Close Klik 2x

Deskripsi Objek dalam Larik yang Puitis

Advertisement

Deskripsi Objek dalam Larik yang Puitis – Siswa mampu mendeskripsikan objek dalam larik yang puitis.

Kamu suka membaca puisi? Ingin bisa menulis puisi? Yuk, kita pelajari bersama langkah membuat sebuah puisi yang bagus! Tentunya kamu sudah mempelajari tentang ciri-ciri puisi, bukan? Mari mengingat kembali apa saja ciri-ciri puisi!

  1. Puisi adalah sastra tulis yang dapat juga dilisankan.
  2. Puisi memiliki larik atau disebut juga baris kata, frasa, dan kalimat.
  3. Puisi tidak terikat jumlah baris, irama, dan rima.
  4. Puisi biasanya berisi kehidupan dan pengetahuan yang dirasakan si pengarang.

Mari perkaya kosakata bahasa Indonesia agar memperoleh diksi yang sesuai dengan tema puisi. Satu kata bisa saja memiliki sinonim lebih dari satu. Kata gugur, misalnya, bersinonim dengan rontok, luruh, dan jatuh. Dalam konteks yang lain, katagugur bisa juga bersinonim dengan mati, meninggal, wafat, dan mampus.

Untuk menyusun sebuah puisi, ada beberapa variasi permainan bunyi (sajak) yang bisa kamu gunakan, yaitu sebagai berikut.

1) Asonansi dan Aliterasi

  • Asonansi adalah persamaan bunyi vokal pada kata-kata dalam puisi.

Contoh:
Mengunjungi rumah kami di malam hari
Kesiur angin menerpa nestapa

  • Aliterasi adalah persamaan bunyi konsonan pada kata-kata dalam puisi.

Contoh:
bersama kail dan jala-jala usang terkembang.

Tertawalah sepuas hati dan bergembiralah

2) Rima Awal, Rima Tengah, dan Rima Akhir

  • Rima awal adalah persamaan bunyi di awal kata.

Contoh:
Laut merengkuh kami, menelanjangi dosa kami

Laut menyayangi kami, para nelayan
yang mengabdikan nyawa tanpa kata

Nah, bisa kamu cermati, bukan? Ada persamaan bunyi awalan me- pada kata merengkuh, menelanjangi, menyayangi, dan mengabdikan.

  • Rima tengah adalah persamaan bunyi di tengah larik/baris.

Contoh:
Jika aku seorang pujangga
maka aku tulis sebuah syair
Jika aku seorang kelana
maka aku ucap seuntai zikir

Ada persamaan bunyi aku di tengah-tengah larik.

  • Rima akhir adalah persamaan bunyi di akhir kata.

Contoh:
Laut tak pernah menunggu
Laut tak tersedu
Laut membisu

Kesiur angin menerpa nestapa
Wajah indahnya tak lagi tersapa

Ada persamaan bunyi u pada kata menunggu, tersedu, dan membisu. Terdapat juga persamaan bunyi –pa pada kata nestapa dan tersapa.

Rima awal, rima tengah, dan rima akhir dapat terletak pada larik/baris yang berbeda, tetapi bisa juga terdapat pada baris yang sama.

Deskripsi Objek dalam Larik yang Puitis

Mari menyusun sebuah puisi dengan melakukan pengamatan terlebih dahulu pada sebuah objek! Objek adalah sesuatu yang dapat kita lihat dan amati di kehidupan sehari-hari. Semua hal hampir dapat dijadikan sebagai objek puisi. Mulai dari hal terkecil sejak bangun pagi hingga menjelang tidur. Di mana pun kamu dapat menemukan objek puisi, misalnya di rumah, di jalanan, di taman, di sekolah, maupun di tempat keramaian.

Objek yang dijadikan sebuah puisi tentunya harus bermakna dan indah. Bermakna yaitu memiliki arti yang dalam, yang merupakan hasil penghayatan dan pemikiran. Indah artinya menggunakan kata-kata yang terpilih.

Di sekeliling kita banyak objek yang bisa kita jadikan sumber ide puisi. Pengamatan dimulai dari hal yang paling sederhana, bisa orang di sekitar, benda hidup, benda mati, keindahan alam, bencana alam, atau peristiwa sedih, bahagia, cinta, dan peristiwa lain yang pernah dialami.

Setelah diamati, objek tersebut didata sesuai kenyataan dan hal-hal yang berkaitan dengan objek tersebut. Gunakan perasaan dan imajinasi kalian untuk memudahkan memperoleh data dari objek.

Perhatikan Contoh

1) Objek yang diamati : Ayah
2) Data yang berkaitan :

  • Seseorang yang tegar dan dibanggakan oleh keluarga;
  • Sosok seorang ayah adalah pemimpin keluarga;
  • Seorang ayah terlihat tidak pernah menangis, padahal mungkin dalam hatinya kadang ada rasa sedih;
  • Ayah adalah tulang punggung keluarga, orang yang mencari nafkah;
  • Seorang ayah terkadang kurang dirindukan dibandingkan dengan ibu

Baik, kita sudah mendapatkan objek beserta datanya. Langkah selanjutnya yaitu mendeskripsikan objek tersebut ke dalam larik-larik (baris-baris) puisi. Larik-larik tersebut haruslah bersifat puitis. Puitis adalah menggunakan diksi atau pilihan kata yang sesuai sehingga menimbulkan irama bunyi tertentu (persajakan).

Sebagai contoh, objek Ayah dengan data terkait yang sudah ada tersebut bisa kamu rangkai menjadi larik-larik puisi seperti berikut.

Mudah, bukan? Kamu bisa mengembangkan lagi dari objek lain yang ada di sekitarmu.

Poin Penting

  1. Tentukan objek yang akan kamu gunakan untuk membuat puisi! Kumpulkan data-data yang berkaitan dengan objek tersebut!
  2. Deskripsikan objek sesuai data-data yang sudah kamu kumpulkan!
  3. Gunakan diksi (kata yang tepat) agar memperoleh efek permainan bunyi/persajakan!
  4. Asonansi adalah persamaan bunyi vokal pada kata-kata dalam puisi.
  5. Aliterasi adalah persamaan bunyi konsonan pada kata-kata dalam puisi.
  6. Rima awal adalah persamaan bunyi di awal kata.
  7. Rima akhir adalah persamaan bunyi di akhir kata.
  8. Rima awal dan rima akhir dapat terletak pada larik/baris yang berbeda, tetapi bisa juga terdapat pada baris yang sama.
Deskripsi Objek dalam Larik yang Puitis | lookadmin | 4.5