Close Klik 2x

Ciri-Ciri Puisi Baru

Advertisement

Ciri-Ciri Puisi Baru – Siswa dapat mengenal ciri-ciri puisi baru serta siswa bisa membedakannya dengan jenis puisi lama.

Pada pelajaran sebelumnya, diketahui bahwa puisi terdiri dari puisi lama dan puisi baru. Perbedaan antara keduanya adalah pada ciri-ciri yang melekat pada puisi tersebut. Puisi lama dapat diketahui dengan ciri-cirinya secara umum, yakni pengarang puisi jarang diketahui, bersifat sastra lisan, puisinya terikat aturan tertentu (rima, baris, dan jumlah suku kata), bergaya bahasa esoferik, dan cenderung istana sentris.

Lantas, bagaimana dengan puisi baru?

Istilah puisi baru mengacu pada jenis puisi yang tidak terikat oleh aturan-aturan yang melekat pada puisi lama. Puisi baru justru terbebas dengan aturan yang ada. Tidak ada aturan tentang rima atau jumlah suku kata. Puisi baru juga tidak terikat dengan jumlah baris dan bait.

Meskipun terkesan bebas, puisi memiliki beberapa ciri umum yang membuatnya bisa disebut sebagai puisi, dan bukan cerpen maupun drama. Ada pun, ciri-ciri umumnya adalah sebagai berikut.

1. Pengarang tidak Anonim

Ciri paling mencolok dari puisi baru adalah pengarangnya yang teridentifikasi. Meskipun puisi lama juga sebagian ada yang menuliskan nama pengarangnya, namun puisi lama kebanyakan tidak diketahui pengarangnya karena karyanya bersifat turun-temurun.

Pengarang puisi baru justru diketahui karena puisi baru cenderung menunjukan pikiran, ide, atau pandangan dari pengarangnya terhadap kondisi sosial yang terjadi. Contoh pengarang puisi baru adalah Chariril Anwar, Amir Hamzah, Sapardi Djoko Damono, Sutardji C. Bahri.

2. Puisi Baru Bersifat Tulisan

Puisi lama berkembang karena penceritaan dari mulut ke mulut secara turun-temurun (produk budaya lisan). Sementara puisi baru dikenal karena puisi tersebut tertulis pada buku dan media cetak. Pengarang-pengarang puisi pun dikenal karena karya mereka termuat dalam buku kumpulan ataupun media cetak yang memuat rubrik puisi para pengarang.

3. Gaya Bahasa

Puisi baru menggunakan gaya bahasa sebebasnya. Pengarang bebas menuangkan gaya bahasanya sendiri tanpa harus memuat kata-kata yang cenderung fantastis seperti pada puisi lama. Meskipun demikian, keindahan tetap diperhatikan. Karena itulah, puisi baru lebih variatif, baik bentuk dan bahasa yang digunakannya. Beberapa contoh gaya bahasa puisi yang tampak berbeda misalnya, gaya bahasa puisi Chairil Anwar yang berbeda dengan puisi Sapardi maupun Sutardji.

Puisi Chairil Anwar

DOA

Kepada Pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerlip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tak bisa berpaling

Puisi Sapardi Djoko Damono

ANGIN, 1

angin yang diciptakan untuk senantiasa bergerak dari sudut ke
sudut dunia ini pernah pada suatu hari berhenti ketika mendengar
suara nabi kita Adam menyapa istrinya untuk pertama kali, “hei
siapa ini yang mendadak di depanku?”

angin itu tersentak kembali ketika kemudian terdengar jerit wanita
untuk pertama kali, sejak itu ia terus bertiup tak pernah menoleh
lagi

— sampai pagi tadi:
ketika kau bagai terpesona sebab tiba-tiba merasa scorang diri di
tengah bising-bising ini tanpa Hawa

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982

Puisi Sutardji Calzoum Bachri

SEPISAUPI

sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi

sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul diri keranjang duri

sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyi

Dari contoh tersebut, terlihat bahwa puisi Chairil Anwar menggunakan gaya bahasa yang puitik, beberapa kiasan, dan lugas. Puisi Sapardi lebih terlihat menggunakan gaya bahasa sehari-hari bahkan puisinya cenderung bercerita. Puisi Sutardji Calzoum Bachri yang berjudul “SEPISAUPI” justru malah bermain dengan mengotak-ngatik kata. Puisi Sutardji umum disebut sebagai puisi mbeling.

