curah hujan yang tinggi atau adanya angin yang bertiup kencang,
b) Adanya tempat terbuka atau permukaan bumi yang tidak tertutup vegetasi (tanah gundul),
c) Topografi yang berbukit dan bergunung/lereng curam, serta
d) Penggunaan lahan yang tak terencana dengan baik dan tidak ada usaha konservasi tanah.

Berdasarkan intensitasnya, erosi dibedakan menjadi:

• Erosi alami atau erosi geologi
Erosi alami adalah proses penghanyutan tanah atau batuan di permukaan tanah oleh tenaga angin atau air dalam keadaan alami, dimana pengaruh iklim, vegetasi, topografi, dan tanah seperti adanya dan terdapat pengaruh dari aktivitas manusia. Intensitas erosi ini relatif rendah, sehingga tidak merusak lingkungan.

• Erosi normal
Disebut erosi normal jika laju erosi yang terjadi pada suatu bidang lahan yang sudah dimanfaatkan oleh manusia dan tidak melebihi laju pembentukan tanah.

• Erosi dipercepat (erosi tanah)
Erosi dipercepat terjadi apabila laju erosi lebih besar dari laju pertumbuhan tanah. Jadi, intensitasnya jauh lebih besar daripada erosi alami atau erosi normal. Erosi ini terjadi akibat adanya aktivitas manusia maupun binatang.

Sedangkan berdasarkan faktor penggerak butiran-butiran tanah, maka erosi dapat dibedakan atas:

1) Proses erosi oleh air hujan
Erosi ini terjadi karena air hujan, yakni sejak tetes hujan memukul dan memecah tanah, hingga membentuk aliran air. Dengan kata lain, dari aliran perluapan, limpasan (run off), sampai aliran sungai.
Ada lima macam proses erosi oleh air hujan dan aliran sungai, yaitu:

• Erosi percik (splash erosion), adalah berpindahnya sebagian material tanah akibat percikan air hujan. Erosi ini ditandai dengan adanya material tanah yang menempel pada daun atau batang tumbuhan yang tumbuh dekat permukaan tanah.

• Erosi lembar (sheet erosion), adalah pengangkutan lapisan (dalam Geologi, tanah juga merupakan batuan) yang merata tebalnya dari suatu permukaan bidang tanah, disebabkan oleh kekuatan aliran air di permukaan tanah (surface run off) yang mengalir merata di permukaan.

• Erosi alur (rill erosion), terjadi karena air terkonsentrasi mengalir pada tempat-tempat tertentu di permukaan tanah, sehingga pemindahan tanah lebih banyak terjadi pada tempat tersebut.

• Erosi parit (gully erosion), yang proses terjadinya sama dengan erosi alur, atau sebagai proses lanjutan dari erosi alur, sehingga saluran yang terbentuk lebih lebar dan dalam. Akibatnya, parit ini tidak dapat dihilangkan dengan pengolahan tanah biasa. Pada tanah liat, umumnya lembah berbentuk V (bentuk U pada tanah mudah lepas) dengan lebar 40 cm dan kedalaman sekitar 25 cm. Pada lingkungan bermaterial rapuh atau lepas, kedalamannya bahkan dapat mencapai belasan meter.

• Erosi tebing sungai, terjadi karena pengikisan tebing oleh air yang mengalir dari atas tebing, atau oleh terjangan arus air kuat pada kelokan sungai. Pengikisan hasil pengerjaan aliran air ini berupa parit, lembah sungai, dan ngarai.

2) Proses erosi oleh angin
Erosi ini disebabkan oleh angin. Biasanya terjadi di daerah gurun pasir. Di daerah tropis basah, erosi ini jarang terjadi. Lazimnya hasil dari erosi angin menghasilkan endapan pasir di tempat lain yang dinamakan gumuk pasir (sand dune).

3) Proses erosi oleh glasial
Erosi glasial terjadi karena adanya es mencair yang melewati tanah relatif luas. Ini mengakibatkan terkikisnya tanah oleh gerakan es tersebut. Biasanya, hasil dari erosi ini membentuk fjord (perbukitan memanjang dan berulang yang khas pada daerah dingin).

Erosi berakibat kerusakan tanah berupa hilangnya lapisan tanah bagian atas yang kaya unsur hara dan bahan organik sehingga menyebabkan lahan kritis. Munculnya lahan kritis (akibat erosi) lebih banyak dipicu oleh faktor manusia yang tidak tepat dalam mengelola lahan, seperti pembukaan hutan untuk dijadikan ladang namun tak dikelola dengan baik sehingga terjadi penggundulan hutan.

Gejala penting yang merupakan dampak dari erosi tanah terh¬adap kehidupan di antaranya:

• Terjadinya tanah longsor, tanah amblas, tanah mengalir, lumpur mengalir, dan rayapan tanah,
• Terjadinya kekeringan,
• Terjadinya banjir,
• Degradasi lahan,
• Berkurangnya sumber air,
• Hilangnya kesuburan tanah karena proses pencucian tanah, serta
• Terjadinya masalah sosial, seperti kemiskinan dan kelaparan.

RANGKUMAN

1) Erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah dari satu tempat ke tempat lain oleh media alami, yaitu air atau angin.

2) Dengan kondisi iklim di Indonesia yang termasuk ‘tropika basah’ dengan curah hujan tahunan rata-rata lebih dari 1.500 mm serta topografi berbukit dan bergunung, maka potensi erosi yang disebabkan oleh tenaga air sangatlah besar.

Erosi dan Faktor Penyebabnya | lookadmin | 4.5