Close Klik 2x

Ciri-Ciri Sastra Melayu Klasik

Advertisement

Ciri-Ciri Sastra Melayu Klasik – Siswa mampu mengidentifikasi karakteristik dan struktur unsur intrinsik sastra melayu klasik.

Tujuan:
Siswa dapat mengidentifikasi karakteristik dan struktur unsur intrinsik sastra melayu klasik.

Karya sastra terbagi menjadi dua yaitu karya sastra lama dan karya sastra baru. Karya sastra lama terbagi lagi menjadi puisi lama dan prosa lama. Pada materi kali ini kita akan mempelajari prosa lama. Dikatakan prosa lama karena isi ceritanya lahir dari cerita lisan yang turun-menurun ke masyarakat lewat cerita dari mulut ke mulut sehingga tidak diketahui pengarangnya (anonim), bersifat khayal, temanya seputar kehidupan istana (istana sentris), bahasannya tetap (klise), dan ceritanya tidak berkembang (statis). Karena prosa lama lahir ketika bangsa kita masih mendapat pengaruh budaya melayu yang kental, tak heran jika bahasa yang dipakai adalah bahasa melayu. Maka sastra melayu klasik disebut juga sastra lama.

Sastra melayu klasik terbagi dalam beberapa bentuk yaitu legenda, fabel, mithe, sage, hikayat, tambo/ sejarah, cerita pelipur lara, cerita berbingkai, epos/ kepahlawanan, dan parable/ dongeng jenaka. Sekarang kita akan mempelajari apa saja ciri-ciri sastra melayu klasik.

Mari kita amati kutipan cerita di bawah ini!

HIKAYAT RAJA-RAJA PASAI
Pada suatu hari, Sultan Malik as-Saleh pergi bermain-main berburu dengan segala laskarnya ke tepi laut. Dibawanya seekor anjing perburuan bernama si Pasai itu. Tatkala sampailah Baginda itu ke tepi laut, disuruhnya lepaskan anjing perburuan itu. Lalu, ia masuklah ke dalam hutan yang di tepi laut itu. Bertemu ia dengan seekor pelanduk duduk di atas pada suatu tanah yang tinggi. Disalaknya oleh anjing itu, hendak ditangkapnya. Tatkala dilihat oleh pelanduk anjing itu mendapatkan dia, disalaknya anjing itu oleh pelanduk. Anjing itupun undurlah. Tatkala dilihat pelanduk, anjing itu undur, lalu pelanduk kembali pula pada tempatnya. Dilihat oleh anjing, pelanduk itu kembali pada tempatnya..

Didapatkannya pelanduk itu oleh anjing, lalu ia berdakap-dakapan kira-kira tujuh kali. Heranlah Baginda melihat hal kelakuan anjing dengan pelanduk itu. Masuklah Baginda sendirinya hendak menangkap pelanduk itu ke atas tanah tinggi itu. Pelanduk pun lari; didakapnya juga oleh anjing itu. Sabda Baginda kepada segala orang yang ada bersama-sama dengan dia itu: “Adakah pernahnya kamu melihat pelanduk yang gagah sebagai ini? Pada bicaraku sebab karena ia diam pada tempat ini, itulah rupanya, maka pelanduk itu menjadi gagah”.

Sembah mereka itu sekalian: “Sebenarnyalah seperti sabda Yang Maha Mulia itu”. Pikirlah Baginda itu: “Baik tempat ini kuperbuat negeri anakku Sultan Malik at-Tahir kerajaan”. Sultan Malik as- Salehpun kembalilah ke istananya. Pada keesokan harinya Bagindapun memberi titah kepada segala menteri dan hulubalang rakyat tentera, sekalian menyuruh menebas tanah akan tempat negeri, masing-masing pada kuasanya dan disuruh Baginda perbuat istana pada tempat tanah tinggi itu.

Sultan Malik as-Salehpun pikir di dalam hatinya, hendak berbuat negeri tempat ananda Baginda. Titah Sultan Malik as-Saleh pada segala orang besar: “Esok hari kita hendak pergi berburu”. Telah pagi-pagi hari, Sultan Malik as-Salehpun berangkat naik gajah yang bernama Perma Dewana. Lalu berjalan ke seberang datang ke pantai. Anjing yang bernama si Pasai itupun menyalak. Sultan Malik as-Salehpun segera mendapatkan anjing itu. Dilihatnya, yang disalaknya itu tanah tinggi, sekira-kira seluas tempat istana dengan kelengkapan, terlalu amat baik, seperti tempat ditambak rupanya.

Oleh Sultan Malik as-Saleh tanah tinggi itu disuruh oleh Baginda tebas. Diperbuatnya negeri kepada tempat itu dan diperbuatnya istana. Dinamainya Pasai menurut nama anjing itu. Ananda Baginda Sultan Malik at-Tahir dirayakan oleh Baginda di Pasai itu. …
Sumber: Bunga Rampai Melayu Kuno, 1952 (dengan penyesuaian ejaan)

Bila kita perhatikan hikayat di atas, ciri-ciri hikayat yang nampak ialah sebagai berikut.
1. Bersifat khayal
Perhatikan paragraf ke-2 dan ke-4. Bila kita amati paragraf-paragraf tersebut, terlihat bahwa hikayat ini menjadi sesuatu yang mustahil dan di luar nalar karena tidak mungkin seorang raja begitu mudahnya mendirikan kerajaan dan memperluas daerah kekuasaan hanya berdasarkan insting seekor anjing.

2. Temanya seputar kehidupan istana (istana sentris)
Sultan Malik as-Saleh pergi bermain-main berburu dengan segala laskarnya ke tepi laut. Dibawanya seekor anjing perburuan bernama si Pasai itu.

Menceritakan kehidupan seorang raja yang kegemarannya berburu dan ketika berburu dikawal oleh pengawalnya.

3. Bahasannya tetap (klise)
Pada suatu hari, Esok hari

Memakai kata pembuka pada setiap cerita yaitu pada suatu hari, esok hari, sedangkan prosa baru tidak selalu memakai kata pembuka pada awal cerita.

Ciri-ciri sastra melayu klasik, secara lengkap, adalah sebagai berikut.
1. Lisan, disampaikan dari mulut ke mulut
2. Istana sentris, karya sastrawan bersumber dari kehidupan istana atau raja-raja.
3. Bersifat klise, menggunakan bahasa yang sama
4. Nama pengarangnya tidak diketahui (Anonim)
5. Bersifat prologis, mempunyai logika tersendiri yang tidak sesuai dengan logika umum
6. Fantastis (khayal)
7. Statis, ceritanya tidak berkembang
8. Tidak berangka tahun

Poin Penting

Prosa lama disebut juga melayu klasik. Jenis prosa lama:
a. legenda : asal-usul tempat
b. fable : cerita binatang
c. mithe : cerita tentang sesuatu yang gaib atau dewa-dewi
d. sage : cerita yang mengandung unsur sejarah
e. hikayat : cerita panjang yang tidak masuk akal
f. tambo/ sejarah
g. cerita pelipur lara
h. cerita berbingkai : cerita dalam sebuah cerita
i. epos/ kepahlawanan
j. parable/ dongeng jenaka

Ciri-Ciri Sastra Melayu Klasik | lookadmin | 4.5