Beberapa pengarang lainnya juga memiliki gaya bahasa puisnya masing-masing. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ada beberapa pengarang yang memang terisnpirasi atau terpengaruh oleh gaya bahasa puisi pengarang sebelumnya.

4. Tanpa Aturan Tertentu

Puisi baru tidak terikat pada pola persajakan, misalnya bunyi bait tertentu harus sama dengan bunyi bait lainnya. Puisi baru juga tidak terikat pada jumlah kata dalam tiap barisnya. Tidak ada pula aturan tentang jumlah baris dalam tiap baris.

Meskipun demikian, ada juga pengarang puisi baru ada yang tetap memperhatikan pola empat baris dalam satu bait. Beberapa pengarang juga ada yang tetap memerhatikan irama atau bunyi yang sama. Contoh jelasnya adalah puisi-puisi karya Amir Hamzah yang banyak terpengaruh oleh Syair. Berikut salah satu petikan karya Amir Hamzah yang berjudul “ASTANA RELA”.

Tiada bersua dalam dunia
tiada mengapa hatiku sayang
tiada dunia tempat selama
layangkan angan meninggi awan

Jangan percaya hembusan cedera
berkata tiada hanya dunia
tilikkan tajam mata kepala
sungkumkan sujud hati sanubari

5. Padat Makna

Puisi baru umumnya disajikan dengan kata-kata konotasi. Penggunaan kata-kata konotasi ini bertujuan agar pembaca bisa menganalisis maksudnya atau menghubungkan dengan satu hal. Banyaknya konotasi dalam puisi baru membuatnya menjadi padat makna. Namun, ada juga puisi baru yang menggunakan kata yang lebih jelas, tetap tidak mengurangi bobot maknanya.

6. Puisi Baru sebagai Suara Pengarangnya

Tidak dipungkiri, puisi baru memang pada dasarnya adalah buah pemikiran dari pengarangnya. Karena itu, puisi seringkali digunakan pengarang untuk menyampaikan isi pikiran, perasaan, bahkan digunakan sebagai bentuk protes sosial atau protes keadaan tertentu. Contoh puisi yang menggambarkan keadaan misalnya puisi Taufiq Ismail berikut ini.

TAKUT 66, TAKUT 98

Mahasiswa takut pada dosen
Dosen takut pada dekan
Dekan takut pada rektor
Rektor takut pada menteri
Menteri takut pada presiden
Presiden takut pada mahasiswa

1998

Puisi tersebut merupakan cerminan yang terjadi di Indonesia ketika tragedi tahun 1966 yang sama persis dengan tahun 1988. Selain puisi tersebut, ada juga puisi berjudul “Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia” karya W. S. Rendra. Puisi tersebut juga mencerminkan kondisi Indonesia pada tahun 1998. Puisi-puisi Chariil Anwar juga merupakan keresahan Chairil pada zamannya akan kondisi yang menimpa dia pada saat itu.

Puisi baru tentu menunjukan bahwa puisi tidak lagi jadi bahan untuk bercerita sebuah kisah tertentu. Puisi baru juga tidak menjadi hiburan humor layaknya pantun. Puisi baru justru hadir sebagai buah pemikiran pengarangnya akan keresahan yang menimpa dirinya terhadap dirinya, orang-orang di sekitar, bahkan untuk negaranya sendiri.

Perbedaan Puisi Lama dan Puisi Baru

Menilik ciri-ciri puisi lama dan puisi baru, dapat disimpulkan perbedaannya, yaitu sebagai berikut.

Poin Penting

  1. Puisi baru merupakan jenis puisi yang jelas nama pengarangnya. Puisi baru termuat dalam media cetak.
  2. Puisi baru memiliki gaya bahasa bebas dan variatif, disajikan dengan kata-kata konotasi, tidak terikat pada aturan rima, irama, suku kata, dan jumlah baris. Meskipun bersifat bebas, puisi baru yang padat makna.
  3. Puisi baru banyak bercerita tentang kondisi sosial pada saat puisi dibuat. Puisinya lebih banyak mengutarakan pikiran, suara hati, atau ide dari para pengarangnya.
Advertisement
Ciri-Ciri Puisi Baru | lookadmin | 4.5